Dalam Kurun 4 Tahun 500 Kasus Rabies 16 Meninggal
Kepala Disnakkeswan NTB, Khairul Akbar.

Dalam Kurun 4 Tahun 500 Kasus Rabies 16 Meninggal

Potretkota.com - Dari data Dinas Peternakan dan Kesehatan hewan (Disnakkeswan) Nusa Tenggara Barat (NTB), kasus Gigitan Hewan Penyakit Rabies (GHPR) di Kabupaten Dompu, Bima, Sumbawa dan Sumbawa barat, dari tahun 2019 hingga 2022 tercatat ada 500 kasus gigitan anjing Rabies.

Kepala Disnakkeswan NTB, Khairul Akbar mengatakan, awal kasus gigitan hewan penyakit rabies muncul pertama kali di Kabupaten Dompu pada awal bulan Januari 2019 dan menyebar ke kabupaten lainnya di pulau Sumbawa.

“Rabies ini pertama muncul di Kabupaten Dompu bulan Januari 2019 dan selanjutnya terjangkit infeksi di Sumbawa, Bima, dan Sumbawa barat. Ada sekitar 500 kasus, terakhir kemarin tercatat 45 kasus di tahun 2022,” kata Khairul, Jumat, (13/05/2022).

Untuk mencegah lebih meluasnya lagi gigitan hewan penyakit rabies, Disnakeswan NTB membentuk Kepala Desa Siaga Rabies (Kasira) untuk melakukan pemantauan dan penanganan kasus Rabies di desa mereka masing-masing.

“Kita sudah bentuk namanya Kades Siaga Rabies (Kasira) yang intens memberikan melaporkan kasus Rabies sehingga angkanya meningkat karena mereka cepat pantau kasus gigitan,” ungkapnya.

Lebih lanjut Khairul menegaskan bawa banyak kasus warga terkena gigitan anjing, namun setelah di uji lab menyatakan negatif tahu tidak terinfeksi penyakit rabies.

“Banyak gigitan anjing tapi belum semua positif dari gigitan anjing itu, kalau diperiksa harus ke laboratorium untuk menguji sampel air liur anjing yang menggigit, karena gejala anjing yang menggigit itu ini rata-rata takut air takut sinar matahari kemudian menggigit apa saja tidak mengenal tuannya,” jelasnya.

Lebih lanjut Khairul menambahkan bahwa selama tahun 2019 hingga awal tahun 2022 tercatat 16 orang meninggal dunia akibat gigitan anjing rabies di Pulau Sumbawa.

“Yang tidak menggunakan vaksin serum anti rabies banyak juga yang meninggal dunia ada di Dompu dua orang di Sumbawa ada 14 orang meninggal dunia karena rabies selama 2019 hingga 2022 ini,” bebernya.

Selain itu langkah upaya untuk penenangan penyakit rabies dengan cara penyuntikan anjing yang membawa penyakit rabies, dan memberikan penyuluhan dan edukasi kepada warga masyarakat tentang cara penanganan dini bila terkena gigitan anjing liar.

“Tapi kewaspadaan dan penanganan kita sudah dilakukan, kita dilatih oleh FAO, jadi kita lakukan penyuntikan kepada anjing rabies, kita berikan pembelajaran dan pemahaman KIE kepada masyarakat jika ada gigitan harus mencuci di air yang mengalir selama 15 menit pakai sabun deterjen kemudian langsung dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan serum anti rabies,” tutur Khairul.

Meski banyak kendala yang dihadapi mulai anjing yang susah ditangkap dan populasi anjing yang terus meningkat, namun pemerintah provinsi NTB menargetkan pada tahun 2030, NTB terbebas dari Rabies.

“Kita targetkan 2030 NTB bebas rabies sekarang kita melakukan pemahaman kepada warga masyarakat akan bahaya, kalau nol masih susah yang kita lakukan pengendalian , kita bentuk namanya kasira sebetulnya ada partisipasi masyarakat di dalam pengendalian rabies,” terangnya.

Tak hanya itu pemerintah provinsi NTB akan melibatkan TNI-POLRI dan tokoh agama di dalam penanganan gigitan penyakit rabies ini.

“Kita libatkan aparat-aparat desa TNI-POLRI dan tokoh-tokoh masyarakat, jadi penangan rabies tidak hanya tanggung jawab petugas, namun juga tanggung jawab warga masyarakat desa untuk menciptakan suasana yang aman dan sehat.,” tutup Khairul. (MA)

Peternak Sapi Cemas PMK Berdampak Harga Jual
Tiket Masuk Wisata Kenpark Diduga Lolos Pajak