Kasi Trantib Simokerto Larang Galang Dana Masjid
salah satu warga menggalang dana renovasi masjid

Kasi Trantib Simokerto Larang Galang Dana Masjid

Potretkota.com - Momen Ramadhan dimanfaatkan orang berlomba-lomba mencari kebaikan, mulai bagi-bagi takjil, bersedekah, atau merenovasi masjid. Semua dilakukan dengan iklas agar masyarakat memperoleh berkah.

Karena aktifitas seringkali berada dijalanan, Kasi Trantib Kecamatan Simokerto Surabaya, Kresna Mukti mewakili Camat Simokerto Nono Indriyono menyebut, jika kegiatan menggalang berkah jalanan dianggap melanggar Peraturan Daerah (Perda) Kota Surabaya Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum dan Ketentraman.

"Itu tidak ada bedanya dengan pengamen, anak jalanan yang meminta uang, karena tidak mengantongi izin," kata Kresna Mukti kepada Potretkota, Senin (13/5/2019) diruang kerjanya.

Kresna Mukti juga mengatakan, penggalanan dana untuk masjid dijalanan, terlihat seperti orang miskin berketurunan. "Ini akhirnya pencari sumbangan itu (terlihat) menjadi kemiskinan yang berketurunan," katanya, para pencari amal untuk masjid tidak ada masa depannya.

Tidak itu saja, Kresna Mukti khawatir penggalangan dana bisa dimanfaatkan oleh pengurus masjid. "Selain mencari penggalangan sosial, maka akan dijadikan lahan pekerjaan bagi mereka. Dan siapapun yang mau, bisa dipekerjakan ya... Mereka sudah enjoy disitu," tambahnya sembari mencontohkan bak peribahasa, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. "Sama saja dengan orang ngetren burung dara. Bapak yang seneng memelihara burung dara, anak disuruh merawatnya".

Kasi Trantib Kecamatan Simokerto menghimbau, pencari sumbangan masjid jangan dijalanan. Sebab, ustad ataupun takmir tau proses perijinannya. "Mereka (marbot) tau posisi atau perizinan. Saya sarankan, kalau bisa jangan. Cuman kalau harus dipaksakan, ya harus ada izinnya, monggo. Tapi harus ada batas waktunya, kalau bisa jamnya jangan siang hari. Tapi sebenarnya saya tidak mengizinkan," tambah Kresna Mukti.

Sementara, menanggapi hal tersebut wakil takmir masjid Al-Mujahidun Jl Donorejo No 46, Ustad Syaikhu Muhammad menganggap apa yang dikatakan Kasi Trantib Kecamatan Simokerto tidak pantas.

"Kalau menurut saya itu tidak benar. Jelas (ucapan) tidak pantas, itu termasuk pelecehan sosial, sangat tidak ada jiwa solidaritas. Berati dia (Kresna Mukti) merasa hebat di mata Allah," cetusnya.

Ustad Syaikhu Muhammad sebagai anggota ranting Nahdlatul Ulama (NU) Kelurahan Kapasan menganggap kegiatan memperbaiki masjid ditempatnya telah dibatasi, dan dianggap telah tebang pilih. "Terus kalau ditempat yang lain gimana? Ini kan bukan untuk pribadi, melainkan untuk ummat," pungkasnya. (SA)

Pelaku Pembunuhan Tanah Merah Menyerahkan Diri
Penjual Pentol Keliling Meninggal Bersujud