Dua Tokoh Agama Surabaya Tolak Ormas Islam Terlarang
KH. M. Hasan Badri.

Dua Tokoh Agama Surabaya Tolak Ormas Islam Terlarang

Potretkota.com - Dua pengasuh pondok pesantren di Surabaya, himbau masyarakat Jawa Timur agar tidak ikut organisasi terlarang yang ditetapkan oleh Pemerintah. Hal itu dikatakan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Anak-anak Muhyiddin, KH. M. Hasan Badri.

"Tokoh-tokoh masyarakat didaerah dan sekitarnya yang masih ada sekolompok orang atau masyarakat ingin menghidupkan ideologi dan pemahaman semacam itu bisa dikaji kembali juga disalin komunikasi lebih baik," kata Hasan, saat ditemui di Pondok Pesantrennya, di Jl. Gebang Kidul Surabaya, Senin (31/5/2021) sore.

Hasan menyebut, ulama di Jawa Timur hinga saat ini masih menjaga komunikasi antar ulama dengan umaro, Pemerintah Kota, Pemerintah Daerah dan Provinsi. "Entah itu dari lapisan apa saja, tetap harus mengayomi masyarakat, dekat dengan Umaro dan tokoh-tokoh agar menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan masyarakat secara umum. Bukan dari kepentingan pribadi maupun golongannya sendiri, sehingga kemudian merugikan masyarakat secara umum," jelasnya.

Ia pun meminta agar masyarakat Jawa Timur maupun, bisa bijak untuk memilah atau menyikapi suatu informasi yang beredar. "Saya menghimbau kepada masyarakat secara umum, bijaklah dalam menyikapi pandangan sesuatu tulisan, berita, informasi entah yang diperoleh dari media sosial, internet, atau secara langsung melalui ceramah atau kajian-kajian," pungkasnya.

KH. Abdul Tawwab Hadlory 

Terpisah, agar tidak terjerumus dalam organisasi telarang, Forum Kyai Kampung Nusantara (FKK Nusantara) yang dinakhodai oleh KH. Abdul Tawwab Hadlory sebagai Ketua Umum (Ketum) menyarankan agar kyai harus berpolitik.

"Kalau Jawa timur insyaallah percaya pada kyai-kyai. Maka itu saya tidak setuju kalau ada perkatakan kyai tidak usah berpolitik. Justru kyai harus paham politik, tapi politiknya kyai berbeda dengan politiknya partai politik. Kyai itu kalau istilahnya Gus Dur, politik yang makruh. Artinya pakai politik kebangsaan, bukan politik yang meraih kekuasaan," tegas Abdul Tawwab Hadlory, di Pondok Pesantrennya Jl. Jangkungan Nginden Surabaya.

Sementara dalam pandangannya, tokoh-tokoh ulama di Jawa Timur tetap rukun tidak ada masalah. "Saya rasa selama ini tidak ada masalah tetap rukun, bersatu tapi kadang-kadang berbeda pendapat itu bukan nama organisasi tapi dari perorangan atau kelompok," jelas Abdul Tawwab Hadlory, yang juga masuk dalam Persatuan Ulama Tokoh intelektual Madura.

Dimata Abdul Tawwab Hadlory, saat ini banyak organisasi ataupun aliran baru dalam Islam yang dilarang, karena tidak paham warisan ulama-ulama terdulu. "Kalau sekarang ini banyak aliran yang baru yang tidak paham warisan ulama-ulama dulu," pungkasnya. (SA)

Pelindo III Menjadi Orang Tua Asuh Satwa Komodo
Moekhlas Sidik Buka Suara Soal Korupsi BOP Pasuruan