Roadshow Dakwah UAS di Pulau Garam Madura
Ustadz Abdul Somad saat mengisi ceramaha di Psantren al-Hamidi Pale Laok, Ketapang, Sampang, Madura.

Ribuan Umat Banjiri Tiap Titik Pengajian

Roadshow Dakwah UAS di Pulau Garam Madura

Potretkota.com - Roadshow dakwah Ustadz Abdul Somad atau yang akrab disapa UAS di Pulau Garam, Madura akhirnya usai. Perjalanan dakwahnya di pulau yang sukunya dikenal berwatak keras ini, tampak berjalan aman dan lancar meski sebelumnya sempat diberitakan akan ada aksi penolakan dari sekelompok massa. Di Madura, UAS justru disambut meriah oleh warga di sana.

UAS memulai perjalanan dakwahnya di Madura dengan mengisi tausiyah di Masjid Nur Muhammad di Kabupaten Sumenep, 20 Mei 2022. Kemudian malam harinya, UAS mengisi ceramah di Pondok Pesantren (Pon Pes) Al-Amin di Prenduan, Sumenep. Pon Pes Al-Amin sendiri dikenal sebagai salah satu pesantren di Indonesia yang memiliki taraf internasional.

Keesokan harinya, UAS melanjutkan dakwah di Pondok Pesantren Mauidzul Amin, di Bunangkah Tengah, Pamekasan, dan malam harinya di Pondok Pesantren Banyuanyar, di Jalan Potoan Dajah, Palengaan, Pamekasan. Dalam unggahan di Instagram pribadinya, UAS menuliskan bahwa ia mengambil barokah dari Raden Kyai Muhammad Rofiie Baidlawi.

“Pesantren Banyuanyar Madura. Pesantren usia 227 tahun. Ketika Sayyid 'Alawy al-Maliki mengajar di Masjidilharom, beliau melihat seorang tua sedang tawaf. Beliau bertanya kepada Kyai Baidlawi, “Siapa orang tua itu?”. Kyai Baidlawi menjawab, “Ayahku (Kyai Abdul Hamid)”. Sayyid 'Alawy berkata, “Beliau salah seorang wali Allah”. Uas mengambil barokah kepada Raden Kyai Muhammad Rofiie Baidlawi ibnu Kyai Abdul Hamid ibnu Kyai Itsbat di pesantren Banyuanyar,” tulis UAS.

Selain itu, UAS juga mengisi ceramah di Pesantren al-Hamidi asuhan KH. Abdul Hamid Akrim, di Pale Laok, Ketapang, Kabupaten Sampang. UAS juga hadir dan mengisi ceramah acara Haul Raden Ahmad ibnu Qabul Madura di Pondok Pesantren al-Ihsan, di Jrangoan, Omben, Sampang, dan terakhir UAS mengisi ceramah di Pesantren Darul Hasan, Bangkalan.

Sebagai penutup perjalanan dakwah di Madura, UAS berziarah ke makam Syaikh Kholil ibnu Abdillathif al-Bangkalani atau yang umum dikenal Mbah Kholil Bangkalan oleh banyak kalangan. UAS menorehkan bahwa Mbah Kholil merupakan guru para kyai. Terdapat sejumlah ulama besar yang hingga kini menjadi panutan kaum muslim di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa.

“Ziarah ke makam Mbah Kholil Bangkalan (Syaikh Kholil ibnu Abdillathif al-Bangkalani), wafat 1925. Gurunya para Kyai. Diantara murid-murid beliau Hadhratussyaikh Muhammad Hasyim Asy'ari, Mbah KH Wahab Hasbullah, Mbah KH Bisyri Syansuri, dll,” tulis UAS menutup perjalanan dakwah di Pulau Madura.

Sebelumnya, Ustadz Abdus Somad mengalami deportasi dari negara Singapura, Senin, (16/05/2022) pukul 13.30 WIB. Hal tesebut secara lengkap disampaikan UAS, sapaan akrab Ustadz Abdus Somad, melalui wawancara di salah satu stasiun TV. Saat itu, UAS bersama rombongan sebanyak 7 orang termasuk UAS. Setibanya di Bandara Singapura, rombongan masuk dalam 3 antrean.

“Saya semuanya berjumlah 7 orang, saya paling pinggir kanan. Lalu kemudian sahabat saya dengan istrinya dengan 2 anaknya 4 orang lewat dengan scane paspor dan cap 2 jempol sudah lewat, sudah keluar. Lalu mengambil koper disusul oleh anak dan istri saya juga lewat, mereka sama-sama mengambil koper dan mereka menunggu saya,” kata UAS dalam wawancaranya di TV.

Menurutnya, setelah rombongan lewat dari pemeriksaan dan hanya tinggal UAS, jarak antara UAS dengan rombongannya hanya sekitar 20 meter. Setelah UAS juga sudah melewati pemeriksaan, ketika hendak berjalan menyusul rombongannya, UAS tiba-tiba ditarik oleh petugas Bandara di Singapura. UAS menyatakan, kejadian itu bisa dilihat di CCTV imigrasi Singapura.

Selama proses tersebut, UAS mengungkapkan, kurang lebih selama 4 jam dirinya tertahan di Bandara Singapura. Ia menegaskan, UAS bersama rombongan sudah lewat dari pemeriksaan dan telah masuk ke Singapura. Rencananya, UAS bersama rombongan akan melakukan perjalanan wisata selama satu malam di Sangpaura dalam rangka liburan.

“Jadi kalau dikatakan apakah deportasi atau tidak dapat izin masuk, saya katakan sudah masuk. Lalu kemudian tentang kenapa tidak bisa berkomunikasi selama saya tertahan, karena disitu no phone, no picture, no camera. Ada tiga tulisan yang tidak dapat digunakan alat komunikasi sama sekali,” terang UAS menjelaskan.

Sementara itu, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha mengkonfirmasi kejadian yang dialami UAS saat hendak liburan di Singapura, bukanlah deportasi melainkan not to land atau penolakan masuk. Menurut Judha, UAS belum melewati proses imigrasi dan pemeriksaan.

“Yang bersangkutan belum lewat proses imigrasi dan pemeriksaan, dan sudah ditolak masuk. Jadi ada dua istilah yang harus kita pahami, soal deportasi dan not to land,” ucap Judha.

Tidak jauh berbeda dengan negara Singapura, di Indonesia sendiri, kata Judha, juga memiliki aturan keimigrasian yang diatur dalam UU Nomor 6 Tahun 2011. Dalam UU tersebut tertulis, bahwa kewenangan Indonesia untuk tidak menyampaikan alasan penolakan terhadap WNA untuk masuk ke wilayah RI. Kebijakan penolakan masuk juga dilakukan Indonesia.

Sejak Januari hingga 17 Mei 2022, tercatat ada 452 WNA yang ditolak masuk ke Indonesia dengan berbagai alasan keimigrasian, termasuk di antaranya warga negara Singapura. “Setiap negara memiliki kedaulatan masing-masing dan kebijakan imigrasi masing-masing mengenai siapa yang boleh masuk dan siapa yang tidak boleh masuk,” tukas Judha. (Red)

Festival Rujak Uleg HUT Surabaya 2022
Gubernur Lampung Lantik Tiga Pj Bupati