Potretkota.com - Tumpukan plastik dan tutup botol yang bagi sebagian orang hanya dianggap sebagai sampah, di tangan warga Bank Sampah Unit Sekar Wangi justru menjelma menjadi karya yang menarik perhatian. Dari bahan-bahan bekas itu, lahir pakaian karnaval, daster, tas, tikar hingga lukisan yang menunjukkan bahwa sampah pun bisa memiliki nilai ketika disentuh kreativitas.
Di tangan kreatif, sampah tak selalu berakhir di tempat pembuangan. Di Bank Sampah Unit Sekar Wangi, RT 1 RW 3, Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, limbah plastik justru disulap menjadi berbagai karya bernilai ekonomi.
Baca Juga: Lokasi Dugaan Penjualan Pil Koplo Dekat 3 Sekolah dan Ponpes
Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah pakaian daur ulang, termasuk daster dan busana karnaval yang dibuat dari material bekas. Kreasi tersebut menjadi bukti bahwa proses memilah sampah tidak hanya berdampak terhadap kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka ruang bagi kreativitas masyarakat.
Direktur Bank Sampah Unit Sekar Wangi, Dewi Kartini mengatakan ide mengolah sampah menjadi kerajinan muncul dari inspirasi para pegiat lingkungan yang lebih dahulu berkarya dengan barang bekas.
“Kami terinspirasi dari pegiat yang lebih senior yang terus berkarya dari sampah dan kami kembangkan dengan beragam kreasi kerajinan setelah memilah sampahnya seperti plastik,” kata Dewi Kartini, Senin (24/8/2026).
Bagi Dewi dan timnya, memilah sampah merupakan langkah awal sebelum material bekas tersebut diberi kehidupan baru. Plastik yang telah dipisahkan kemudian dipilih dan diolah sesuai karakter serta kebutuhan produk.
Baca Juga: Gang Sempit Kota Pasuruan Disinyalir Jadi Tempat Aman Transaksi Pil Koplo
Upaya tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Kelurahan Gentong. Lurah Gentong, Arief Harnanto, menilai kreativitas Bank Sampah Sekar Wangi menunjukkan bahwa sampah dapat memiliki nilai lebih ketika dikelola dengan baik.
“Kreatifitasnya sangat bagus dan hal semacam ini agar nantinya bisa dicontoh oleh bank sampah lainnya dalam mengelola bahan sampah yang diolah menjadi barang bernilai ekonomi seperti lukisan dari tutup botol air mineral,” ujar Arief.
Dukungan pemerintah kelurahan menjadi angin segar bagi para pengelola. Sebab, keberadaan bank sampah tidak sekadar menjadi tempat pengumpulan limbah, tetapi juga dapat menjadi ruang pemberdayaan warga melalui keterampilan mengolah barang bekas.
Baca Juga: Melihat Serunya Anak Usia Dini Belajar di Kampung Bunga
Karya-karya Sekar Wangi pun mendapat perhatian dalam penilaian lomba pilah sampah yang diikuti 34 kelurahan di Kota Pasuruan. Produk hasil kreativitas bank sampah tersebut ditinjau oleh Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Pasuruan.
Di tengah persoalan sampah plastik yang terus menjadi tantangan lingkungan, apa yang dilakukan Bank Sampah Sekar Wangi menunjukkan satu hal sederhana: barang yang dianggap tidak bernilai masih dapat memiliki kehidupan kedua. (dyt)
Dari plastik bekas menjadi pakaian. Dari tutup botol menjadi lukisan. Dari sampah menjadi karya. Di tangan warga yang mau memilah dan berkreasi, sampah bukan lagi sekadar persoalan, melainkan peluang. (dyt)
Editor : Redaksi