Saksi Guru SMPN 54 Surabaya Memilih Aman

Saksi Guru SMPN 54 Surabaya Memilih Aman

Potretkota.com - Agar persidangan jelas dan gamblang, Jaksa Yusuf Akbar dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjung Perak Surabaya, menghadirkan saksi perkara kebocoran UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) dari SMPN 54 Surabaya. Mereka adalah, Ngateno petugas bagian sarana dan prasarana, Luluk Wakil Kepala Sekolah sekaligus Ketua Kurikulum, Humas Ahmad Bernardo Zamzami dan Rahmadiaty sebagai guru kesiswaan.

Bukannya memberian kesaksian dalam perkara kebocoran UNBK, para guru ini sebagian malah curhat ke Ketua Majelis Hakim Sifa'urosiddin.

Luluk yang mengawali kesaksian di muka persidangan mengatakan, sebelum pelaksanaan UNKB sekolah punya agenda istighosah. “Di sela-sela istighosah, ada ketidak-sesuaian DNT (daftar nomor tetap). Saya langsung tanya ke (terdakwa) bu Kenny. Tapi jawaban (tersangka) Teguh dan Imam DNT ini dari pusat (Jakarta),” katanya, Senin (6/8/2018).

Berlangsungnya UNBK, Luluk dapat peran mengawasi kehadiran siswa. “Dari pengawasan yang saya dapat, ada informasi kalau siswanya kurang di salah satu ruang,” tambahnya, jika dihari ke empat, ia secara tiba-tiba kedatangan orang Dinas Pendidikan Pemkot Surabaya. Kedatangan Dinas Pendidikan, tak lain ingin mengambil handphone Kenny.

Ahmad Bernardo Zamzami dalam keterangannya, ia hanya bertugas menjemput siswa yang tidak hadir UNBK. “Cukup banyak siswa yang di jemput saat pelaksanaan UNBK, jadi saya tidak tahu persis permasalahan kebocoran UNBK,” dalihnya.

Sedangkan, Rahmadiaty di muka persidangan menyebut, sidak yang dilakukan Dinas Pendidikan Pemkot Surabaya berada di ruang bawah. Ia hanya mengetahui bahwa denah yang ditempel di pintu kelas tidak sama dengan DNT. “Selebihnya saya tidak mengetahui apa-apa,” ucapnya.

Lain halnya, Ngateno petugas bagian sarana dan prasarana memaparkan, ditemani terdakwa Imam dan Teguh, tugasnya hanya menjaga agar tidak ada masalah kelistrikan. “Setting komputer dan selanjutnya di serahkan sepenuhnya kepada kedua terdakwa (Imam dan Teguh),” paparnya.

Menurut Ngateno, sebelum Kenny menjabat Kepela Sekolah SMPN 54 Surabaya sempat ada konflik antara Kepala Sekolah yang lama dengan terdakwa yang dipicu gegara rencana terdakwa mengurai Guru Tidak Tetap (GTT).

“Teman teman GTT susah diatur karena GTT yang tak lain adalah keponakannya, adiknya, anaknya bapak yang lama (Kepsek yang lama). Dengan adanya konflik ini sebenarnya sudah di mediasi orang Dinas Pendidkan dengan harapan akan diurai, namun nyatanya sampai menjelang UNBK teman-teman GTT tidak diurai malah merecoki kinerja terdakwa. Sebelum diurai malah muncul perkara ini, engga tahu motifnya apa?,” urai Ngateno.

Sementara, Galang Foordem sebagai pengacara Imam Setiono kepada Potretkota.com mengaku, saksi yang dihadirkan Jaksa tidak ada hubungannya dengan sidang. “Hasil persidangan menyiratkan bahwa, konflik antara Kepsek yang lama dengan Kepsek yang baru tidak ada hubungannya. Karena motifnya, pembocoran soal UNBK. Saksi yang dihadirkan JPU tidak bisa menjelaskan apa peran komite, pemaparan dari bimbel hingga siswa mendapatkan jawaban UNBK. Para saksi yang dihadirkan lebih banyak tidak tahu karena lebih memilih aman,” pungkasnya. (Yon)

Gelapkan Uang, Marketing Hotel Oval Dipenjara
Soal Jasmas, Ratih Retnowati Diperiksa Kejaksaan