Potretkota.com - Kampung Bunga Pucangan, Kelurahan Purworejo, Kota Pasuruan, tampak berbeda dari biasanya. Deretan tanaman cabai tidak ditanam di pot plastik ataupun polybag, tanaman cabai itu menggantung cantik dalam balutan bola media tanam yang dibungkus serat sabut kelapa. Sekilas tampilannya menyerupai tanaman hias, namun di sela-sela dedaunannya bergelantungan buah cabai merah yang siap dipanen.
Inilah inovasi terbaru dari Kelompok Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Kampung Bunga Pucangan. Melalui teknik Kokedama, warga berhasil mengubah tanaman cabai Mahkota Dompol menjadi elemen dekorasi yang estetik tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai tanaman produktif.
Baca Juga: Kulit Bawang Putih Disulap Jadi Lukisan, Dari Limbah Jadi Karya
Kokedama merupakan teknik bercocok tanam asal Jepang yang menggunakan bola media tanam dari campuran tanah dan kompos, kemudian dibungkus sabut kelapa dan diikat menggunakan tali. Teknik ini umumnya diterapkan pada tanaman hias. Namun, warga Kampung Bunga Pucangan menghadirkan terobosan dengan menerapkannya pada tanaman cabai.
"Teknik unik ini membuat tanaman cabai yang berbuah lebat bisa dijadikan hiasan estetik di halaman maupun meja teras," ujar Sekretaris KRPL Kampung Bunga Pucangan, Aan Martha Natalia Setihono, Minggu (27/7/2026).
Menurut Aan, kreativitas tersebut bukan muncul secara instan. Sejak 2019, kelompok KRPL telah memproduksi berbagai jenis kokedama tanaman hias yang menjadi salah satu produk unggulan kampung. Berbekal pengalaman itu, pada awal 2026 mereka mulai bereksperimen menanam cabai Mahkota Dompol menggunakan metode serupa.
Hasilnya di luar dugaan. Tanaman cabai mampu tumbuh subur, menghasilkan buah yang lebat, sekaligus memiliki nilai estetika yang menarik. Inovasi ini kemudian menjadi daya tarik baru bagi masyarakat maupun pengunjung yang datang ke Kampung Bunga Pucangan.
"Kokedama tanaman hias sudah kami buat sejak 2019. Awal tahun 2026 kami mencoba menanam cabai Mahkota Dompol dengan teknik kokedama dan ternyata berhasil diproduksi hingga berbuah," ungkap Aan.
Baca Juga: Dari Lalapan Menjadi Minuman, Kemangi di Pasuruan Berbuah Cuan
Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Kelurahan Purworejo. Lurah Purworejo, Yanuar Catur Pamungkas, menilai kokedama bukan sekadar produk kerajinan, tetapi juga simbol kreativitas dan semangat gotong royong masyarakat.
"Kami sangat bangga dengan kokedama yang menjadi produk unggulan KRPL Kampung Bunga Pucangan. Ini merupakan wujud nyata semangat gotong royong warga, terutama ibu-ibu, sekaligus menjadi salah satu kebanggaan Kelurahan Purworejo," katanya.
Menurut Yanuar, inovasi ini menunjukkan bahwa kreativitas masyarakat mampu mengubah sesuatu yang sederhana menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mempercantik lingkungan. Langkah tersebut juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong ekonomi kreatif berbasis rumah tangga.
Baca Juga: Pelayanan Malam di Kelurahan Gentong Dapat Sambutan Positif
Pemerintah kelurahan pun berkomitmen memberikan dukungan, mulai dari pengembangan produk, pemasaran, hingga mendorong kokedama KRPL Kampung Bunga Pucangan menjadi produk khas kelurahan agar semakin dikenal masyarakat luas.
Selain menawarkan konsep yang unik, harga kokedama juga cukup terjangkau. Kokedama tanaman hias dipasarkan seharga Rp20.000 per tanaman, sedangkan kokedama cabai Mahkota Dompol dijual Rp30.000 per tanaman. Dengan harga tersebut, pembeli tidak hanya membawa pulang tanaman yang produktif, tetapi juga dekorasi alami yang mampu mempercantik sudut rumah.
Di tangan warga Kampung Bunga Pucangan, cabai bukan lagi sekadar komoditas dapur. Melalui sentuhan kreativitas, tanaman yang identik dengan kebutuhan sehari-hari itu menjelma menjadi karya yang memadukan keindahan, ketahanan pangan keluarga, dan peluang usaha. Sebuah inovasi sederhana yang membuktikan bahwa dari pekarangan rumah pun dapat tumbuh inspirasi bagi ekonomi kreatif. (dyt)
Editor : Redaksi