Bupati Terpilih Freddy Thie Mangkir Dipanggil Polisi
Freddy Thie (foto: istimewa)

Soal Dugaan Penipuan dan Penggelapan

Bupati Terpilih Freddy Thie Mangkir Dipanggil Polisi

Potretkota.com - Bupati terpilih Kabupaten Kaimana Papua Barat Freddy Thie disebut mangkir dari panggilan Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Ketua DPC Partai Demokrat Kaimana yang mempunyai usaha pelayaran PT Persada Nusantara Timur (PNT) diperiksa atas dugaan penipuan dan penggelapan yang diadukan korban Abdul Munif, pemilik beras 50 ton.

Hal itu disampaikan Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya AKBP Ganis Setyaningrum melalui penyidik Aiptu Arnawan. Menurutnya, pria kelahiran Januari 1970 ini mangkir dari panggilan polisi. "Sudah dilakukan penggilan, tapi (Freddy Thie) engga datang," katanya kepada Potretkota.com, Kamis (4/2/2021).

Karena tidak datang, Aiptu Arnawan akan melakukan panggilan yang kedua, untuk meminta keterangan Freddy Thie. Aiptu Arnawan juga menyebut, para pihak dari PT Persada Nusantara Timur pemilik Kapal Motor (KM) Senja Persada sudah diperiksa, termasuk Darmawan bagian Kepala Gudang, Minin Susetyawan Manager Armada, Sholeha bagian Administrasi. "Untuk menghadirkan Freddy Thie, saya masih koordinasi dengan pengacaranya," singkatnya.

Sementara, pengacara Marzuki saat dikonfirmasi enggan memberikan keterangan atas mangkirnya Freddy Thie di Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Hal berbeda disampaikan Kepala Gudang PT Persada Nusantara Timur, Darmawan. Menurutnya, bos Freddy Thie sudah diperiksa polisi. "Sudah, semua sudah diperiksa, termasuk saya," akunya.

Aiptu Arnawan saat dikonfirmasi, Kamis (4/2/2021).

Seperti diketahui, perkara ini terjadi Agustus 2020. Saat itu Abdul Munif bertemu dengan Bob Narua yang kemudian diperkenalkan dengan Ali sebagai pihak pembeli beras 50 ton untuk dikirim ke Kabupaten Kaimana, Papua Barat.

Berdasarkan rekomendasi Bob Narua, akhirnya Abdul Munif memutuskan menggunakan jasa PT PNT untuk pengiriman beras tersebut dari Kalimas Surabaya ke Kabupaten Kaimana. Biaya jasa pengiriman total Rp 37 juta. Abdul Munif diharuskan membayar frak kapal sebanyak 75% yakni Rp 34.725.000, sedangkan sisanya akan dilunasi ketika kapal sandar di Pelabuhan Kaimana.

Abdul Munif melakukan pembayaran jasa pemuatan beras sesuai kesepakatan itu melalui transfer ke rekening Bank Central Asia (BCA) atas nama Freddy Thie tanggal 31 Agustus 2020, pukul 11.24 WIB.

Namun, Abdul Munif dan Bob Narua tak lama mendapat informasi, September 2020, tentang pemberitahuan izin kapal berlayar tanpa ada bukti konosemen (daftar muat barang ke kapal) dan Bukti Kelayakan Kapal. Dalam surat izin berlayar, KM Senja Persada menurut Abdul Munif tercantum tujuan Surabaya ke Pulau Jampea, bukan ke Kaimana. Hingga akhirnya, korban mendapat kabar jika KM Senja Persada tenggelam karena musibah tabrakan dengan KM Ever Top milik PT Pelayaran Mandala Sejahtera Abadi, tanggal 16 September 2020 pukul 03.15 WITA di selat Tioro Buton.

Akibatnya, Abdul Munif yang mengaku merugi Rp 575.000.000 kemudian melaporkan perkara ini ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Mendapati aduan tersebut, Kasat Reskrim, Iptu Gananta lalu menerbitkan Surat Perintah Penyelidikan Nomor: SPRIN-LIDIK/522/XI/RES.1.11/2020/SATRESKRIM, tanggal 06 November 2020, tentang dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan. (Hyu)

Banjir di Kepulungan Terjang Puluhan Rumah
Korban Banjir Gempol Berharap Bantuan Pemerintah