Warga Gentong Menyoal Ganti Rugi Lahan Limbah
Kades Gentong, Misyono.

Misyono: Sudah saya ganti pakai uang pribadi

Warga Gentong Menyoal Ganti Rugi Lahan Limbah

Berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Timur No188/504/KPTS/013/2017 tanggal 12 September 2017, tim pengadaan memberi kewenangan penuh Kepala Desa dan Kuasa Dinas Lingkungan Hidup. Tugasnya yakni melakukan verifikasi dokumen lahan pengganti, melaksanakan pemberitahuan kepada masyarakat, pendataan awal lokasi lahan yang akan dibebaskan, dan melaporkan hasil pengadaan.

Potretkota.com - Dianggap ada kecurangan soal pembebasan lahan untuk pembangunan pusat pengelolaan sampah dan limbah industri Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), di Desa Gentong Kecamatan Taman Krocok Kabupaten Bondowoso, beberapa warga protes keras. Dalam buku audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jatim tahun 2017, meraka adalah Sn, tenaga kesehatan PNS Puskesmas di Bondowoso, dan Lk, PNS guru SMA di Bondowoso.

Keduanya protes, karena belum menerima uang ganti rugi atas penjualan lima bidang tanah yang dikuasai. Kepala Desa (Kades) Gentong Misyono mengaku pada Sn jika lahannya dihargai Rp 175.000.000, uang sudah ditransfer ke Sunandi dan Sutikno. Padahal Sn tidak mengenal keduanya. Berdasarkan laporan realisasi pembayaran ganti rugi, Sunandi mendapat tranferan Rp 110.723.046 dan Sutikno Rp 107.465.085.

“Saat itu saya diprotes, juga diancam dilaporkan. Tapi urusan Sn selesai, sudah saya ganti pakai uang pribadi,” terang Misyono, untuk penggantian sekitar Rp 300 juta, Minggu (10/2/2019) kemarin.

Pernyataan Misyono dengan memberikan uang pribadi kepada Sn patut disoal. Pasalnya, negara tahun 2017 melalui Provinsi Jatim dalam hal pembebasan lahan untuk pusat pengelolaan sampah dan limbah industri B3 sudah menyiapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Rp 14.5 miliar.

BERITA TERKAIT: Kades Gentong Terindikasi Mainkan APBD Rp 5,8 M

Lk pun demikian, Guru SMU ini telah mendapat informasi dari Awi, jika lahannya diklaim sudah dibeli Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Timur (Jatim) dengan harga jual Rp 180 juta, dan dilakukan pembayaran secara bertahap. Padahal, salah satu lahannya tidak dijual karena merupakan milik keluarga. Penetapan harga ini juga tidak disetujui oleh Lk, dan ia pun tidak pernah menandatangani dokumen penjualan tanah di Notaris. Berdasarkan laporan realisasi pembayaran ganti rugi, Awi menerima Rp 225.201.600.

Mengetahui hal tersebut, Misyono saat dikonfirmasi Potretkota.com terlihat lemas tak berdaya. “Sudah, sudah, urusan sudah selesai semua. Saya itu hanya korban,” dalihnya.

Anehnya, meski mengaku korban dan merugi karena sudah mengeluarkan uang secara pribadi, Misyono enggan melapor ke Polisi ataupun Kejaksaan. (Hyu)

28 Pasar Teluk Nibung Ludes Terbakar
Kirim Sabu ke Candi, Tom Adhitama Disidang