Dampak PMK Pada Penjualan Hewan Qurban Idul Adha 1443 H
Pedagang hewan kurban di Bandar Lampung, Provinsi Lampung keluhkan adanya penurun penjualan hewan kurban jelang Hari Raya Idul Adha, Minggu, 26 Juni 2022.

Penyakit Mulut dan Kuku di Lampung

Dampak PMK Pada Penjualan Hewan Qurban Idul Adha 1443 H

Potretkota.com – Hari Raya Idul Adha 1443 H yang hanya tinggal menghitung saja, bakal menjadi hajatan tiap tahun bagi warga muslim di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Hari raya yang sejatinya dirayakan dengan penyembelihan hewan ternak sebagai qurban. Namun sayangnya, masalah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) saat ini, membuat was-was.

Seminggu terakhir, kabar terbaru datang dari Provinsi Lampung. Sebanyak 379 hewan ternak di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, terjangkit PMK. Berdasarkan data yang dihimpun, ratusan ternak yang terjangkit PMK berasal dari tiga kecamatan tercatat, di Banjarbaru sebanyak 125 ekor, Banjarmargo 175 ekor, dan Penawartama 79 ekor.

Ratusan hewan ternak yang terjangkit PMK tersebut sebagian besar merupakan sapi. Dari data tersebut, tercatat 105 ternak tengah menjalani pengobatan, 259 telah sembuh, dan 5 lainnya mati. Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (Keswan) Nasib Subagio mengatakan, pihaknya saat ini sedang memberikan pendampingan kepada para peternak yang peliharaannya terjangkit PMK.

Selain itu, pemerintah daerah juga mulai melakukan pengobatan seperti memberikan vitamin dan disinfektan untuk mencegah penyebaran masif PMK. "Tidak hanya itu, berbagai alternatif-alternatif metode pengobatan serta masukan juga disampaikan kepada para peternak, salah satunya yakni ecofarming," kata Subagio, Kamis (23/6/2022).

Subagio menjelaskan, salah satu alternatif yang saat ini banyak digunakan peternak yakni pupuk kapur pertanian dolomit dan pemutih pakaian sebagai disinfektan. Menurutnya, pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulang Bawang juga telah berkoordinasi dengan Pemprov Lampung dan Pemerintah Pusat agar mendapat jatah vaksin untuk ternak yang terjangkit PMK.

"Kami berharap mendapat alokasi vaksin yang jumlahnya sekitar 800 ribu itu dari Pemerintah Pusat," ujar Subagio. Ia menjelaskan, PMK pertama kali terdeteksi masuk di Kabupaten Tulang Bawang diperkirakan pada 14 Mei 2022 lalu. Untuk mengantisipasi PMK, pemerintah meminta masyarakat untuk dapat meningkatkan kebersihan kandang hewan ternak secara rutin.

"Masyarakat juga diharapkan dapat melakukan karantina hewan yang sedang sakit atau telah melakukan kontak dengan hewan yang terpapar untuk memutus mata rantai penyebaran," jelas Subagio.

Diketahui, PMK yang juga dikenal sebagai Foot and Mouth Disease (FMD) merupakan jenis penyakit yang disebabkan dari virus tipe A dari keluarga Picornaviridae, Genus Apthovirus yakni Aphtaee Epizootecae. Penyakit ini merupakan virus yang menyerang hewan berkuku belah terutama hewan ternak seperti sapi, kerbau, domba, kambing, babi, dan kuda.

PMK sendiri memiliki ciri-ciri masa inkubasi selama 7 hari. Setiap hewan ternak yang terjangkit PMK akan mulai terlihat pada hari ketujuh tersebut. Gejalanya seperti demam tinggi, kemudian dilanjutkan dengan tidak mau makan dan mulai mengeluarkan air liur yang mengandung busa. Kemudian dilanjutkan dengan muncul luka-luka di ujung bibir, hidung dan selah-selah kaki.

Di sisi lain, dalam upaya mencegah penyebaran PMK pada ternak ruminansia, Dinas Perkebunan, Peternakan, dan Perikanan Kabupaten Lampung Tengah, Lampung mendapat alokasi 7.200 dosis vaksin. Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan, dan Perikanan Kabupaten Lampung Tengah Taruna Bifi Koprawi mengatakan, rencananya vaksin akan dibagikan ke daerah yang rawan penularan PMK.

Taruna Bifi Koprawi menjelaskan, pihaknya mendapat alokasi 7.200 dosis vaksin untuk mencegah PMK. "Kita dialokasikan Dinas Peternakan Lampung 7.200 dosis vaksin untuk mencegah PMK. Terbanyak di Provinsi Lampung," kata Taruna Bifi Koprawi, Senin (27/6/2022). Menurut Taruna Bifi Koprawi, sebagian sudah ada yang dibagikan kepada peternak.

"Ada sebagian yang sudah dibagikan kepada peternak. Khususnya daerah yang rawan tertular PMK. Salah satunya di Kecamatan Terbanggi Besar," ujar Taruna Bifi Koprawi. Taruna Bifi Koprawi menyatakan, hampir rata-rata hewan ternak khususnya sapi di kecamatan Terbanggi Besar terindikasi terpapar PMK.

Sementara itu, ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Provinsi Lampung drh. Nanang Purus Subendro mengatakan, kelompok ternak di Lampung telah sepakat tidak akan memembeli hewan dari luar daerah. "Para peternak juga harus peka mencari informasi tentang situasi terupdate untuk masalah PMK ini," kata Nanang Purus Subendro.

Menurut Nanang Purus Subendro, penyebaran virus PMK begitu cepat. Kejadian di Jawa Timur memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Karena itu, butuh kerja sama semua pihak, baik pemda, peternak, dan masyarakat umum. Perlu diberikan edukasi kepada peternak dan masyarakat umum.

"Virus PMK ini relatif mudah diberantas. Yakni dengan menggunakan disinfektan dan menjaga kebersihan kandang," ujar Nanang Purus Subendro.

Sementara itu, Para Pedagang hewan qurban di pasar Bandar Lampung, Lampung mengeluhkan penurunan penjualan akibat penyakit mulut dan kuku (PMK). Menurunya penjualan hewan qurban dirasakan pedagang hewan qurban yang membuka lapak di kawasan Jalan Rasuna Said, Teluk Betung Utara, Bandar Lampung.

Usman (46) salah seorang pedagang hewan ternak di kawasan tersebut mengatakan, harga hewan qurban tahun ini mengalami kenaikan, untuk harga kambing harga terendah yakni Rp 2 juta per ekor dan untuk harga tertinggi Rp 9 juta per ekor. Untuk sapi harga terendah yakni Rp18,5 juta per ekor, untuk harga tertinggi Rp 33 juta per ekor. "Harganya naik Rp500.000 hingga sampai Rp1 juta," kata Usman.

Menurut Usman, kenaikan harga hewan qurban tidak sebanding dengan tingkat penjualan karena saat ini permintaan hewan qurban menurun akibat PMK. Usman menjelaskan, dampak dari adanya wabah PMK, masyarakat menjadi takut untuk membeli hewan qurban. Hewan qurban yang Ia jual dipastikan sehat, tidak terjangkit PMK dan memiliki sertifikat sehat dari Dinas Pertanian Bandar Lampung.

"Hewan qurban itu diambil dari Kabupaten Pringsewu, Lampung Selatan dan Lampung Tengah," ujar Usman. Hal serupa juga diungkapkan para pedagang hewan qurban di kawasan Jalan Pangeran Emir M. Noer, Teluk Betung Utara, Bandar Lampung. Usup (54), salah satu pedagang hewan qurban mengaku, hewan qurban yang ia jual telah melalui pengecekan dari adanya indikasi penyakit.

Meskipun telah melalui pengecekan, namun tingkat penjualan hewan qurban jelang Hari Raya Idul Adha tahun ini menurun akibat dampak dari wabah PMK. "Kalau ada indikasi penyakit tidak akan dibawa ke lapak penjualan, tukas Usup. (Rio)

Sat Resnarkoba Polres Pasuruan Kota Berbagi Kaos HANI ke Pengguna Jalan
Pemprov DKI Jakarta Tutup 12 Outlet Holywings