Sawi Shinta Tumbuh Subur Berkat Inovasi Greenponik Randusari

avatar potretkota.com
(dari kiri) Rudi Kurniawan dan Zainul Afandi.
(dari kiri) Rudi Kurniawan dan Zainul Afandi.

Potretkota.com - Deretan daun sawi Shinta tampak hijau segar berjajar rapi di instalasi hidroponik Greenponik Randusari. Di sela-sela embusan angin, tanaman-tanaman itu tumbuh subur, seolah menjadi bukti bahwa lahan terbatas bukan lagi penghalang untuk menghasilkan pangan berkualitas.

Di sudut Kelurahan Randusari, kebun hidroponik ini bukan sekadar tempat menanam sayuran. Greenponik menjadi ruang belajar, berinovasi, sekaligus menggerakkan semangat warga memanfaatkan lingkungan untuk menghasilkan pangan sehat.

Baca Juga: Kulit Bawang Putih Disulap Jadi Lukisan, Dari Limbah Jadi Karya

Yang membedakan Greenponik dengan kebun hidroponik pada umumnya terletak pada metode budidayanya. Pengelola memodifikasi ukuran keranjang tanam menjadi lebih besar dan lebih panjang. Menariknya, sistem tersebut tidak lagi menggunakan kain flanel sebagai media penghantar air menuju akar tanaman.

Hasilnya cukup mengejutkan. Tanaman sawi Shinta tumbuh lebih kokoh dengan produktivitas panen yang dinilai lebih tinggi dibandingkan sistem hidroponik konvensional.

"Di Greenponik kami menggunakan keranjang tanam yang lebih besar dan panjang tanpa memakai kain flanel sebagai penyerap air. Dari hasil uji coba, panennya justru lebih banyak," ujar pengelola Greenponik, Zainul Afandi, Selasa (28/7/2026).

Bagi Zainul, Greenponik bukan hanya soal menghasilkan sayuran. Sejak berdiri pada awal 2026, kawasan tersebut terus mengembangkan berbagai komoditas pangan melalui berbagai percobaan budidaya.

Sebelum memanen sawi Shinta, Greenponik lebih dulu berhasil memanen melon. Bahkan, pada periode sebelumnya, kebun ini juga menghasilkan bawang merah yang dibudidayakan menggunakan sistem hidroponik.

"Dua minggu lalu kami panen melon. Sebelumnya lagi kami berhasil memanen bawang merah dengan sistem hidroponik," katanya.

Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Kelurahan Randusari. Lurah Randusari, Rudy Kurniawan, menyebut Greenponik sebagai salah satu Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang mampu menjadi contoh pengembangan ketahanan pangan berbasis masyarakat.

Menurut Rudy, berbagai komoditas berhasil dikembangkan di kawasan tersebut. Mulai dari sawi Shinta, pakcoy, selada, tomat, terong, melon, hingga bawang merah. Tidak hanya tanaman, Greenponik juga membudidayakan ikan lele dan nila sebagai bagian dari upaya menyediakan sumber pangan bergizi bagi masyarakat.

Baca Juga: Kampung Bunga Pucangan Menyulap Cabai Menjadi Hiasan

"Greenponik menjadi salah satu KRPL yang produktif. Berbagai sayuran, buah, hingga ikan dibudidayakan di sini sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan dan membantu pencegahan stunting," ujarnya.

Inovasi Greenponik tidak berhenti pada teknik budidaya. Hampir seluruh instalasi hidroponik vertikal dibangun dengan memanfaatkan barang-barang bekas yang disulap menjadi media tanam bernilai guna.

Kaleng dan ember bekas cat, misalnya, dipotong, dibentuk, lalu disusun menjadi instalasi vertikal yang kini dipenuhi sayuran hijau. Barang yang sebelumnya menjadi limbah kini justru menghadirkan kehidupan baru.

"Ciri khas Greenponik adalah hidroponik vertikal yang memanfaatkan bekas kaleng maupun ember cat sebagai media tanam. Selain ramah lingkungan, hasilnya juga cukup baik," jelas Rudy.

Konsep ekonomi sirkular juga diterapkan dalam budidaya perikanan. Air kolam tetap dijaga kualitasnya, sementara endapan kotoran dari kolam lele dan nila tidak dibuang begitu saja.

Baca Juga: Dari Lalapan Menjadi Minuman, Kemangi di Pasuruan Berbuah Cuan

Limbah tersebut dimanfaatkan sebagai media budidaya cacing yang memiliki nilai ekonomi. Setelah dipanen, cacing dijual kepada pengepul sebagai bahan pakan maupun umpan memancing.

"Kotoran yang mengendap di kolam kami manfaatkan untuk budidaya cacing. Nantinya cacing dijual ke pengepul maupun toko perlengkapan memancing, sehingga tidak ada limbah yang terbuang percuma," tutur Zainul.

Bagi Greenponik Randusari, menanam bukan sekadar menghasilkan sayuran. Dari inovasi sederhana, barang bekas yang diolah kembali, hingga pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi, kawasan ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat tumbuh berdampingan dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Di tengah padatnya kawasan perkotaan, Greenponik menjadi bukti bahwa kreativitas dan semangat gotong royong mampu mengubah ruang sempit menjadi sumber pangan, sumber pembelajaran, sekaligus sumber harapan bagi masyarakat. (dyt)

Berita Terbaru