Kepala Sekolah SMPN 54 Surabaya Tiba-tiba Hilang

Diduga Dalang Kasus UNBK

Kepala Sekolah SMPN 54 Surabaya Tiba-tiba Hilang

Potretkota.com - Terungkap, kasus pembobolan soal Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) ternyata Kepala Sekolah SMP Negeri 54 Surabaya, Keny Erviati. Hal ini disebut-sebut oleh sumber staf internal sekolahan negeri yang ada dikawasan Jalan Kyai Tambak Deres Surabaya.

"Sebetulnya kedua tersangka (IG dan IM) itu hanya suruhan. Semuanya perintah dari kepala sekolah. Dan kalau menolak, kepala sekolah pasti mengacam," kata salah satu sumber staf guru SMP Negeri 54 Surabaya, Rabu (2/5/2018).

Setelah kasus terdengar oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Keny Erviati menghilang begitu saja. "Sejak Jumat (27/4/2018) Bu Keny tiba-tiba menghilang tidak masuk sekolah," terang sumber Potretkota.com.

Sumber Potretkota.com juga menyebut, Keny Erviati ternyata juga pemilik LBB ESC (Excellent Study Club), Jl. Jolotundo Baru II No.4, Pacar Keling, Tambaksari, Surabaya. 

Saat Potretkota.com bertandang ke LBB ESC yang katanya juga tempat tinggal Keny Erviati, ternyata tertutup rapat. Banyak pelajar SD yang kebetulan ikut bimbingan belajar ditempat ini balik kanan. Infonya, Kepala Sekolah SMP Negeri 54 Surabaya yang dalam buruan Polrestabes Surabaya kini menginap di rumah orang tuangnya kawasan Sidoarjo.

Dono, Ketua RT setempat membenarkan jika Keny Erviati tinggal di LBB ESC. Menurutnya, ia tinggal bersama suami dan dua anaknya. "Mereka sudah menempati lebih dari 5 tahun," akunya, membenarkan saat ini telah dicari Kepolisian.

Menurut Dono, meski Keny Erviati lama tinggal di Jolotundo Baru II No.4 dan menjalankan usaha LBBnya, namun ibu dua anak ini tergolong tertutup. "Dilingkungan sekitar, Bu Keny tergolong orang yang kurang bermasyarakat," pungkasnya.

Seperti diketahui, kasus ini terbongkar setelah pihak Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya yang mengatasnamakan Kepala Bidang Pendidikan Menengah dan Kejuruan Dispendik Surabaya Sudarminto melaporkan ke Polrestabes Surabaya dugaan kecurangan bocornya soal UNBK, Kamis (26/4/2018) malam.

Tidak lama memeriksa saksi-saksi, Polrestabes Surabaya akhirnya menetapkan Imam alias IM (38) dan Teguh alias TG (45) staf SMP Negeri 54 Surabaya sebagai tersangka. Keduanya kemudian dijerat Pasal 46 jo Pasal 30 ayat (1) dan (2) UU RI Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI nomor 11 tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman hukuman penjara pidana kurungan 6 sampai 7 tahun penjara. (Tio)

Proyek Gedung Hukum Unair Rp 1,2 Miliar Asal Jadi
Pelayanan Dispendukcapil Hingga Pukul 21.00 WIB