Arum Sabil: Lahan Tebu Nasional Mengalami Penyusutan

Arum Sabil: Lahan Tebu Nasional Mengalami Penyusutan

Potretkota.com - Untuk menjamin pasokan bahan baku tebu tetap aman dikala kapasitas sejumlah Pabrik Gula (PG) tengah ditingkatkan, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI gencar memperluas area lahan tanaman tebu.

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Arum Sabil mengaku lahan tebu nasional telah mengalami penyusutan yang berakibat pada penurunan produksi gula. Sebelumnya pabrik-pabrik gula nasional mampu memproduksi gula rerata 2,5 juta ton/tahun tapi saat ini hanya mampu memproduksi gula nasional 2,1 juta ton/tahun.

“Penurunan produksi gula ini terjadi karena hasil tanaman tebu turun sampai 1 juta ton dan areal lahannya juga menyusut hingga 5.000 ha. Dulu luas lahan tanam tebu nasional mencapai 575.000 ha kini hanya tinggal 450.000 ha,” terang Arum Sabil.

Menurut Arum, penyusutan lahan tebu salah satunya dipengaruhi oleh faktor Harga Eceran Tertinggi (HET) gula Rp12.500/kg dan harga lelang di tingkat petani Rp9.100/kg yang kurang menarik bagi petani. Masalahnya, biaya taman tebu pun juga mahal ditambah lagi persoalan iklim basah yang berkepanjangan sehingga produktivitas tanaman tebu menurun.

“HET Rp12.500 itu harus dievaluasi karena sebenarnya rumus kebutuhan gula itu harus dihitung berdasarkan konsumsi per kapita. Kalau harga gula itu menarik, petani akan bergairah,” ujarnya.

Arum menjelaskan dengan kondisi rendemen tebu yang saat ini sekitar 7% dan maka seharusnya HPP petani atau harga lelang petani adalah Rp10.500/kg. Setidaknya, harga gula di tingkat petani yakni Rp15.000/kg dan di konsumen atau HET Rp17.500/kg.

“Harga Rp17.500 jangan dihitung mahal, ayo dihitung secara per kapita. Jangan sampai nanti seperti komoditas kedelai, dulu kedelai dihantam harga murah, setelah petani tidak mau menanam sekarang malah impor semua," katanya.

Ia menyebut, sangat tidak fair apabila harga gula disetarakan dengan harga beras yang secar akebutuhan per kapitanya berbeda. Konsumsi gula per kapita lebih sedikit dibandingkan konsumsi beras.

Arum menambahkan, selain masalah harga, menurunnya produktivitas tanaman tebu juga disebabkan oleh keterlambatan pupuk, di mana petani kerap kesulitan memperoleh pupuk, terutama pupuk subsidi.

“Di sini Negara harus hadir, misalnya kredit tepat waktu, tidak perlu iming-iming subsidi pupuk tapi tidak tepat waktu, juga tidak perlu memasukkan komponen subsidi dalam harga gula karena ada juga petani yang tidak pakai pupuk subsidi," imbuhnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PTPN XI M. Cholidi mengatakan wilayah Bali terutama di Kabupaten Buleleng dinilai cukup potensial untuk pengembangan lahan tebu. Di kawasan tersebut diperkirakan ada potensi lahan seluas 12.000 ha yang bisa ditanami tebu.

"Saat ini dalam tahap kelayakan studi, apakah di Bali layak untuk tanaman tebu. Namun kita juga jajaki lahan-lahan di Jawa," katanya seusai Rapat Evaluasi Giling 2017 dan Persiapan Giling 2018 bersama petani tebu rakyat di Surabaya, Senin (15/1/2018).

Hal serupa disampaikan Direktur Operasional PTPN XI Daniyanto. Diakui setidaknya dalam setiap klaster pabrik gula PTPN XI harus ada pengembangan lahan baik lahan baik lahan milik sendiri maupun dari petaninya.

Adapun di wilayah barat ditargetkan ada penambahan lahan 4.000 ha, di kawasan PG Semboro sitarget minimal pengembangan lahan 2.500 ha serta di pengembangan di wilayah timur ada pengembangan lahan hingga 3.000 ha guna memenuhi kebutuhan PG Wringinanom apabila kapasitas pabriknya sudah ditingkatkan.

"Pengembangan lahan tanam menjadi langkah yang tepat di saat produksi tebu berkurang, sementara kami juga sedang berupaya meningkatkan kapasitas pabrik seperti di PG Djatiroto yang akan jadi 10.000 TCD maupun di PG Assembagoes yang akan jadi 6.000 TCD," katanya.

Perluasan lahan tebu tersebut dinilai sangat perlu dilakukan, mengingat tahun ini saja perseroan menargetkan bisa menggiling tebu hingga 5 juta ton dan mampu memproduksi gula hingga 410.838 ton dengan target rendemen 8,05%.

Tahun lalu, produk gula PTPN XI hanya mampu mencapai 306.277 ton dengan rendemen 7,23%. Penurunan produksi gula tersebut tak lain disebabkan oleh menurunnya produksi tanaman tebu di kebun. Diketahui produksi tanaman tebu di PTPN XI pada 2017 hanya mencapai 4,2 juta ton atau turun dibandingkan produksi tebu pada 2016 yakni 5,1 juta ton. (Mat)

Pasar Jagalan PDPS Sekarat
Korban Penculikan Shakila Rachmanwati Diselamatkan