Potretkota.com - Paguyuban Aksara Nusantara Jawa Timur terus mendorong pelestarian dan pengenalan aksara Jawa agar semakin dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda dan pelajar di tingkat pendidikan dasar dan menengah. Upaya tersebut mendapat tindak lanjut setelah perwakilan paguyuban melakukan pertemuan dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di Jakarta pada Kamis, pukul 11.00–13.00 WIB.
Dalam pertemuan tersebut, Paguyuban Aksara Nusantara menyampaikan aspirasi secara langsung kepada perwakilan bidang yang menangani aksara dan bahasa, yakni Mufid Hafiz Muhsin, sebagaimana disampaikan oleh Taufik Hidayat, pemilik Sanggar Gusti yang akrab disapa Monyong.
Baca Juga: 10 Ribu Guru Master STEM Akan Dilatih ke Luar Negeri
Taufik menjelaskan, pertemuan tersebut menjadi langkah penting untuk menyampaikan berbagai harapan dan gagasan komunitas dalam memperluas pengenalan aksara Jawa, sekaligus mendorong agar pembelajarannya dapat terintegrasi dalam kegiatan pendidikan di sekolah.
Menurutnya, gerakan pengenalan aksara Jawa yang dilakukan Paguyuban Aksara Nusantara telah dimulai sejak 9 April 2021 melalui podcast Podo Joyonya TV. Bersama sejumlah pegiat, mereka secara konsisten menyampaikan makna, arti, dan pesan yang terkandung dalam aksara Jawa hingga 2025.
Namun, dalam perjalanannya, mereka menyadari bahwa media podcast masih memiliki keterbatasan jangkauan. Konten digital tersebut cenderung lebih mudah diakses oleh masyarakat yang memiliki gawai dan menggunakan media sosial.
“Kami berpikir perlu ada pola pendekatan yang lebih efektif agar pengenalan aksara Jawa bisa sampai kepada masyarakat lapisan bawah, terutama warga di desa-desa dan kampung-kampung. Harapan terbesar kami, aksara Jawa juga bisa diajarkan di sekolah-sekolah sebagai bagian dari pembelajaran pendidikan dasar dan menengah,” ujar Taufik.
Kartu Aksara Jawa sebagai Media Pembelajaran
Berangkat dari pemikiran tersebut, pada 2025 Paguyuban Aksara Nusantara mulai mengembangkan kartu aksara Jawa sebagai alat peraga edukatif. Media ini dirancang untuk memudahkan masyarakat mengenal, membaca, dan mempelajari aksara Jawa dengan cara yang lebih praktis dan menarik.
Dalam proses pembuatannya, Taufik bekerja bersama tim, termasuk Joel Christian sebagai kreator visual yang mengembangkan desain berdasarkan gagasan awal yang disusunnya. Proses tersebut juga melibatkan tim produksi dan administrasi, di antaranya Wahyu Luhur, Pak Mujo, serta sejumlah anggota lainnya yang turut memberikan masukan dan koreksi.
Kartu aksara Jawa tersebut kemudian diluncurkan pada 23 Juli 2026 di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya. Peluncuran itu dibuka oleh Untari, Ketua Komisi E, sebagaimana disampaikan oleh Taufik.
Setelah peluncuran, tim melakukan kegiatan sosialisasi dan pengenalan di sejumlah wilayah, antara lain Madura, Tuban, Jember, dan Surabaya. Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat.
Meski demikian, upaya memperluas penggunaan kartu aksara Jawa masih menghadapi tantangan, terutama terkait biaya produksi dan pengembangan media pembelajaran. Beban biaya tersebut menjadi salah satu kendala bagi komunitas untuk memproduksi kartu dalam jumlah lebih besar agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
Kendala serupa juga dirasakan ketika mereka melakukan sosialisasi dalam kegiatan Kongres Kebudayaan di Malang.
“Respons masyarakat cukup baik. Namun, kami masih menghadapi persoalan biaya produksi yang cukup besar. Karena itu, kami berharap ada dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak agar media pembelajaran ini bisa menjangkau lebih banyak masyarakat,” jelasnya.
Baca Juga: Beredar di Indonesia, 1500 Kartu Remi Aksara Jawa Ludes Terjual
Berharap Ada Dukungan Pemerintah
Sebagai bagian dari upaya memperkuat gerakan tersebut, Paguyuban Aksara Nusantara mengirimkan surat kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk memperoleh dukungan terhadap program pengenalan dan pembelajaran aksara Jawa.
Taufik menyebut, semangat gerakan tersebut juga berangkat dari kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengenai pembelajaran bahasa daerah di sekolah, yang dalam keterangannya merujuk pada Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 19 Tahun 2014 dan Peraturan Gubernur Nomor 36 Tahun 2024.
Menurutnya, dukungan pemerintah sangat dibutuhkan agar pelestarian aksara Jawa tidak hanya berhenti pada kegiatan komunitas, tetapi juga dapat dikembangkan melalui program pendidikan yang berkelanjutan.
Ia berharap kartu aksara Jawa dapat menjadi salah satu alternatif media pembelajaran yang membantu guru dan pelajar mengenal aksara Jawa secara lebih menyenangkan, interaktif, dan mudah dipahami.
Koordinasi Lanjutan dengan Balai Bahasa Jawa Timur
Sebagai tindak lanjut pertemuan di Jakarta, Paguyuban Aksara Nusantara dijadwalkan berkoordinasi dengan pimpinan Balai Bahasa di Jawa Timur pada Kamis, 15 Oktober 2026, sekitar pukul 08.30 WIB.
Pertemuan tersebut direncanakan menjadi forum diskusi lanjutan untuk membahas peluang kerja sama, penguatan program sosialisasi, serta kemungkinan dukungan terhadap pengembangan media pembelajaran aksara Jawa.
Ke depan, Paguyuban Aksara Nusantara juga ingin mengembangkan berbagai kegiatan edukatif yang melibatkan pemerintah, sekolah, pelajar, dan masyarakat luas. Bentuk kegiatannya antara lain lomba menulis aksara Jawa, lomba mengenal aksara, lomba membaca kartu aksara, serta permainan edukatif berbasis aksara Jawa.
Taufik menilai, keterlibatan para kreator dan pegiat dalam paguyuban menjadi modal penting untuk menghadirkan metode pembelajaran yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami ingin terus berjalan bersama pemerintah dan membersamai para pelajar. Banyak hal yang bisa dikembangkan, mulai dari lomba menulis dan membaca aksara, mengenal karakter aksara, hingga permainan edukatif menggunakan kartu aksara Jawa,” ungkapnya.
Ia berharap hasil pertemuan di Jakarta menjadi awal dari kerja sama yang lebih konkret antara komunitas dan pemerintah, sehingga upaya pelestarian aksara Jawa dapat berjalan lebih luas, terarah, dan berkelanjutan.
Bagi Paguyuban Aksara Nusantara, pelestarian aksara Jawa bukan sekadar menjaga warisan budaya, melainkan juga memastikan generasi muda tetap mengenal, memahami, dan mampu menggunakan aksara leluhur sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. (Hyu)
Editor : Redaksi