Saksi Korupsi Bojonegoro Diancam Ditembak Jaksa
Andi Fajar Nenggolan dipersidangan

17 Kali Diperiksa Kejaksaan

Saksi Korupsi Bojonegoro Diancam Ditembak Jaksa

Potretkota.com - Andi Fajar Nenggolan, mantan santri Pondok Darut Tawwabin, tahun 2007-2012 yang dipanggil Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Bojonegoro sebagai saksi Shodikin, S.Pd.I, terdakwa korupsi Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) Covid-19, mengaku saat diperiksa diancam tembak oleh oknum Kejaksaan.

"Saat diperiksa Kejaksaan, saya diancam ditembak," kata saksi Andi Fajar, Kamis (24/2/2022) di ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, sembari meragakan jari oknum Kejaksaan menempel dikepalanya.

Ancaman disebut saksi, dilakukan oleh Kasi Intel Kejaksaan, Edward Naibaho SH. "Saya diancam Jaksa Edward," tegasnya Andi Fajar menahan isak tangis.

Alasan itu yang membuat Andi Fajar mengakui menerima aliran dana Rp 600 ribu dari koordinator kecamatan (kortan) BOP Covid-19, untuk diberikan Shodikin. "Saya sekitar 17 kali diperiksa kejaksaan. Ada paksaan tanda tangan, kalau tidak saya engga boleh pulang," tambahnya dengan nada lantang.

Saksi Andi Fajar pun dalam sidang kemudian mencabut Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Nomor 9, 13 dan 20 yang sudah dibuat Kejaksaan. BAP tersebut berisi perintah Shodikin menerima Rp 600 ribu dari masing-masing kortan. "Kalau saya terima Rp 150 ribu, untuk pekerjaan masing-masing paket itu yang benar," jelasnya, jika dirinya ditunjuk oleh terdakwa Shodikin untuk pekerjaan input data dan mengantar barang protokol kesehatan di setiap kecamatan.

Sementara, Ketua Majelis Hakim I Ketut Suarta SH, MH yang mendengar keterangan saksi pun meminta agar JPU melakukan verbalisan terhadap Andi Fajar. "Jaksa nanti panggil penyidiknya, saksi ini harus di verbalisan," tegasnya, meminta agar saksi engga usah menangis dipersidangan, sebab segala sesuatu yang sudah dijelaskan ada konsekuensi hukumnya.

Usai sidang, JPU Tarjono SH didampingi JPU Marindra Prahandif, S.H, MH saat dikonfirmasi adanya keterangan saksi Andi Fajar dibawah ancaman tembak ataupun intimidasi dari Kejaksaan tidak bergeming. "Maaf, saya engga mau komentar," singkatnya.

Sedangkan, Pinto Utomo SH, MH pengacara Shodikin mengaku, saksi yang dibawah ancaman harus mendapat perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). "Nanti akan kita rapatkan dulu dengan tim," ujarnya.

Untuk diketahui, Kementerian Agama (Kemenag) menyalurkan BOP Covid-19 ke 937 Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA/TPQ) se Kabupaten Bojonegoro tahun 2020. Masing-masing lembaga penerima dapat Rp 10 juta.

Namun, terdakwa didakwa mengambil Rp 1 juta per TPA/TPQ. Rp 6 juta untuk pembelian alat kesehatan keperluan Covid-19 di PT Artha Teknik Indonesia dan PT Cahaya Amanah Nurul Falah, sisanya Rp 3 juta buat operasional masing-masing lembaga penerima

Uang Rp 1 juta, tidak dipakai oleh terdakwa sendiri, melainkan dibagikan ke masing-masing kortan Rp 400 ribu, untuk operasional dan laporan pertanggungjawaban. Karena takut, masing-masing kortan mengembalikan Rp 400 ribu ke negara diwakili Kejaksaan.

Hasil audit dan penghitungan dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jatim, ditemukan total kerugian negara Rp 1,007 miliar. Namun, selama penyidikan sudah ada pengembalian kerugian negara sebesar Rp 384 juta. (Hyu)

Kampung Peneleh Diusulkan Jadi Wisata Sejarah
Pemkot Bantah Bangli Gebang Berdiri di Saluran