Ramlan Jual Medali Untuk Berobat

Pemain Persebaya Pernah Dihajar Supporter Pakistan

potretkota.com

Potretkota.com - Niat hati agar bendera Indonesia tetap selalu berkibar, salah satu mantan Pemain Persebaya yakni Ramlan (74) asal Gembong Gang 7 No 18 Kelurahan Kapasan, Simokerto Surabaya, dalam sejarah hidupnya pernah dikeroyok oleh supporter Pakistan. Saat ia dan kawan-kawan mencegah penurunan bendera Republik Indonesia (RI) di area lapangan.

Pria kelahiran tahun 1945 ini, yang saat ini tinggal di Jl Bromo No 10 PP Legi Indah Waru Sidoarjo, mengaku pernah dan kawan-kawan (tim pemain persebaya) dikeroyok oleh para supporter negara Pakistan.

Baca juga: Hakim Minta Pengurus KONI Kota Kediri Kembalikan Uang Korupsi

"Waktu itu Persebaya tanding di sana (Pakistan) mewakili Indonesia, skor 0-2 dan unggul Persebaya. Sekitar babak ke dua, menit ke 20, bendera (Indonesia) diturunkan oleh supporter sana. Disitulah para pemain engga terima dan akhirnya terjadi kerusuhan sehingga banyak yang kena pukul. Termasuk saya dikeroyok," aku Ramlan, saat ditemui Potretkota.com di Gembong Surabaya, Selasa (2/7/2019).

Meski pernah mengharumkan nama baik Indonesia, Ramlan menyebut selama ini tidak ada perhatian khusus dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Surabaya atau Pemerintah Kota Surabaya. "Gak ada mas, cuman hanya waktu itu saja, pas Asean Games 2018 dikasih Kaos, Jaket Trining dan uang Rp 5 juta," ujarnya.

Sekitar lima medali perhargaan yang ia dapat disaat menjadi pemain Persebaya, karena butuh uang, Ramlan sempat menjual ke toko emas tapi tidak laku. "Bapak saya dulu juga pemain Persebaya, namanya Jufri. Dan diteruskan oleh saya (Ramlan) dan adik kedua Arifin. Dulu bapak saya sakit, saya mau jual medali emas dari mulai jam hingga cincin perhargaan, tiga medali emas dan dua medali perak. Namun tidak laku,” tambahnya.

Baca juga: Lintas Generasi Ramaikan Acara Friday Night Run Pasuruan Kota

Karena itu, akhirnya ahun 1972 Ramlan memberikan medali ke warga temat tinggalnya, Gembong. “Medali tak kasihkan kepada para pemuda kampung, tapi tidak cuma-cuma. Saya suruh balapan lari dulu, dan yang menang saya kasih medali. Semua penghargaan itu sudah tidak ada, karena saya ingin menghilangkan jejak sebagai mantan pemain Persebaya," terangnya.

Selama menjadi pemain Persebaya, Ramlan pernah bermain di tiga negara mulai dari Pakistan, Korea, dan Malaysia. Ditahun 1964 kronologi yang terparah di Senayan, waktu itu Persebaya vs Bandung.

Baca juga: Sumpah Pemuda BMX Race di Pasuruan, Lokal Jadi Regional

Saat ditanya soal supporter, Ramlan mengaku Bonek dulu dan sekarang ada perbedaannya. "Muncul nama bonek itu tahun 1990, Bonek dulu dan sekarang berbeda. Lebih baik sekarang. Sekarang lebih bisa menahan emosi, santun dan baik. Kalau dulu sulit diatur dan brutal," urainya.

Ramlan mengklaim, mulai masuk Persebaya Junior semenjak umur 16 tahun, mulai tahun 1960-1969. "Kira-kira mulai SMP, dan waktu mulai bermain resmi itu ketika Persebaya vs Persekap di Pasuruan. Dan saat itu tiap main dibayar Rp 1.500,- (seribu lima ratus rupiah) di tahun 60-an," pungkasnya. (SA)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru