Talita Pelajar Italia Mengenal Indonesia Lewat Tari Tradisional

avatar potretkota.com
Talita Italia pertukaran pelajar belajar menari
Talita Italia pertukaran pelajar belajar menari

Potretkota.com - Gerakan tari yang asing bagi tubuhnya tak membuat Talita Faccioli menyerah. Sesekali ia harus memperhatikan gerakan teman-temannya lebih saksama, berusaha mengikuti irama dan rangkaian gerak yang belum pernah ia temui sebelumnya. Bagi pelajar asal Italia itu, setiap kesulitan justru menjadi bagian dari pengalaman untuk mengenal Indonesia lebih dekat.

Talita merupakan siswa State High School Enrico Medi, Italia, yang kini menjalani program pertukaran pelajar selama satu tahun di SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya. Selama berada di Indonesia, ia mengikuti kegiatan belajar bersama siswa kelas XI-1 IPA, sekaligus beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan kehidupan sosial yang berbeda dari tempat asalnya.

Baca Juga: 10 Ribu Guru Master STEM Akan Dilatih ke Luar Negeri

Keputusannya memilih Indonesia sebagai negara tujuan bukan tanpa alasan. Berbagai cerita positif tentang Indonesia dan masyarakatnya telah ia dengar sebelum datang ke negeri ini. Sementara penempatannya di SMATAG Surabaya merupakan bagian dari rekomendasi keluarga.

“Saya memilih Indonesia karena saya selalu mendengar hal-hal baik tentang negara ini dan orang-orang yang tinggal di dalamnya,” ujar Talita dengan menggunakan bahasa inggris, Rabu (30/9/2026) kemarin.

Namun, sesampainya di Surabaya, gambaran tentang Indonesia yang selama ini ia dengar harus berhadapan dengan pengalaman nyata. Perbedaan pertama yang ia rasakan muncul di ruang kelas.

Di Italia, Talita terbiasa belajar dalam kelas dengan jumlah siswa yang lebih sedikit, sekitar 20 orang. Di SMATAG Surabaya, ia harus menyesuaikan diri dengan suasana kelas yang dapat diisi hampir 40 siswa.

Perbedaan jumlah siswa itu bukan satu-satunya hal yang membuatnya harus beradaptasi. Bahasa juga menjadi tantangan tersendiri. Talita belum menguasai bahasa Indonesia, sementara tidak semua guru dan siswa terbiasa berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Pada masa-masa awal, percakapan sederhana pun terkadang menjadi tantangan. Namun, kesulitan itu tidak berlangsung lama. Teman-teman di SMATAG membantu menerjemahkan percakapan dan menjelaskan hal-hal yang belum dipahami Talita.

“Mereka selalu sangat baik, ramah, dan suka membantu,” tuturnya.

Dari situlah proses adaptasi Talita perlahan tumbuh. Bahasa yang belum sepenuhnya ia mengerti tidak lantas menjadi penghalang untuk membangun pertemanan. Teman-temannya justru terus berusaha mengajaknya berkomunikasi dan memperkenalkannya kepada siswa lain.

“Meskipun kami tidak selalu saling memahami, kami tetap berusaha untuk berkomunikasi,” katanya.

Lingkar pertemanan Talita pun semakin luas. Interaksi sehari-hari di sekolah membuatnya tidak hanya mengenal teman sekelas, tetapi juga siswa lain yang berada di lingkungan SMATAG.

Pengalaman tersebut sekaligus mempertemukannya dengan kehidupan Surabaya yang jauh berbeda dari kota kecil tempat ia tinggal di Italia. Sebagai kota besar, Surabaya menghadirkan suasana perkotaan yang menjadi pengalaman baru bagi Talita.

Perbedaan juga ia rasakan dari hal yang tampak sederhana: waktu matahari terbenam.

Baca Juga: GPRB Gugat Menteri Pendidikan Terkait Gelar Akademik Sukur Priyanto DPRD Bojonegoro 

Saat musim panas di Italia, Talita terbiasa melihat matahari masih berada di langit hingga sekitar pukul 21.00. Di Surabaya, hari terasa berakhir lebih cepat karena matahari terbenam sekitar pukul 17.00.

“Hal yang berbeda dari negara asal saya adalah semuanya di sini terasa terjadi sedikit lebih awal karena matahari terbenam sangat cepat,” ujarnya.

Di antara berbagai perbedaan itu, Talita justru menemukan sesuatu yang membuatnya semakin tertarik: budaya Indonesia.

Kesempatan untuk mengenal budaya lokal tidak hanya ia dapatkan dari kehidupan sehari-hari. Di SMATAG, Talita juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tari tradisional. Ia ingin melihat dan merasakan sendiri bagaimana kesenian tradisional menjadi bagian dari kehidupan siswa di Indonesia.

Bagi Talita, mengikuti tari tradisional bukan sekadar aktivitas di luar kegiatan akademik. Ia menjadikannya sebagai cara untuk mendekati budaya yang sebelumnya hanya ia kenal dari cerita.

Meski gerakan tari terasa berbeda dan tidak selalu mudah diikuti, ia tetap menikmatinya. Setiap gerakan menjadi pengalaman baru yang mempertemukannya dengan musik, seni, serta tradisi Indonesia.

“Saya benar-benar ingin bergabung karena ingin lebih mengenal budaya lokal, termasuk tari dan musik tradisional,” ungkapnya.

Baca Juga: LLDikti Tak Tahu Alamat Sekolah Sukur Priyanto Partai Demokrat

Ketertarikan itu menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan Talita selama menjalani pertukaran pelajar. Setahun berada di Indonesia, ia tidak ingin sekadar membawa pulang pengalaman akademik. Ia ingin memahami bahasa, kebiasaan, dan kehidupan masyarakat Indonesia melalui interaksi yang ia jalani setiap hari.

Lebih dari itu, ada satu hal yang ingin ia pertahankan bahkan setelah masa pertukaran pelajar berakhir: pertemanan.

Talita berharap hubungan yang terjalin dengan siswa SMATAG tidak berhenti ketika ia kembali ke Italia. Baginya, orang-orang yang ia temui selama berada di Surabaya menjadi bagian penting dari pengalaman yang akan ia kenang.

“Saya sangat berharap bisa mendapatkan persahabatan yang bertahan seumur hidup dan bisa mempelajari budaya serta bahasa Indonesia,” imbuhnya.

Masih ada waktu bagi Talita sebelum akhirnya meninggalkan Surabaya dan kembali ke Italia. Waktu itu ingin ia gunakan untuk terus mengenal lingkungan di sekitarnya, mencoba hal-hal baru, dan memahami Indonesia bukan hanya sebagai negara tujuan pertukaran pelajar, tetapi sebagai tempat yang memberinya pengalaman hidup.

Selama setahun, ruang kelas SMATAG menjadi tempat Talita belajar. Teman-teman di sekolah menjadi jembatan ketika bahasa menjadi batas. Sementara gerakan tari tradisional membuka jalan lain baginya untuk memahami budaya Indonesia.

Kelak ketika kembali ke Italia, yang dibawanya pulang bukan hanya catatan akademik dari sebuah sekolah di Surabaya. Ada bahasa baru yang mulai ia kenal, kebiasaan yang pernah ia rasakan, budaya yang sempat ia pelajari, dan persahabatan yang diharapkannya dapat bertahan jauh setelah satu tahun pertukaran pelajar itu berakhir. (KF)

Berita Terbaru