Menyoal Tangkapan SPBU Tegalsari, Polda Jatim Menolak Wawancara

Menyoal Tangkapan SPBU Tegalsari, Polda Jatim Menolak Wawancara

Potretkota.com - Dilepasnya Heni Subiyantoro, kernet truk tangki Pertamina keluaran tahun 2009 medel thead tronton L 9911 UX, yang ditangkap Polda Jatim Selasa (27/2/2018) lalu, baik Humas ataupun Subdit IV Tipidter Direskrimsus Polda Jawa Timur menolak diwawancara.

Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim, AKBP Rofiq Ripto Himawan melalui Kabidhumas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera, S.I.K menganggap konfirmasi kritik ini mencoreng institusi Polri. “Engga usah, (pertanyaan) kamu saya anggap tidak kredibel,” tegasnya, Kamis (12/7/2018).

Pernyataan Frans Barung Mangera yang sudah terlontar seolah ingin mengamankan jabatannya. Padahal, dalam UU No 2 Tahun 2012 tentang Polri, sesuai jargon Melindungi, Mengayomi, dan Melayani Masyarakat, Kapolri Tito Karnavian ingin agar humas kepolisian mampu membina hubungan baik dengan media.

Pria kelahiran Toraja, Sulawesi Selatan 1971 ini lupa, bahwa selama ini Polri digaji oleh negara. Jabatan profesional yang diemban selama ini merupakan bagian keringat uang rakyat yang ingin rasa keadilan, tanpa ada tebang piih.

BACA JUGA: Jaksa Bingung Isi Dakwaan Terdakwa SPBU Tegalsari

Seperti diketahui, kasus ini sudah bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Jaksa asal Kejati Jatim Muhammad Nizar bingung atas tulisanan dakwaan yang sudah dibacakannya. Kebingunan Jaksa terungkap saat Hakim Yulizar melontarkan pertanyaan pada saksi Heni Subiyantoro, alasan kenapa tidak ikut ditahan atau jadi tersangka di Polda Jatim.

“Kamu kok engga ditangkap juga?,” tanya Hakim Yulizar, dijawab Subiyantoro dengan balasan senyuman saja, Rabu (11/7/2018) di PN Surabaya.

Heni Subiyantoro dan Edy Praytino ditangkap saat kencing (istilah solar ilegal) Bahan Bakar Minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) 54.601.92 Tegalsari Surabaya, milik PT Jenggolo Makmur. Keduanya ditangkap bersama pegawai SPBU, Indra Hermawan dan diseret ke Polda Jatim.

Atas perbuatannya, Edy Praytino dan Indra Hermawan dijerat Pasal 55 UU RI No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara. Sedangkan Heni Subiyantoro tidak diadili berkeliaran bebas begitu saja. (Tio/Yon)

Hackers Malang Bobol Kartu Kredit Warga Amerika
PN Surabaya Sosialisasi Program E-Court