Majelis Hakim Minta CCTV Oknum Polisi Nyabu

Majelis Hakim Minta CCTV Oknum Polisi Nyabu

Potretkota.com - Sidang lanjutan pekara yang membelit Iptu Eko Julianto, Aipda Agung Pratidina, dan Brigpol Sudidik kembali digelar dengan agenda keterangan saksi. Dihadapan Ketua Majelis Hakim Johannes Hermoni, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hari Rahmat Basuki menghadirkan Ervan General Manager (GM) Hotel, Budi Susanto Manajer Hotel, I Made Gede Kanit Idik 1 Reskoba Polrestabes Surabaya dan Iwan Anggota Polsek Tandes Surabaya.

Menurut Ervan, saat itu sekitar pukul 8 malam ada anggota dari Mabes Polri meminta izin untuk mengakses ke lantai 17. Dan saat sesampainya di hotel ternyata sudah ramai orang di koridor.

"Kalua terkait pengerebekan dan barang bukti tidak tau. Cuma saat melihat CCTV ada barang warna putih yang dilempar ke counter Evo dan sudah dilaporkan serta diambil oleh anggota kepolisian," kata Ervan di Ruang Candra Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (14/10/2021).

Ditambahkan Budi Susanto, bahwa yang boking kamar 1701 dan 1702 dan yang bayar Agung Pradina, sekitar pukul 23.00 WIB lebih. "Dan saat diajak masuk kamar untuk menyaksikan penggerebakan barang bukti sudah ada diatas meja. Cuma melihat saja tidak ada penandatangana Berita Acara Penyitaan Barang Bukti," tambahnya.

Sementara, Made anggota Reskoba Idik 1 Reskoba Polrestabes Surabaya menjelaskan, saat itu telah datang ke hotol karena dihubungi oleh terdakwa Eko. Sesampainya dihotel, sudah melihat Agung diamankan Mabes Polri, setelah salah satu mereka menunjukkan identitas. "Lalu bertemu dengan Anton mantan Wakil Kasat Narkoba Polrestabes Surabaya. Lalu saya diajak masuk dilobi dan disuruh menunggu sekitar 2 jam lamanya," jelasnya.

Disinggung oleh JPU terkait SOP penyimpanan barang bukti di Polrestabes Surabaya, Made menyebut, untuk barang bukti diajukan ke pimpinan lalu disisikan untuk dilabkan. Dan untuk Kanit diberikan kewenangan menyimpan BB dan ada juga yang disimpan di KBO. "Untuk lamanya menyimpan BB bisanya tunggu TR kalau ada pemusnahan," urainya.

Iwan Anggota Polsek Tandes Surabaya juga mengatakan, bahwa saat itu lagi bertemu dengan seorang perempuan (spion polisi/cepu) yang masuk jam 11 dan keluar jam 3 pagi. Saat keluar bertemu dengan Anton mantan pimpinan, sehingga disuruh menunggu dan saat dilakukan Test urine namun hasilnya positif memakai narkoba. "Sehingga juga ikut juga dibawa ke Polda Jatim untuk dilakukan pemeriksaan," imbuhnya.

Atas keterangan para saksi, Eko Juniarto keberatan atas saksi Made terkait lamanya penyimpanan barang bukti yang belum diatur. Untuk terdakwa Agung Pradina menyampaikan, saat itu dihubungi Made untuk dijemput dibawah hotel.
"(Kami) sempat bersitegang dengan Anggota Mabes Polri. Saat itu sempat minta tolong sama Made," timpalnya.

Sebelum menutup persidangan, Ketua Majelis Hakim Johannes Harmoni memerintah kepada saksi Ervan untuk membawa rekaman CCTV di Lantai 17. Hakim meminta agar GM hadir lagi dipersidangan untuk dikonfrontir. "Jadi untuk saksi Ervan dihadirkan lagi untuk dikonfrontir," tegasnya. (Tio)

Tercemar Limbah, Warga Beji Minta 4 Tuntutan
Para Tokoh Kritik Proyek Miliaran UT Surabaya