Potretkota.com - Tumpukan televisi LED bekas yang bagi sebagian orang hanya layak menjadi limbah elektronik justru menghadirkan secercah harapan. Di tangan Nur Elma (56), lembaran mika yang berada di balik layar televisi berubah menjadi lampu dekorasi yang memancarkan keindahan dalam berbagai perayaan.
Setiap lembar mika bekas dibersihkan, dipotong, lalu dirangkai dengan penuh ketelitian. Sentuhan tangan perempuan yang tetap produktif di usia senja itu membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal batas usia. Barang yang semula dianggap tak bernilai kini menjelma menjadi hiasan yang mempercantik pesta pernikahan, ulang tahun, khitanan hingga berbagai acara hiburan.
Baca Juga: Sawi Shinta Tumbuh Subur Berkat Inovasi Greenponik Randusari
"Awalnya saya melihat banyak limbah TV LED yang terbuang. Saya berpikir pasti masih bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna," tutur Nur Elma saat dirumahnya, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, Rabu (29/7/2026).
Sejak 2020, ia terus mengembangkan ide tersebut. Untuk menghasilkan satu lampu dekorasi, dibutuhkan sekitar 12 lembar mika bekas televisi LED. Agar tampil lebih artistik, rangka lampu dipadukan dengan bahan alami berupa rotan dan kayu sehingga menghasilkan perpaduan antara sentuhan modern dan nuansa tradisional.
Setiap lampu dekorasi hasil karyanya dipasarkan dengan harga sekitar Rp300 ribu. Bagi Nur Elma, nilai jual itu bukan sekadar angka, melainkan hasil dari proses kreatif yang membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan ketekunan dalam mengolah limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Baca Juga: Kulit Bawang Putih Disulap Jadi Lukisan, Dari Limbah Jadi Karya
Kreativitas Nur Elma pun mendapat apresiasi dari Pemerintah Kelurahan Karanganyar. Salah satu hasil karyanya bahkan dipajang di kantor kelurahan sebagai contoh inovasi warga dalam memanfaatkan limbah elektronik.
"Lampu hias karya Bu Elma cukup bagus. Kami memajangnya di kantor sebagai salah satu hasil kerajinan warga yang patut dibanggakan," ujar Lurah Karanganyar, Rafli Sandho Dwi Laksana.
Apresiasi serupa disampaikan Camat Panggungrejo, Iman Hidayat. Menurutnya, karya Nur Elma menjadi bukti bahwa potensi masyarakat dapat tumbuh dari kreativitas dalam memanfaatkan barang bekas menjadi produk bernilai.
Baca Juga: Kampung Bunga Pucangan Menyulap Cabai Menjadi Hiasan
"Ini merupakan potensi wilayah yang bisa dibanggakan. Semoga mampu menginspirasi masyarakat untuk terus berinovasi sekaligus mengurangi limbah elektronik," kata Iman.
Kisah Nur Elma menunjukkan bahwa sebuah televisi rusak tidak selalu berakhir di tempat pembuangan. Dengan kreativitas, ketekunan, dan kemauan untuk terus berkarya, limbah elektronik dapat berubah menjadi karya seni yang tidak hanya menghadirkan cahaya dalam sebuah ruangan, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan menginspirasi banyak orang bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus produktif. (dyt)
Editor : Redaksi