Deklarasi Hak Cipta Jalur Rempah Sunan Ampel
Profesor Suparto Wijoyo, Koordinator Dosen Sekolah Pasca Sarjana UNAIR Surabaya.

Filosofi Wonosalam, Ampel Denta, dan Bunga Cengkeh

Deklarasi Hak Cipta Jalur Rempah Sunan Ampel

Potretkota.com - Cengkih atau yang umum disebut cengkeh merupakan salah satu jenis tanaman rempah termahal di dunia, harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram. Banyak negara yang mengklaim sebagai negara penghasil cengkeh namun faktanya, di Maluku ditemukan tanaman cengkeh tertua di bumi nusantara. Cengkeh lebih banyak digunakan bangsa Eropa untuk bumbu masakan pedas.

Profesor Suparto Wijoyo, seorang Budayawan sekaligus sebagai Koordinator Dosen Sekolah Pasca Sarjana UNAIR Surabaya, memiliki sudut pandang yang sangat logis tentang relief yang ditemukan di gapura Sunan Ampel. Pria yang akrab disapa Prof Jojo ini banyak mengungkap pemikiran-pemikiran Sunan Ampel yang konservatif dan penuh dengan strategi.

"Hari ini kita baru sadar betul bahwa tidak ada topografi dunia yang memiliki biodiversitynya, kekayaan-kekayaan sumber dayanya, kekayaan-kekayaan pangannya yang melebihi nusantara. Tampaknya ini juga diapresiasi oleh para wali,” ungkap dosen yang sekarang dipercaya sebagai Wakil Direktur Bidang Riset, Pengabdian Masyarakat, Digitalisasi dan Internasionalisasi UNAIR itu.

Menurutnya, dahulu para raja-raja dalam mengatur strategi politik perdagangan, Sri Wijaya di abad ke-3 mampu membangun hubungan dengan India, politik Narendra dan Nalanda, yang kesemuanya itu kemudian ditata menjadi sebuah agenda diplomasi internasional antar kawasan Asia. Sampai di puncak abad ke-7, yakni puncak keemasan Kesultanan Maritim Sri Wijaya dapat menjalin hubungan yang luar biasa dengan Abbasiyah.

“Dahsyat, di Timur Tengah sambung, apa yang menyambungkan ini apa? Ternyata sampai juga di era Kanjeng Sunan Ampel. Para Wali melihat di areal Ngampel (sebutan Jawa untuk Ampel Denta), di areal makam Kanjeng Sunan Ampel, ternyata ada relief cengkeh. Kita telusuri, akhirnya kita telusuri, tidak juga sampai ke Trenggalek, ke Kediri baru sampai Jombang, Wonosalam,” kata Suparto.

Dari nama Wonosalam saja, baru dipahami filosofi sebuah penamaan yang sangat religius. Wono berarti Alas atau Hutan, sedangkan Salam berarti Kedamaian atau Keselamatan, yang diyakini sebagai tempat orang-orang yang cinta damai, karena nusantara memiliki ajaran Islam yang cinta damai. Moderasi keagamaan yang dibangun oleh Wali Songo diambil dari nama Wonosalam.

Daerah Wonosalam jika diamati dengan seksama maka akan banyak terlihat tanaman cengkeh yang berjajar dengan bambu, kopi, pala, lada, dan cokelat. Jika bicara tentang cengkeh dan bambu, maka imajinasi bisa sampai ke Ngampel. Dahulu Sunan Ampel jika di wilayah basis perkotaan Surabaya deklarasinya dikenal sebagai Kanjeng Raden Rahmat, tetapi jika di wilayah areal petilasannya disebut Ampel Denta.

Ampel adalah salah satu jenis pohon bambu, sedangkan Denta bermakna berjajar-jajar berarti Ampel Denta adalah kawasan yang dipenuhi oleh pohon bambu yang berjajar-jajar. Secara anatomi, bambu berfungsi untuk meningkatkan volume air. Itu artinya kawasan Ampel Denta yang merupakan perdikan dari Kerajaan Majapahit, diyakini dahulunya merupakan pusat sumber mata air.

“Itu pasti ditirakati, didoakan menjadi pusat sumber air. Ampel Denta pohon bambunya berdenta-denta, berjajar-jajar berarti konservasi. Jadi pikiran Kanjeng Sunan adalah pikiran konservasi, ekosistem. Bambu-bambu itu berarti ada sumber air sebagai pusat oksigen. Untuk itu kalau bisa Walikota (Surabaya) kita merekonstruksi pikiran itu,” ungkap Suparto.

Seharusnya, untuk merekonstruksi sejarah suatu wilayah, seperti halnya Ampel Denta, nama awal daerah tersebut memang harus dijadikan sebagai kawasan ikonik konservasi. Jika dilihat dari cara penamaan dan penggambaran rempah melalui relief di gapura Sunan Ampel, maka dapat pahami apa maksud daripada Sunan Ampel memberi nama Ampel Denta dan membuat relief rempah-rempah.

“Untuk itu saya memahami temuan tadi, di relief-relief makam Kanjeng Sunan, di gapura Kanjeng Sunan saja, masuk disitu gambarnya cengkeh. Cengkeh catur dari Manunggal Gusti namanya, empat penyanggah dengan satu kekuatan mahkota yang disanggah. Sehingga kenapa Kanjeng Sunan memilih ini, artinya Dolor Papat Limo Pancer,” terangnya.

Dari hasil temuan yang baru-baru ini disadari baik oleh pegiat sejarah maupun pengurus kompleks makam Sunan Ampel, cengkeh yang merupakan salah satu jenis rempah yang tergambar secara detail di relief gapura Sunan Ampel, terungkap sebuah makna yang tersirat didalamnya. Makna secara ilahi dan makna secara ideologi, makna yang diambil dari bentuk cengkeh itu sendiri.

Bentuk cengkeh dengan empat katup dan satu mahkota adalah gambaran Dolor Papat Limo Pancer yang artinya gambaran suatu kekuatan rukun Islam, jika di Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi Pancasila. Sama-sama mengartikan menyanggah yang paling agung yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Inilah luar biasanya Sunan Ampel sebagai seorang Waliyullah yang cerdas, futuristik, dan visioner.

Untuk itu, penting sekali bagi generasi penerus untuk belajar tentang tata negara kepada para Sunan, khususnya Sunan Ampel. Suparto mencontohkan, tatkala ada cengkeh, semua orang hanya bisa mengomongkan saja, namun sewaktu-waktu bisa lupa. Tetapi orang-orang yang ada di sekitar Ngampel, berikut para santrinya pasti mendapat amanat bahwa di gapuranya harus diberi penanda cengkeh.

“Mengapa penandanya cengkeh? Penanda cengkeh itu jika dalam bahasa internasional sekarang ini adalah pendekatan deklaratif, hak cipta, intellectual property. Untuk kita sekarang ini tempe, tahu, tidak ada yang dicatat, untuk itu intellectual propertynya dikira hasilnya Jepang, padahal kita di sini sejak lahir semua paham tahu tempe,” ujar Suparto.

Oleh karena bangsa Indonesia tidak pernah mempatenkan tahu dan tempe sebagai hak paten, maka di mata dunia dikira tahu dan tempe sudah dideklarasikan orang Jepang terlebih dahulu. Sunan Ampel di abad ke-14, diakhir-akhir Kerajaan Majapahit sudah deklaratif, dengan membuat relief rempah-rempah sebagai penanda kelak bagi siapapun yang akan berdiplomasi ke nusantara.

Karena dahulunya, orang-orang asing, khususnya bangsa Eropa datang berdiplomasi ke Ampel Denta, Demak, maupun Majapahit. Jika di zaman sekarang ini, para Sunan saat itu merupakan Wantimpres (Dewan Pertimbangan Presiden) Kerajaan, bahkan di era Majapahit pun para Sunan ini juga ikut sebagai Wantimpres, termasuk pula di Kesultanan Demak.

Dengan demikian, bangsa lain paham bahwa ternyata hasil kekayaan bumi nusantara bukan dari negara-negara lain. Sebagai buktinya, Sunan Ampel membuat stempel yang tak lain adalah relief itu sendiri. Relief dibuat sebagai deklarasi intellectual property rempah-rempah nusantara, sehingga tidak ada bangsa lain yang dengan seenaknya mengklaim hasil kekayaan alam di nusantara, khususnya tanah Jawa.

“Untuk itu jika ada klaim dari yang lain-lain, oh cengkeh itu berasal dari Burundi misalkan. Dari Vanuatu, Tuvalu, misal. Dari Karibia, padahal di sana tidak ada cengkeh, itu pasti dari kita. Kanjeng Sunan memberikan peringatan, di cek saja. Ini dari laboratorium usia dari gapura pembuatan itu dan relief-relief itu pasti tahu di era Kanjeng Sunan Ampel deklarasi bahwa inilah kekayaan kita,” tegas Suparto.

Bagi generasi penerus, kata Suparto, ini juga menjadi pesan. Hubungan internasionalnya menyangkut hak cipta soal cengkeh ada pada penerus bangsa. Urusan penerus bangsa terhadap anak cucu adalah menyampaikan agar para anak cucu ini menjaga dan merawat peninggalan rempah-rempah yang faktanya memang tidak hanya bermanfaat sebagai konsumsi, namun juga bermanfaat secara ekonomi.(*)

Oleh: Achmad Syaiful Bahri

Khofifah Gelar Lomba Masak Bagi Kepala OPD
Pemudik Cekcok dengan Petugas Bongkar Muat Kapal