Potretkota.com - Suara ketukan tatah terdengar pelan dari sebuah rumah sederhana di Kampung Plampitan, Surabaya. Di hadapan Danar Dwi Putra, lembaran kulit kerbau perlahan berubah menjadi sosok wayang.
Tangan pria berusia 36 tahun itu bergerak hati-hati. Setiap lubang dan lekukan ditatah satu per satu, mengikuti pola yang telah dibuat sebelumnya. Tidak ada mesin canggih. Hanya seperangkat peralatan sederhana dan ketelitian yang menjadi modal utama.
Baca juga: Aroma Jamu Rempah Tembokrejo Menembus Kota Wisata Batu
Di tengah derasnya arus budaya modern yang semakin akrab dengan generasi muda, Danar justru memilih jalan berbeda. Ia menekuni dunia wayang kulit, bukan sekadar sebagai kolektor, tetapi juga dengan belajar menjadi perajin secara mandiri.
Kecintaannya terhadap wayang bermula dari hobi mengoleksi sejak 2019. Kini, koleksi Danar telah mencapai sekitar 85 wayang kulit. Sebagian di antaranya merupakan wayang Jawa Timuran, seperti Semar, Bima, dan Arjuna.
“Saya mulai hobi mengoleksi wayang kulit sejak 2019. Yang saya koleksi terutama wayang Jawa Timuran, seperti Semar, Bima, dan Arjuna,” ujar Danar.
Bagi Danar, setiap wayang tidak sekadar menjadi benda koleksi. Ada sejarah dan cerita yang melekat di balik bentuk dan karakternya.
Salah satu koleksi yang ia simpan adalah wayang Batara Guru yang dibuat pada 1932. Wayang berusia puluhan tahun itu menjadi salah satu bagian penting dari koleksinya.
“Ada juga koleksi Batara Guru yang dibuat pada tahun 1932,” katanya.
Namun, merawat wayang lama bukan perkara mudah. Seiring berjalannya waktu, sejumlah koleksi Danar mulai rapuh dan mengalami kerusakan. Kondisi itulah yang kemudian mendorongnya mencoba membuat duplikat.
“Banyak wayang yang sudah berusia tua, beberapa di antaranya sudah rapuh. Jadi saya mencoba membuat ulang atau menduplikasinya dengan bahan kulit yang baru,” jelasnya.
Dari situlah Danar mulai belajar menatah secara mandiri. Ia melakukan proses ngreblok, yakni menduplikasi bentuk wayang lama ke dalam lembaran kulit baru.
Sekitar 20 dari 85 koleksi wayang yang dimilikinya kini merupakan hasil buatannya sendiri.
Dalam proses pembuatan, Danar berusaha mempertahankan bentuk wayang sedekat mungkin dengan aslinya. Pola dibuat terlebih dahulu, kemudian dipindahkan ke kulit kerbau untuk ditatah secara manual.
Setiap detail membutuhkan kesabaran. Lubang-lubang kecil, lekukan tubuh, hingga ornamen pada wayang harus dikerjakan dengan ketelitian agar tidak merusak pola.
“Satu wayang bisa dibuat sampai dua minggu. Yang paling sulit adalah membuat detail lekuk dan lubang-lubangnya, karena harus ditatah dengan teliti agar tidak salah,” tutur Danar.
Baca juga: Surat Disbudporapar Disoal DKS, Advokat Siapkan Langkah Hukum
Namun, Danar tidak berhenti pada upaya menduplikasi wayang lama. Latar belakangnya sebagai lulusan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya membuatnya tertarik mengeksplorasi kemungkinan lain dari seni wayang kulit.
Ia kemudian mencoba membawa imajinasi manga ke dalam karakter wayang yang dibuatnya.
Bagi Danar, tradisi tidak harus selalu berhenti pada bentuk yang sama. Wayang dapat tetap berpijak pada akar budayanya, tetapi memiliki ruang untuk berkembang mengikuti zaman.
“Saya mencoba membuat wayang kontemporer dengan imajinasi manga, sehingga wayang tidak hanya terpaku pada bentuk yang sudah ada, tetapi bisa dikembangkan dengan kreativitas,” ungkapnya.
Eksperimen tersebut menjadi cara Danar untuk mencari jembatan antara dunia tradisional dan selera visual generasi muda. Karakter wayang yang selama ini lekat dengan pakem tradisional ia beri sentuhan baru melalui bentuk dan imajinasi yang lebih modern.
Di tangan Danar, kulit kerbau bukan sekadar bahan. Ia menjadi medium untuk mempertemukan dua dunia yang berbeda: warisan budaya yang telah hidup selama berabad-abad dan imajinasi populer yang tumbuh di era modern.
Menekuni pembuatan wayang ternyata juga mulai memberikan hasil secara ekonomi. Sejumlah karya buatan Danar telah dipesan oleh sesama penghobi wayang kulit.
Baca juga: Semarak HUT RI ke 80 di Rungkut Kidul, Lurah: Luar Biasa
Harga setiap karya bervariasi, mulai dari Rp400 ribu hingga Rp1,2 juta, bergantung pada karakter dan tingkat kerumitan tatahannya.
“Ada beberapa wayang yang sudah dipesan oleh sesama penghobi wayang kulit,” kata Danar.
Meski mulai menghasilkan pendapatan, bagi Danar, uang bukan satu-satunya alasan untuk terus menatah.
Di balik setiap ketukan tatah yang ia lakukan, ada keinginan sederhana: menjaga agar wayang kulit tidak berhenti menjadi sekadar peninggalan masa lalu.
Ia menyadari bahwa generasi muda memiliki banyak pilihan hiburan dan referensi budaya. Karena itu, wayang perlu diberi ruang untuk beradaptasi tanpa harus kehilangan jati dirinya.
Danar memilih berkontribusi dari ruang kecil di rumahnya, melalui lembar demi lembar kulit kerbau yang ia tata dengan tangannya sendiri.
“Saya ingin wayang kulit tetap ada dan bisa diterima generasi muda, salah satunya dengan menghadirkan karya yang lebih kontemporer,” pungkasnya. (KF)
Editor : Redaksi