Kepastian Mentan Nihil, 150 Ekor Sapi di NTB Kena PMK
Mentan Syahrul meninjau peternakan sapi di Gresik, Jatim.

Bojonegoro Tolak Sapi dari Luar Daerah

Kepastian Mentan Nihil, 150 Ekor Sapi di NTB Kena PMK

Potretkota.com - Menanggapi persoalan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengklaim pemerintah bisa mengendalikannya. Pernyataan tersebut ia sampaikan saat mendatangi peternakan sapi di Desa Sembung, Kecamatan Wringin Anom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Selasa lalu, (10/11/2022).

Dalam pernyataannya, Syahrul mengatakan, kematian hewan ternak akibat PMK masih di bawah 3 persen. Dari 2000 ekor ternak yang terjangkit PMK, hanya 33 ekor saja yang mati. Penyakit hewan ternak ini sendiri, menurutnya ditemukan di 4 kabupaten di Provinsi Jawa Timur, dan 2 kabupaten di Provinsi Aceh. Ia pun meminta setiap Kepala Daerah agar cepat tanggap.

"Sesuai instruksi Presiden, kami telah meminta para bupati melakukan pengendalian teknis, kemudian gubernur secara strategis, dan Kementerian Pertanian melakukan penguatan melalui segala upaya yang ada," katanya.

“Kami akan terus bekerja, kami lakukan langkah-langkah terpadu yang dapat meminalisir angka penyebaran, baik dengan isolasi, lockdown wilayah atau kandang, kita lakukan tracing, dan intervensi obat-obatan, dan secepatnya kami dapatkan serotype dari PMK ini dan kami dapat segera mungkin menghasilkan vaksinnya,” imbuh Syahrul.

Sementara itu, secara spesifik Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Nasrullah, di waktu dan tempat yang sama saat mendampingi Mentan Syahrul, ia memastikan PMK yang saat ini terdeteksi adalah termasuk yang paling ringan dan tidak ganas. Nasrullah menyebut dari hasil tes dan data yang ada, angka kematiannya cuma 1,1% dari total ternak yang terinfeksi.

“Alhamdullilah sampai hari ini kematian sangat rendah hanya sampai 1,1 persen saja akibat virus PMK ini. Sesuai data yang masuk hari ini (Selasa, 10/5) di Gresik akibat PMK ada sekitar 200 ekor yang terjangkit, mati 4 ekor dan sembuh 12 ekor, dan mudah-mudahan kita segera dapatkan sterotype virus ini, dan juga virus ini bukan yang ganas, kita melihat bahwa hewan dapat sembuh dengan diberikan vitamin,“ ungkap Nasrullah.

Di sisi lain, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro melalui Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan, Sugiarti Rahayu, meminta agar pasar hewan di wilayahnya menolak masuknya hewan ternak dari luar daerah. Hal ini untuk mengantisipasi masuknya PMK pada hewan ternak di Bojonegoro yang akhir-akhir ini merajalela di Jawa Timur. “Sapi yang dari luar daerah atau yang terkena PMK tidak boleh masuk di Kabupaten Bojonegoro,” tegasnya, Kamis (12/5/2022).

Hal yang sama juga dilakukan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan provinsi NTB, Khairul Akbar. Dalam upaya pencegahan terhadap masuknya wabah PMK, ia mengeluarkan surat edaran peningkatan kewaspadaan terhadap PMK kepada seluruh kabupaten dan kota di NTB, dengan melakukan pembatasan lalu lintas hewan ternak baik yang keluar maupun yang datang dari Jawa Timur.

“Ini dilakukan untuk menindaklanjuti surat dari Direktur Jenderal Peternakan dan kesehatan hewan, Kementerian pertanian RI Nomor 06005/PK.310/F/05/2022 tanggal 06 Mei 2022, perihal surat edaran peningkatan kewaspadaan terhadap penyakit mulut dan kuku (PMK) serta dengan mengamati tingginya arus lalu lintas hewan ternak dan produknya antar provinsi untuk mencukupi kebutuhan daging di NTB,” katanya.

Kendati berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah penyebaran PMK lebih meluas diberbagai daerah, hal mengkhawatirkan tetap saja terjadi. Sebanyak 150 ekor ternak sapi milik warga Desa Kelebuh, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat, mengalami gejala yang hampir sama dengan wabah PMK yang kini tengah merebak di provinsi Jawa Timur.

Sri Handayani, salah seorang peternak sapi di Desa Kelebuh mengatakan, sejumlah ternak sapinya memiliki gejala mulai kaki bengkak, lidah dan mulut mengeluarkan air liur. Ia baru mengetahui gejala yang dialami hewan ternaknya seminggu terakhir, yakni sejak Rabu, 4 Mei 2022. Sri juga mengaku tidak tahu apa yang menyebabkan hewan ternaknya mengalami gejala tersebut, dan tidak tahu harus berbuat apa.

“Ini sudah terjadi mulai hari Rabu (4/5) yang lalu sampai sekarang, tidak ada nafsu makan selama empat hari. Saya tidak tahu penyebabnya, ini karena tiba-tiba dan baru pertama kali seperti ini,” kata Sri.

Sementara itu, Japarudin peternak sapi juga di desa yang sama dengan Sri Handayani. Ia mengeluhkan hewan ternaknya juga mengalami gejala mulai kaki bengkak dan kuku terkelupas hingga mulut mengeluarkan busa. Japarudin juga mengaku baru mengetahui gejala tersebut sejak seminggu terakhir yang awalnya ia mengira sapi ternaknya terkena racun, sehingga dia memberikan air kelapa namun tidak mempan, bahkan penyakitnya menyebar ke sapi lain.

“Tidak ada nafsu makan akhirnya saya kasih minum air kelapa, saya kira terkena racun, tapi ternyata tidak mempan, awalnya satu yang kena dan tak lama kemudian menyebar ke sapi yang lainnya,” ungkapnya.

Terkait hal tersebut Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lombok Tengah melakukan pengecekan terhadap ternak sapi di desa setempat, dan memberikan obat antivirus, vitamin dan antibiotik sebagai penanganan awal. Dinas terkait juga telah mengambil 63 sempel sapi untuk dikirim ke laboratorium. Hasilnya, ratusan ternak sapi di wilayah Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) dinyatakan positif terserang virus PMK.

"Dinas Pertanian dan Peternakan Lombok Tengah telah menerima hasil sampel yang dikirim ke Laboratorium di Denpasar. Hasilnya positif PMK," kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah Lalu Taufikurahman di Praya, Kamis, (12/05/2022).

Lalu menyatakan, virus PMK sudah mulai meluas hingga di dua kecamatan. Sebelumnya, di Desa Kelebuh, Kecamatan Praya Tengah sebanyak 63 ekor, bertambah menjadi 150 ekor di Desa Puyung dan Desa Barejulat, Kecamatan Jonggat. Gejala yang dialami hampir sama, secara populasi ternak sapi itu suspek PMK. (Red)

Warga Dupak Lempar Mortir Aktif ke Jalan
Mendagri Tito Lantik Penjabat Gubernur Banten