Potretkota.com - Langkahnya pelan, di usianya yang ke 85 tahun, Mislicha akhirnya menjejakkan kaki di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, sebuah titik yang selama puluhan tahun hanya ia bayangkan dalam doa-doanya.
Di sampingnya, sang putri, Mariatul Qibtiyah, setia mendampingi. Keduanya bersiap menuju Tanah Suci, sebuah perjalanan yang bukan sekadar fisik, tetapi juga perjalanan panjang kesabaran dan ketekunan.
Baca Juga: AKBP Harto Agung Cahyono: UU Kepolisian Jadi Momentum Tingkatkan Profesionalisme
Tak banyak yang tahu, di balik senyum tenang perempuan sepuh ini, tersimpan cerita perjuangan yang sederhana namun menggetarkan. Selama puluhan tahun, Mislicha berkeliling menjajakan cilok di kawasan Bugul Kidul, Kota Pasuruan.
Dari hasil jualan yang tak seberapa, ia menyisihkan uang setiap hari Rp10 ribu, kadang Rp25 ribu, jumlah kecil yang bagi banyak orang mungkin tak berarti, tetapi bagi Mislicha adalah jembatan menuju impian besar.
Hari demi hari, tahun demi tahun, kebiasaan itu tak pernah ia tinggalkan. Bahkan ketika usia kian renta, semangatnya tak ikut surut. Ia juga mengikuti arisan kampung, menambah sedikit demi sedikit tabungan yang kelak menjadi bekal ke Tanah Suci.
Baca Juga: Setahun Polisi Tangkap Suami Istri Pelaku Begal Ibu Hamil di Pasuruan
Tahun 2017 menjadi tonggak penting. Dengan tabungan dan uang arisan yang terkumpul sebesar Rp25 juta, Mislicha bersama putrinya mendaftarkan diri untuk berhaji. Tiga tahun berselang, tepatnya 2020, biaya haji mereka lunas. Namun perjalanan belum selesai, mereka masih harus menunggu panggilan keberangkatan.
Mislicha tercatat sebagai calon jemaah haji tertua dari Kota Pasuruan tahun ini. Ia tergabung dalam Kloter 10 Embarkasi Surabaya dan dijadwalkan terbang menuju Madinah melalui Bandara Internasional Juanda.
Baca Juga: Polres Pasuruan Sabet Lima Medali di HUT Bhayangkara ke-80
Di tengah hiruk pikuk persiapan keberangkatan, suara Mislicha terdengar lirih namun penuh rasa syukur. “Saya sangat bersyukur akhirnya bisa berangkat haji. Dari dulu menabung sedikit demi sedikit dari jualan cilok, semoga ibadah saya nanti lancar dan sehat sampai pulang,” tuturnya.
Kisah Mislicha bukan sekadar cerita tentang ibadah haji. Ini adalah potret keteguhan hati, tentang bagaimana keterbatasan ekonomi tak mampu membendung niat yang dirawat dengan disiplin dan kesabaran. Dari gerobak cilok sederhana, ia menenun harapan hingga akhirnya terwujud dalam perjalanan suci. (KF)
Editor : Redaksi