AMKRI Dukung Harga Rokok Mahal

AMKRI Dukung Harga Rokok Mahal

Potretkota.com - Banyaknya korban penghisap rokok di Jawa Timur, membuat Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia (AMKRI) berkumpul dan mendesak pemerintah untuk segera membebaskan masyarakat dari bahaya konsumsi rokok.

Koordinator AMKRI Jakarta Helena Liswardi menjelaskan, korban rokok adalah saksi mata sekaligus bukti nyata sehingga ada efeknya dalam kehidupan, baik kesehatan, sosial dan keuangan. Namun ia ta bisa memaksa masyarakat yang tidak bisa berhenti merokok.

"Kami tidak bisa melarang orang tidak merokok, sebab itu bagian dari HAM. Kami hanya meminta agar pemerintah lebih peka terhadap kondisi sudah banyak korban sakit akibat rokok, baik yang pasif maupun aktif, dan pengendalian tembakau serta menaikan harga rokok," katanya, Minggu (22/7/2018), disalah satu Mall di Surabaya.

Alasan mendukung rokok mahal, dikarenakan dapat menyelamatkan generasi penerus bangsa. "Disamping rokok mengandung zat adiktif juga dapat menimbulkan kejaduan," tegasnya.

Sendana, korban rokok Budi(20) menceritakan, bahwa ia sudah merokok sejak duduk di bangku SMP. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan satu bungkus rokok, bahkan bisa lebih sehingga terkena kanker pita suara. Akibatnya, saat ini Budi mengalami suara serak dikarenakan pita suara rusak. Karena itu, saat bernafas melalui lubang di tenggorokan sehingga sulit untuk mencari pekerjaan. "Harga rokok harus mahal, agar tiada lagi korban (pelajar)," bebernya.

Untuk diketahui, jumlah perokok di Indonesia tahun 2016 mencapai 90 juta jiwa. Indonesia sendiri menempati urutan tertinggi prevalensi merokok bagi Iaki-Iaki di ASEAN yakni sebesar 67,4 persen.

Kenyataan ini diperparah bahwa perokok di Indonesia usianva semakin muda. Data Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak menunjukkan jumlah perokok anak di bawah umur 10 tahun di Indonesia mencapai 239.000 orang. 19,8% pertama kali mencoba rokok sebelum usia 10 tahun, dan hampir 88,696 pertama kali mencobanya di bawah usia 13 tahun.

Lebih miris lagi, sebanyak 84,8 juta jiwa perokok di Indonesia berpenghasilan kurang dari Rp20 ribu per hari. Perokok di Indonesia 70% di antaranya berasal dari kalangan keluarga miskin. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa pada bulan September 2016, rokok adalah komoditas yang menyumbang kemiskinan sebesar 10,70 persen di perkotaan dan pedesaan. (Tio)

Mengabdi 32 Tahun, Cleaning Service Naik Haji
Wali Murid dan Siswa SDN Tambak Langon Demo