Profesor Ubaya Hanya Dituntut 3 Bulan Penjara

Pelapor: Apa mungkin Jaksa salah ketik?

Profesor Ubaya Hanya Dituntut 3 Bulan Penjara

Potretkota.com - Guru besar Universitas Surabaya (Ubaya) Prof. Dr. Lanny Kusumawati Dra., S.H., M.Hum, oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Gusti Putu Karmawan dinyatakan bersalah melanggar Pasal 263 ayat (1) KUHP tentang pemalsuan dokumen. Meski ancaman hukuman maksimal 6 tahun, terdakwa hanya dituntut 3 bulan penjara.

“Menyatakan terdakwa (Lanny Kusumawati) bersalah melakukan tindak pidana dengan membuat surat palsu yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan utang. Menuntut terdakwa dengan hukuman tiga bulan penjara,” kata Karmawan di ruang Sari 2 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (5/7/2018).

Tuntutan ini diberikan karena Jaksa menilai terdakwa Lanny Kusumawati dalam keterangannya di persidangan berbelit-belit, terdakwa juga tidak merasa bersalah maupun menyesali perbuatannya.

Atas tuntutan ini, Bambang Supomo suami pelapor Suwarlina Linaksita menyatakan sangat kecewa. Tuntutan tiga bulan yang diajukan Jaksa pada terdakwa sangat tidak memenuhi rasa keadilan. Terlebih lagi, terdakwa juga berbelit belit dan tidak mau mengakui perbuatannya. “Aneh, lamanya tuntutan kok tidak sesuai dengan pertimbangan tuntutan. Apa mungkin Jaksa salah ketik ya? mau nulis tiga tahun jadi tiga bulan. Ada apa?,” herannya.

Sementara, kuasa hukum terdakwa, Alexander Arif menyatakan tuntutan yang sudah dibacakan tidak sesuai dengan fakta persidangan. “Kami akan mengajukan pledoi disidang pekan depan,” terangnya.

Untuk diketahui, Lanny Kusumawati ditetapkan sebagai tahanan kota oleh Jaksa sejak 27 Nopember-16 Desember 2017. Penahanan kota kemudian diperpanjang oleh Ketua PN Surabaya mulai 17 Desember 2017-15 Januari 2018. Kemudian terdakwa ditahan hakim mulai 9 Januari-7 Februari 2018. Namun, hingga saat ini, dosen Ubaya ini tidak pernah memakai rompi tahanan.

Dalam perkara No 41/Pid.B/2018/PN SBY, Lanny Kusumawati sendiri ditetapkan tersangka atas laporan Suwarlina Linaksita ke Polrestabes Surabaya. Dia dituding memberikan keterangan palsu pada akte otentik berupa cover notes dan kemudian surat keterangan perihal cover notes tersebut digunakan seseorang yang bernama Eka Ingwahjuniarti untuk mengeksekusi rumah dan tanah yang berlokasi di Jalan Kembang Jepun 29 Surabaya, yang ditempati pelapor sejak tahun 1931. (SA/Yon)

Bom Meledak di Bangil Pasuruan
Nobar Piala Dunia di Lapangan Futsal Asemrowo