Jasmas 2016 Diduga Dikendalikan Calo

Jasmas 2016 Diduga Dikendalikan Calo

Potretkota.com - Belanja Hibah Jaringan Asprirasi Masyarakat (Jasmas) anggaran tahun 2016 yang tidak dapat diyakini kebenarannya, diduga dikendalikan oleh calo. Hal tersebut terkuak saat Potretkota.com, berada di Kelurahan Kali Kediding, Surabaya.

Suara yang beredar, bantuan Jasmas berupa sarana dan prasarana terop, kursi plastik, meja plastik, meja besi, sound system lengkap dan lampu di koordinir oleh Fr dan Ek. “Kedua adalah saudara kandung, bekerja pada Ag yang berkantor di daerah Pasar Atom,” terang sumber Potretkota.com, Selasa (27/3/2018).

Menurut sumber, Fr dan Ek saat itu mengikuti rapat pembahasan Jamsas 2016. "Pada saat rapat pembahasan Jasmas semua perwakilan kelurahan RT dan RW se Surabaya diundang, termasuk Keluaran Kali Kediding," pungkas sumber kepada Potretkota.com.

Sementara, Gito Ketua Lembaga Ketahanan Masyarakat Kelurahan (LKMK) Kali Kediding Surabaya membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, pihak RT dan RW sudah diperiksa oleh pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjung Perak Surabaya. “Sudah ada yang diperiksa,” singkatnya.

BACA JUGA: Soal Jasmas, Ashri Yuanita Haqie Disorot Kejaksaan

Seperti diketahui, baru-baru ini, Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjung Perak Surabaya melakukan penyelidikan dugaan korupsi uang Jaringan Asprirasi Masyarakat (Jasmas) anggaran tahun 2016, bernilai puluhan miliar rupiah.

Selain Kejari Tanjung Perak Surabaya, ternyata kasus Jasmas 2016 sudah menjadi perhatian penyidik Tindak Pidana Khusus Kejari Surabaya. Dugaan korupsi Jasmas 2016 sendiri dikoordinir oleh satu orang pengusaha yang berinisial ST, orang dekat anggota DPRD Kota Surabaya, berinisial D.

Pemeriksaan dikarenakan tahun 2016 Pemkot Surabaya menganggarkan belanja hibah sebesar Rp 267.632.969.713 dan terealisasi sebesar Rp 216.775.288.405, atau sebesar 80,99 persen. Dana hibah Rp 139.967.605.127, diberikan pada Pemerintah Kota Surabaya. Lainnya diberikan kepada masyarakat Surabaya, yakni Rp 127.665.364.586 dan terealisasi Rp 78.231.040.605.

Uang sebanyak itu, kemudian direalisasikan belanja hibah atas pembelian barang yang berupa terop, kursi plastik, meja plastik, meja besi, sound system lengkap dan lampu dari penyedia yang sama. Sayangnya, kualitas barang yang diterima, misalnya terop dan kursi plastik kondisinya kurang memuaskan, kualitas penyambungan meja besi dan pengecatan terkesan seadanya. Tak heran, jika uang senilai Rp 12.417.440.800 tidak sesuai ketentuan. (Tio)

Ada Penyusup di Kejurda Baseball-Softball Jatim
Gara-gara Band, Oky Natanael Dipenjara