RSUD Dr. M. Soewandhie Persulit Jenazah Pengamen

RSUD Dr. M. Soewandhie Persulit Jenazah Pengamen

Potretkota.com - Abdullah (43) warga Donorejo Gang Buntu kel Kapasan, Simokerto Surabaya ini kecewa terhadap pelayanan RSUD Dr. M. Soewandhie. Kekecewaan disampaikan lantaran jenazah keponakannya Zainal Arifin (22) sulit dibawa pulang kerumah duka.

Sulitnya jenazah untuk dibawa pulang bukan dari hal biaya, melainkan pihak RSUD Dr. M. Soewandhie, beralasan jenazah harus dilakukan pemeriksaan ahli Foresik di RSUD Dr Soetomo.

"Karena tidak ada saksi dalam kematiannya (jenazah Zainal Arifin), dan disini tidak ada ahli pemeriksaan jenazah (Forensik). Dan ahli Forensiknya ada di Dr Soetomo. Dan kami tidak bisa memberikan surat kematian pada jenazah, yang berhak adalah Dr Soetomo," dalih Dr Nova, saat dikonfirmasi Potretkota.com diruang IGD RSUD Dr. M. Soewandhie, Selasa (18/9/2018) malam.

Menurutnya, RSUD Dr. M. Soewandhie termasuk rumah sakit golongan type B tersebut wajar tidak memiliki ahli Forensik. "Ini rumah sakit (Dr Soewandhi) besar tapi tidak terbesar. Ini Rumah sakit kelas B," tambah Nova.

Ditempat terpisah, Hartono pihak Administrasi Forensik RSUD Dr Soetomo, menyatakan bahwa jenazah sangat tidak diharuskan dibawa ke rumah sakit milik Pemrov Jatim apabila pihak keluarga menolaknya.

"Memang ahli Forensik kewenangan dari Dr Soetomo, tapi kalau pihak keluarga menolak, jenazahnya engga usah dibawa sampai kesini (Dr Soetomo). Disini (Dr Soetomo) kan tujuannya hanya mengeluarkan surat kematian saja. Tapi kalau jenazahnya dibawa pulang atau dimakamnya dulu engga apa-apa, surat kematian bisa diurus menyusul lewat kelurahan," terang Hartono.

Perlu diketahui, Zainal Arifin tiba-tiba tidak sadarkan diri saat dalam kamar mandi rumah, Selasa (18/9/2018) sekitar pukul 19.00 Wib. Tak lama, pukul 20.20 Wib, pemuda yang setiap harinya bekerja sebagai pengamen ini dibawa ke RSUD Dr. M. Soewandhie. Setelah dilakukan pemeriksaan, oleh salah satu dokter yang bernama Okky, diketahui jika pasien sudah tidak bernafas lagi.

"Sama dokternya kemudian dirujuk ke Dr Soetomo. Lha saya bingung pasien sudah meninggal kok dibawa ke Dr Soetomo. Dan katanya dokter, pasien yang meninggal diwaktu perjalanan menuju RS Soewandhie harus dibawa ke Dr Soetomo. Keluarga kan tidak tau kalau Zainal Arifin meninggal diperjalanan. Kami sudah menolaknya untuk dirujuk ke Dr Soetomo, tapi kata dokternya harus dibawa kesana," beber Abdullah.

Karena haknya untuk membawa pulang jenazah tidak digubris pihak RSUD Dr. M. Soewandhie, Abdullah terpaksa menyetujuinya dirujuk ke RSUD Dr Soetomo. "Ribet sekali, ya saya pasrah saja, katanya sudah aturannya," keluh Abdullah.

Abdullah mengaku, adminitrasi RSUD Dr. M. Soewandhie Rp 125 ribu, sedangkan RSUD Dr Soetomo Rp 350 ribu. (SA)

Guru Honorer Menolak Pembatasan Usia CPNS
Kediri Tidak Mengajukan CPNS 2018