Potretkota.com - SMA Trimurti diakui sebagai Sekolah nasionalis pertama yang berdiri di Surabaya. Sekolah yang berada di bawah Yayasan Trimurti tersebut ikut berkontribusi terhadap kecerdasan bangsa. Hal itu, yang disampaikan Kepala SMA Trimurti, Syarif Andri Setyawan.
Menurutnya, SMA Trimurti sudah berkiprah dalam mencerdaskan bangsa cukup lama. Karena itu, sekolah yang berdiri sejak 1954, merupakan sekolahan nasionalis pertama yang ada di Surabaya.
Baca juga: Gus Ofi Pasuruan Terima Aliran Dana Hibah PKBM Rp606 Juta
"Kami sudah berkiprah cukup lama untuk negeri ini, dan bahkan merupakan sekolahan nasionalis pertama yang berdiri di surabaya," kata Kepala Sekolah Syarif Andri Setyawan saat upacara acara Hari Ulang Tahun (HUT) SMA Trimurti ke-66, Jumat (7/8/2020) kemarin.
Dengan tema 'Di Sanalah Kami Mengabdi', sangat menunjukkan suatu tekad keluarga besar SMA Trimurti mulai dari Guru hingga Siswa-siswinya berupaya memberi kontribusi yang terbaik untuk negeri. Syarif Andri Setyawan berharap agar lebih bisa lagi berkiprah untuk mencerdaskan bangsa. "Harapan saya, di usianya yang sangat matang ini dapat berkiprah untuk mencerdaskan bangsa, dengan mematuhi apa yang diminta pemerintah," lanjutnya.
Baca juga: Ketika Jawaban Benar Jadi Salah, GMNI Soroti Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI di Pontianak
Kali pertama SMA Trimurti merayakan ulang tahunnya di tengah Pandemi. Sehingga, semua kegiatan harus dijalankan sesuai protokol kesehatan. Karenanya, acara puncaknya yang mengajak para siswa-siswi, guru, alumni, dan keluarga besar Trimurti untuk menyanyikan Hymne Trimurti secara daring.
Virtual Performance yang diikuti kurang lebih 300 peserta pada hari minggu tersebut merupakan acara puncak. Karena, sebelumnya sudah diawali dengan serangkaian kegiatan di antaranya upacara, pelepasan balon, serta tumpengan yang dilaksanakan.
Di tengah musim pageblug (Virus Corona) ini memang semua kegiatan belajar dilakukan secara daring. Namun, pihak sekolah menurutnya tetap memberikan seminar online untuk memberi penajaman materi pada anak didiknya. "Biar tidak bosan belajar (di musim pandemi yang dilaksanakan secara online), kami memberi variasi dengan mengadakan seminar sebulan sekali," tambahnya.
Baca juga: Krisis Pendidikan dalam Perspektif Freire dan Ki Hadjar Dewantara
Lebih lanjut, Syarif Andri Setyawan, menyampaikan bagi peserta didiknya yang kendala di dalam mengikuti pembelajaran yang menggunakan sistem online karena keterbatasan alat. Ia sudah meminta izin pada Dinas Pendidikan, agar siswa-siswinya yang punya kendala tersebut bisa diberi pembelajaran secara offline.
"Kami sudah sampaikan kepada dinas, bagi siswa yang memiliki kendala di sistem online karena beberapa sebab, seperti tidak ada pendampingan orang tua karena sibuk, itu kami lakukan secara offline," pungkasnya. (Qin)
Editor : Redaksi