Potretkota.com - Aroma jahe, temulawak, dan kencur menyeruak dari dapur sederhana milik para ibu di RW 2 Kelurahan Tembokrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan. Di tempat inilah rempah-rempah pilihan diolah menjadi jamu bubuk instan yang kini tidak hanya dinikmati masyarakat sekitar, tetapi juga telah merambah pasar hingga Kota Batu, salah satu destinasi wisata terbesar di Jawa Timur.
Berawal dari semangat menjaga kesehatan masyarakat pascapandemi Covid-19 pada 2021, para anggota KRPL Mandiri (Kawasan Rumah Pangan Lestari) mengembangkan olahan herbal menjadi produk bernilai ekonomi. Beragam varian dihasilkan, mulai dari beras kencur, temulawak, jahe merah, jahe putih, kunyit asam, sinom, hingga sereh. Seluruh proses produksi masih dilakukan secara tradisional untuk menjaga cita rasa dan khasiat alami, sementara kemasannya dibuat lebih modern agar mampu bersaing di pasar.
Baca Juga: Manula Pasuruan Sulap Limbah TV LED Menjadi Cahaya Lampu Hias
"Yang paling diminati beras kencur dan temulawak. Pasarnya sudah sampai Kota Batu, selain itu juga dijual secara online," ujar Alimah, salah seorang pelaku usaha jamu instan, Jumat (31/7/2026).
Menurut Alimah, produk jamu dikemas dalam ukuran 250 gram dengan harga Rp25 ribu. Khusus pembeli di wilayah Pasuruan, harganya berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp24 ribu. Harga yang terjangkau menjadi salah satu daya tarik, di samping kualitas bahan baku yang berasal dari rempah pilihan.
Dukungan pemerintah Kelurahan Tembokrejo turut menjadi penyemangat berkembangnya usaha tersebut. Produk jamu instan dipajang di kantor kelurahan dan disuguhkan kepada setiap tamu yang datang sebagai bentuk promosi sekaligus kebanggaan terhadap hasil karya masyarakat setempat.
Baca Juga: Sawi Shinta Tumbuh Subur Berkat Inovasi Greenponik Randusari
"Produk jamu instan karya ibu-ibu KRPL Tembokrejo sudah dikenal hingga Kota Batu. Kami mendukung dengan memajang produk di kantor kelurahan dan mengenalkannya kepada tamu melalui suguhan minuman jamu instan," kata Lurah Tembokrejo, Aan Prasetyo.
Namun potensi Tembokrejo tidak berhenti pada produk herbal. Hampir di setiap rukun warga, program KRPL melahirkan beragam produk ketahanan pangan, mulai dari sayuran hidroponik seperti sawi pakcoy, tomat, cabai, dan sereh, hingga budidaya ikan lele dalam ember serta ikan nila di kolam terpal yang dikelola secara alami tanpa menimbulkan bau.
Baca Juga: Kulit Bawang Putih Disulap Jadi Lukisan, Dari Limbah Jadi Karya
"Hasil panen ikan lele yang kontinyu sudah dibeli oleh SPPG Tembokrejo. Begitu juga sayuran dan hasil pangan lainnya untuk mendukung program ketahanan pangan," ungkap Aan Prasetyo.
Kisah Tembokrejo menjadi bukti bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari halaman rumah sendiri. Ketika rempah-rempah diolah dengan kreativitas dan semangat gotong royong, lahirlah produk lokal yang bukan hanya menggerakkan ekonomi keluarga, tetapi juga mengharumkan nama daerah hingga menembus pasar di kota wisata. (dyt)
Editor : Redaksi