Angka Baru Hepatitis Akut DKI dan Sorotan KPAI
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria.

Dinkes Lampung Pastikan Kesiagaan RS

Angka Baru Hepatitis Akut DKI dan Sorotan KPAI

Potrerkota.com – Tidak hanya dibuat pusing dengan merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak, pemerintah juga masih harus mewaspadai penyakit Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute hepatitis of unknown aetiology) yang baru-baru ini diumumkan Organisasi Kesehatan Dunia, WHO (World Health Organization).

Setelah sempat mengungkap adanya temuan 21 orang di Jakarta yang diduga terjangkit penyakit hepatitis akut, pada Kamis, 12 Mei 2022, kini Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria, kembali mengungkap adanya 24 anak di Jakarta yang bergejala hepatitis. Meski begitu, 24 anak tersebut termasuk dalam kategori bergejala hepatitis biasa bukan dalam kategori hepatitis akut.

Puluhan anak tersebut diketahui diluar dari 21 orang kasus sebelumnya yang diduga terjangkit hepatitis akut misterius. Riza memastikan 24 anak tersebut termasuk dalam kategori bergejala hepatitis biasa bukan dalam kategori hepatitis akut.

Berita terkait: Heboh Hepatitis Akut, Dinkes Jatim: Jangan Renang di Kolam Umum

“Yang diduga kuat masuk dalam kasus hepatitis akut itu ada 21 kasus, tiga meninggal, kemudian 14 kategori di bawah umur 16 tahun, 3 dari 16 yang meninggal, sisanya 7 orang di atas 16 tahun ya. Semuanya masih dalam proses penyelidikan, pemeriksaa epidemiologi, pemeriksaan dari Hepatitis A-E ini masuk dalam kategori pending proscation,” kata Riza, Jumat, (13/05/2022).

Meski demikian, pria kelahiran Banjarmasin itu menegaskan, pihaknya masih harus menunggu beberapa hari ke depan untuk mendapatkan hasil pastinya. “Di luar itu memang ada lagi 24 kasus kategori hepatitis yang umum, biasa gejala, namun masih dalam bentuk gejala. Inilah kita minta seluruh warga untuk lebih hati-hati, 24 anak masih gejala hepatitis, belum diketegorikan hepatitis akut,” tegasnya.

Di sisi lain, maraknya kasus penderita hepatitis miaterius yang menyasar anak-anak, menular melalui saluran pernapasan dan pencernaan, mendapat sorotan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Komisioner KPAI Retno Listyarti menjelaskan, pihaknya saat ini menyoroti kasus hepatitis misterius yang justru menyerang anak-anak.

Retno meminta pemerintah segera mengkaji ulang penerapan PTM (Pembelajaran Tatap Muka) 100 persen dan penutupan kantin sekolah demi menghindari kontak fisik secara langsung. Retno juga menyoroti Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri yang mengizinkan membuka kembali kantin sekolah dengan kapasitas pengunjung 75 persen.

Demi melindungi kesehatan anak Indonesia, kata Retno, SKB 4 Menteri yang diteken oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mentri Agama (Menag), Mentri Kesehatan (Menteri Kesehatan) dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) itu perlu dievaluasi kembali, mengingat banyaknya temuan hepatitis akut di sejumlah daerah.

“Untuk melindungi anak anak, seharusnya  pada masa hepatitis akut ini yang masih dalam proses uji klinis oleh Kemenkes maka harus melakukan pencegahan dulu, yaitu dalam PTM ini, sekolah tidak membukakan kantin, karena hepatitis penyebarannya melalui pernafasan dan pencernaan. Pencernaan ini melalui makanan,” tukas Retno.

Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Lampung memastikan kesiapsiagaan seluruh Rumah Sakit (RS), baik milik pemerintah maupun swasta untuk menyediakan sarana dan prasarana dalam menghadapi tren penularan penyakit hepatitis akut. Kepala Dinkes Provinsi Lampung, Reihana mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah terkait hal itu.

“Kesiapsiagaan yang perlu diperhatikan, adalah keberadaan ruang isolasi dan ICU. RS juga harus menyiapkan laboratorium untuk melakukan pengecekan jika ada anak yang memiliki tanda-tanda terjangkit hepatitis akut,” kata Reihna, Jumat, (13/05/2022).

Reihana meminta agar apabila ada anak yang memiliki gejala hepatitis akut misterius, Pemerintah Daerah berikut Jajaran untuk segera mengambil tindakan. Reihana juga meminta agar disediakan ruang isolasi, sehingga yang dibutuhkan saat ini tidak hanya ruang isolasi Covid-19, melainkan juga ruang isolasi hepatitis akut, serta keberadaan tim yang harus senantiasa siaga dan waspada.

"Hanya untuk antisipasi. Tetapi harapan kita mudah-mudahan hepatitis akut ini tidak ditemukan di Lampung, dan sampai sekarang, alhamdulillah Lampung masih bersih," ujarnya.

Reihana juga mengimbau masyarakat agar dengan saksama dapat melihat dan memantau kesehatan anak-anaknya jika terdapat tanda-tanda hepatitis akut. Terutama pada anak usia satu bulan hingga 16 tahun. “Salah satu yang mendasar adalah kondisi kulit menguning dan perut yang sakit. Jika sudah seperti itu, segera bawa ke pusat kesehatan terdekat,” pungkas Reihana. (Robby/Rio)

Stok Pasuruan Habis, STNK Sementara Dicap Samsat
Pj Banten Target Penurunan Angka Stunting dan Gizi Buruk