27 Tahun Jual Mie Bekas, Halim Divonis Percobaan

27 Tahun Jual Mie Bekas, Halim Divonis Percobaan

Potretkota.com - Cendrahady Hermanto Halim sudah bisa bernafas dengan lega. Pria yang didakwa atas Pasal 62 ayat (1) jo Pasal 8 ayat (3) UU RI No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, oleh Ketua Majelis Hakim Saparudin hanya divonis percobaan.

Menurut hakim Saparudin, alasan divonis percobaan karena Cendrahady Hermanto Halim saat memproduksi dan menjalankan usaha Mie Bekas, sudah mengajukan perizinan ke pemerintah. “Saat itu terdakawa sudah mengurus izin, namun belum keluar,” katanya, di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (22/5/2018).

Atas pertimbangannya, hakim Saparudin hanya menjatuhkan vonis hukuman percobaan kepada terdakwa. “Menjatuhkan hukuman pidana selama 6 bulan penjara, dengan masa percobaan selama satu tahun,” terangnya,

Usai menjatuhkan putusan, hakim Saparudin lantas mewanti-wanti agar terdakwa tidak melanggar hukum. “Bapak divonis percobaan. Jadi bapak jangan melakukan tindak pidana lagi selama satu tahun. Kalau melakukan tindak pidana apapun, maka bapak akan ditahan,” tegasnya.

Mendengar hal tersebut, Jaksa Nining Dwi Ariany, yang sebelumnya menuntut terdakwa Cendrahady Hermanto Halim dengan hukuman 1 tahun penjara tidak ada perlawanan dan tidak bisa berbuat apa-apa

Dalam perkara No 512/Pid.Sus/2018/PN SBY dijelaskan, Cendrahady Hermanto Halim merupakan pemilik UD Sudi Mampir yang tinggal di Lebak Jaya 3C Utara Surabaya sejak tahun 1990 sampai 2017, sudah emperdagangkan makanan bekas tanpa ada izin dari pihak yang berwenang. Selama 27 tahun beroperasi, kasus ini baru dibongkar anggota Ditreskrimsus Polda Jatim.

Dari hasil penyidikan, diperoleh bukti jika UD Sudi Mampir milik Cendrahady telah memproduksi makanan ringan atau snack ilegal. Polisi lalu menyita barang bukti diantaranya, 50 dus Mie Tek Tek, 10 dus Sport Mie, 60 dus pilus, 32 dus pcs Mie Anda, 12 dus Soyamie, 2 unit mesin packing, 1 unit mesin oven, 1 unit mesin molen, 10 sak bahan baku mie.

Bahan bakunya, baru-baru ini, sejak tahun 2013 didapat dari sales mie sedap dan pilus. Setelah mie avalan dibeli, kemudian diproses melalui penggilingan, lalu dimasukkan mesin oven dikeringkan supaya lebih renyah selama 30 menit untuk 45 kg mie, kemudian dibiarkan dingin selama 1 jam baru dicampur penyedap rasa lalu dikemas dalam plastik dan siap dijual.

Pada polisi, Cendrahady Hermanto Halim mengaku, hasil produksi setiap bulannya sekitar tiga ton snack yang diperdagangkan ke wilayah Kalimantan beromset puluhan juta rupiah. (Tio)

Penerbit Al-Qur'an Salah Tingal di Surabaya
6 Bulan Timpora Tangkap 27 WNA Bermasalah