Kejari Surabaya Tangkap DPO Terpidana Pedofil
Terpidana Ali Shodiqin saat tertangkap Tim Tabur Kejari Surabaya.

Kejari Surabaya Tangkap DPO Terpidana Pedofil

Potretkota.com - Tim Tangkap Buronan (Tim Tabur) Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya menangkap Ali Shodiqin, terpidana kasus pedofil di rumah orang tuanya di daerah Trosobo, Taman, Sidoarjo, Rabu, (11/05/2022) sekitar pukul 11.00 WIB. Sebelumnya, terpidana Ali sempat melarikan diri dan masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Kejari Surabaya, sejak Desember 2021 lalu.

Kasi Intelijen Kejari Surabaya Khristiya Lutfiasandhi mengatakan, terpidana tertangkap dengan tanpa perlawanan. Terpidana Ali pun setelah menjalani swab antigen, langsung dibawa ke Rutan Kelas 1-A Surabaya di Medaeng untuk menjalani pidana badan selama 5 tahun dan pidana denda sebesar Rp60 juta, subsider 2 bulan penjara.

"Sesuai putusan Mahkamah Agung RI No. : 2008 K/Pid.Sus/2021 tanggal 2 Agustus 2021, dimana terpidana terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana melakukan kekerasan dan perbuatan cabul terhadap anak secara berlanjut sebagaimana diatur di dalam Pasal 80 Jo. Pasal 76C UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak," kata Khristiya.

Untuk diketahui, terpidana Ali Shodiqin didakwa atas kasus pencabulan terhadap anak yang dilakukannya sejak 2017 hingga 2019. Tindak asusila itu diperbuat Ali terhadap pelajarnya sendiri di salah satu SMP swasta di Surabaya. Pada saat itu, Ali menjabat sebagai kepala sekolah. Di persidangan Ali mengakui perbuatannya dengan dalih para anak didiknya itu nakal dan tidak sholat Dhuhur berjamaah.

Perbuatan cabul dilakukan Ali dengan cara memegang kemaluan muridnya yang dalam fakta persidangan, terdapat 21 pelajar laki-laki yang menjadi korban cabul Ali. Akibatnya korban merasa ketakutan dan trauma serta melaporkannya kepada orang tua. Orang tua siswa yang tidak terima atas perlakuan terpidana akhirnya melaporkannya ke Polda Jatim.

Selama ini, Ali sempat menjalani hukuman selama 5 bulan penjara atas putusan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, R Anton Widyopriyono. Putusan tersebut lebih ringan daripada tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Jaksa RA Dhini Ardhany dan Novan Ariyanto ketika itu menuntutnya pidana 6 tahun penjara dan denda Rp10 juta subsider 2 bulan kurungan. Jaksa yang merasa tidak puas dengan putusan hakim itu, mengajukan banding.

Alhasil, putusan banding Pengadilan Tinggi Surabaya menguatkan putusan PN Surabaya. Jaksa penuntut umum Kejati Jatim tidak menyerah begitu saja. Para JPU kembali menempuh upaya hukum dengan mengajukan kasasi di MA. Akan tetapi, sebelum putusan kasasi keluar, Ali bebas setelah masa penahanannya yang 5 bulan habis. (Fred)

Ratusan Rumah di Berau Terendam Banjir 3 Meter
Peternak Sapi Cemas PMK Berdampak Harga Jual