36 Jam, 156 Tahanan Kuasai Rutan di Mako Brimob
Foto ilustrasi

Teroris Sandra dan Bunuh 5 Anggota Polri

36 Jam, 156 Tahanan Kuasai Rutan di Mako Brimob

Potretkota.com - Dianggap petugas jaga Rutan Salemba di komplek Markas Komando (Mako) Brimob tidak manusiawi, ratusan tahanan sebagian besar terpidana teroris ini mengamuk, Selasa (8/5/2018) malam. Akibat peristiwa ini, penjara yang berada di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat hingga 36 jam dikuasai teroris bersenjata, Kamis (10/5/2018).

Mabes Polri melalui Densus 88 berupaya melakukan penanggulangan. Hasilnya, salah satu sandra Bripka Iwan Sarjana dilepaskan napi teroris setelah mendapat jatah makanan. “Ada negosiasi,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto pada wartawan.

Mediasi dilakukan polisi dan narapidana teroris menggunakan hanphone. Pihak napi teroris yang melakukan negosiasi yakni, Wawan bukan terdakwa yang dituakan, teroris bom Thamrin Aman Abdurrahman alias Oman. “Cara negosiasinya macam-macam, kalau dulu kita lempar pakai kabel kasih telepon. Kalau sekarang kan ada hanphone, kasih hanphone," terang Setyo pada wartawan.

Selain sandra Bripka Iwan Sarjana, napi teroris juga melakukan penyandraan terhadap anggota polisi lainnya. “Saat ini (Rutan Brimob) masih dalam pengawasan kita," terang Setyo Wasisto didampingi Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen M Iqbal.

Untuk diketahui, diduga karena prosedur yang merugikan tahanan, ratusan napi teroris dari 3 blok (A, B dan C) brutal dan berhasil mengambil alih senjata api milik Polri, diantaranya laras panjang yang jarak tempuh 500-600 meter. 

Adanya perlawanan yang ada, informasinya 5 anggota Polri meninggal dunia. Mereka adalah Ipda Yui Rospuji Siswanto, Bripka Denny Setiadi, Bripda Wahyu Catur Pamungkas, Bripda Syukron Fadhli, dan Briptu Fandi Setio. Sedangkan narapidana terorisme yang tewas yakni, Benny Syamsu Tresno.

Tidak ingin berlarut, Wakapolri Komjen Pol Jenderal Polisi Syafruddin langsung turun tangan, dan memimpin operasi ini. Ia memastikan dalam proses penindakan tidak ada negosiasi sama sekali. “Ini penanggulangan, tidak ada negosiasi,” tegasnya, Kamis (10/5/2018).

Dalam jumpa persnya, Syafruddin mengaku saat memimpin operasi ini berakhir pukul 7.15 Wib hari ini. “Semua tahanan, sebagian besar 99 persen saya pastikan menyerahkan diri. Tidak ada penembakan, tapi sterilisasi,” tambahnya.

Menurut Syafruddin, pihaknya merasa terpukul karena kasus ini jadi perhatian nasional dan internasional. “Jadi kami meminta maaf kepada rakyat Indonesia, kepada keluarga anggota Polri luka-luka maupun yang gugur,” pungkasnya. (Hyu)

Sempat Hilang, Kini Keny Erviati Jadi Tersangka
Hari Lupus Sedunia, RSUD Dr. Soetomo Bentuk Kolucuya