Surabaya Dorong Eco Composter, Ubah Sampah Rumah Tangga Jadi Kekuatan Ekonomi Sirkular

avatar potretkota.com
Ali Yusa
Ali Yusa

Potretkota.com - Kota pesisir terbesar di kawasan timur Indonesia ini kembali menegaskan identitas maritimnya melalui inovasi pengelolaan sampah berbasis sumber. Dengan timbulan sampah mencapai 1.600–1.800 ton per hari, tantangan besar dihadapi untuk menjaga ekosistem laut tetap sehat.

Meski telah meraih predikat Kota Terbaik I dalam Pengelolaan Sampah Nasional 2025 dengan skor 74,92, Pemerintah Kota Surabaya kini mendorong perubahan paradigma, dari sekadar membersihkan sampah menjadi mengurangi produksi sampah sejak dari rumah tangga.

Baca Juga: DLH Bungkam Soal Selisih Ratusan Juta Retribusi Kebersihan Surabaya

Salah satu strategi utama adalah penerapan Eco Composter, yaitu sistem pengolahan sampah organik langsung di sumbernya. Metode ini mencakup penggunaan komposter rumah tangga seperti Takakura, biopori, hingga komposter komunal di tingkat RT.

Program ini diproyeksikan mampu mengurangi hingga 40�ban sampah organik yang selama ini berakhir di Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Selain berdampak ekologis, efisiensi juga terjadi pada anggaran daerah, terutama dalam pengurangan biaya logistik pengangkutan sampah yang diperkirakan mencapai 20–25%.

Tak hanya itu, pendekatan berbasis teknologi juga mulai diterapkan. Integrasi Internet of Things (IoT) memungkinkan pemantauan volume sampah yang diolah secara real-time di setiap wilayah. Sistem ini dilengkapi skema poin digital sebagai insentif bagi masyarakat yang aktif mengelola sampahnya.

Langkah ini dinilai penting untuk mencegah kebocoran sampah ke saluran air yang bermuara ke kawasan pesisir, seperti Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) dan Teluk Lamong.

Baca Juga: Ancaman Bencana Akibat Hutan Nongkojajar Dibabat Perhutani

Dalam skema ekonomi sirkular, Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) menjadi ujung tombak. Lembaga ini berperan sebagai penghubung antara warga dan pasar, dengan membeli hasil kompos serta mendistribusikannya untuk kebutuhan urban farming dan industri lanskap.

Pemberdayaan komunitas lokal seperti RT/RW, PKK, Karang Taruna, hingga kelompok sadar wisata (Pokdarwis) juga menjadi bagian dari strategi berlapis untuk memastikan keberlanjutan program.

Pendekatan kolaboratif Hepta Helix turut diusung, melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, lembaga keuangan, dan inovator teknologi.

Baca Juga: Polres Pasuruan, Anggota DPRD dan Pegiat Lingkungan Tebar 6.000 Benih Ikan dan Bagikan Bibit Pohon

Menurut Ali Yusa, Pengurus PII Jawa Timur sekaligus Dewan Pakar IKA ITS Surabaya, langkah ini merupakan bentuk transformasi budaya yang dimulai dari rumah tangga.

“Surabaya tidak hanya ingin dikenal sebagai kota bersih, tetapi juga sebagai kota maritim modern yang mampu menjaga lautnya melalui perubahan perilaku warganya,” ujarnya. (Hyu)

Berita Terbaru