Sumber Air Abadi Jolotundo Tetap Mengalir Meski Musim Kemarau

avatar potretkota.com
Petirtaan Jolotundo.
Petirtaan Jolotundo.

Potretkota.com - Petirtaan Jolotundo di lereng barat Gunung Penanggungan, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, dikenal sebagai salah satu situs peninggalan bersejarah yang hingga kini masih memiliki sumber mata air yang terus mengalir.

Air jernih yang keluar dari puluhan pancuran di kompleks Petirtaan Jolotundo tersebut menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan. Bahkan, aliran air tetap mengalir meskipun memasuki musim kemarau.

Baca Juga: Demo Pasuruan: Air Bersih Lebih Mendesak daripada Rumah Podcast

Petirtaan Jolotundo berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Lokasinya yang berada di kawasan lereng Gunung Penanggungan membuat kawasan tersebut dikelilingi pepohonan dan vegetasi yang masih cukup terjaga.

Salah satu petugas Perhutani KPH Pasuruan, M. Isya, mengatakan kelestarian kawasan di sekitar Jolotundo menjadi bagian penting dalam menjaga keberadaan sumber mata air.

“Gunung Penanggungan masih terjaga dan tidak terjadi karhutla karena kesadaran masyarakat, wisatawan pendaki, serta petugas yang terus melakukan sosialisasi terkait bahaya kebakaran hutan dan lahan kepada masyarakat di lereng Gunung Penanggungan,” kata M. Isya, Senin (28/9/2026).

Menurutnya, kondisi lingkungan di sekitar Petirtaan Jolotundo yang masih hijau turut mendukung terjaganya sumber air yang menjadi daya tarik kawasan tersebut.

“Keasrian tanaman di atas Candi Jolotundo ikut menjaga kualitas air. Tempat ini juga menjadi tujuan wisatawan, baik untuk kegiatan spiritual maupun wisata, yang datang hampir sepanjang waktu,” imbuhnya.

Baca Juga: Bromo Marathon ke-13 Diikuti Hampir 3.000 Pelari dari 26 Negara

Petirtaan Jolotundo sendiri merupakan kompleks pemandian atau kolam suci peninggalan masa Kerajaan Medang atau Mataram Kuno. Situs tersebut berada di lereng barat Gunung Penanggungan dan menjadi salah satu peninggalan sejarah penting di kawasan Mojokerto. 

Berdasarkan angka tahun yang terdapat pada bagian bangunan, Petirtaan Jolotundo diperkirakan dibangun pada tahun 977 Masehi. Situs ini berkaitan dengan Raja Udayana dari Bali dan kelahiran putranya, Airlangga.

Keberadaan sumber air yang terus mengalir menjadi bagian penting dari daya tarik Petirtaan Jolotundo. Airnya terlihat jernih dan dialirkan melalui puluhan pancuran yang berada di kompleks petirtaan.

Masyarakat dan pengunjung juga memanfaatkan kawasan tersebut untuk berwisata, menjalankan tradisi, hingga mengambil air dari pancuran. Sebagian pengunjung meyakini air Jolotundo memiliki kualitas yang baik karena tetap jernih dan tidak berbau.

Baca Juga: Ketika Usaha Mebel Meredup, Warga Krapyakrejo Menanam Harapan Lewat Wisata Sayur

Evi Yuliani, pengunjung Jolotundo asal Legundi, Gresik, mengatakan kondisi lingkungan di sekitar petirtaan masih terasa asri meski cuaca cukup panas.

“Di lereng Gunung Penanggungan ini alamnya masih asri. Meskipun cuaca cukup panas, tanaman masih terjaga, tidak terlihat adanya kebakaran hutan, dan sumber mata airnya juga tetap terjaga,” kata Evi.

Keberlangsungan aliran air di Petirtaan Jolotundo menjadi salah satu alasan kawasan ini terus dikunjungi. Selain memiliki nilai sejarah dan spiritual, sumber air yang tetap mengalir di tengah perubahan musim menjadi bagian penting dari daya tarik Petirtaan Jolotundo hingga saat ini. (dyt)

Berita Terbaru