Potretkota.com - Perlahan, konsisten, dan penuh kesabaran. Bertahun-tahun mengenalkan aksara Jawa atau hanacaraka kepada masyarakat melalui pertemuan langsung maupun media sosial, Taufik Hidayat akhirnya melahirkan sebuah inovasi budaya yaitu kartu remi berbasis aksara Jawa.
Gagasan itu muncul tak lama setelah Taufik alias Monyong mendirikan Sanggar Gusti di Surabaya pada Februari 2026. Beberapa bulan kemudian, tepatnya pertengahan Mei, ia mulai membuat kartu remi aksara Jawa sebagai media alternatif untuk mengenalkan warisan budaya Jawa dengan cara yang lebih dekat dengan generasi muda.
Baca Juga: Teror Penghapusan Berita Digital Jadi Sorotan, Praktisi Tekankan Perlindungan Karya Jurnalistik
Tak disangka, respons masyarakat cukup besar. Kartu remi aksara Jawa yang awalnya dibuat dalam jumlah terbatas justru mendapat banyak peminat. Taufik Monyong kemudian mencetak 1.500 kartu untuk disebarkan dan dijual ke berbagai daerah di Indonesia.
“Untuk sementara modalnya hanya 1.500 kartu remi aksara Jawa. Kalau ingin pesan, monggo ke Sanggar Gusti saja,” kata Taufik, Rabu (15/6/2026).
Karena dibuat sebagai edisi khusus, kartu remi aksara Jawa tersebut dijual dengan harga Rp50 ribu per set. Jumlah kartunya pun berbeda dengan kartu remi konvensional yang umumnya terdiri dari 54 kartu. Kartu karya Taufik berisi 94 kartu dengan berbagai muatan filosofi dan unsur kebudayaan Jawa.
Setiap kartu tidak hanya menampilkan aksara Jawa, tetapi juga memuat unsur wilangan atau bilangan yang mengajarkan konsep ruang dan waktu dalam tradisi Jawa, seperti Saptawara dan Pancawara. Selain itu, kartu tersebut juga mengangkat filosofi tokoh pewayangan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
Bagi Taufik, kartu ini bukan sekadar permainan. Ia ingin menjadikan kartu remi aksara Jawa sebagai media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus sarana mengenalkan nilai-nilai budaya kepada masyarakat luas.
Baca Juga: Politisi NasDem Dituntut 6 Tahun 6 Bulan Penjara dalam Perkara Korupsi Mamin DPRD Jember
Mimpinya bahkan tidak berhenti pada pasar umum. Taufik berharap kartu remi aksara Jawa dapat diterapkan di lingkungan sekolah tingkat SMA dan SMK di Jawa Timur. Sebab, kartu tersebut dirancang dengan delapan format permainan, mulai dari permainan edukasi umum hingga pembelajaran karakter berbasis filosofi Jawa.
Upaya pelestarian budaya melalui inovasi tersebut mendapat perhatian dari DPRD Jawa Timur. Ketua Komisi E DPRD Jatim, Sri Untari Bisowarno, menilai kehadiran kartu aksara Jawa karya Taufik Hidayat menjadi salah satu langkah konkret untuk menjaga kebudayaan Nusantara di tengah derasnya arus modernisasi.
Menurut Komsi E DPRD Jatim, pola pembelajaran aksara Jawa melalui media kartu dapat segera diterapkan melalui pelatihan guru secara masif. Implementasi di sekolah nantinya dapat didorong melalui forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
Baca Juga: Terdakwa Korupsi Akui Sisihkan Dana Hibah Jatim untuk Pembelian Rumah GP Ansor Bondowoso
Komisi E DPRD Jatim juga mendorong Dinas Pendidikan Jawa Timur untuk mengkaji penerapan metode pembelajaran aksara Jawa berbasis kartu tersebut agar dapat masuk dalam pembelajaran di SLTA.
“Memasukkan pola pembelajaran aksara Jawa melalui kartu ini merupakan inovasi budaya yang sangat strategis untuk mengubah pola pemahaman generasi muda tentang jati diri bangsa yang sebenarnya,” kata Sri Untari.
Melalui kartu sederhana, Taufik mencoba menghadirkan cara baru agar aksara Jawa tidak hanya tersimpan dalam buku pelajaran atau museum, tetapi kembali hidup dalam keseharian masyarakat. (Hyu)
Editor : Redaksi