Potretkota.com - Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jawa Timur (Jatim) di Kelurahan Rungkut Tengah pada tahun 2025 menghadapi sejumlah hambatan yang cukup serius.
Kegiatan yang semestinya menjadi bentuk nyata kontribusi akademisi terhadap masyarakat justru menuai kritik dari warga setempat. Kritik ini sebagian besar diarahkan pada ketidakterpaduan program yang dibawa mahasiswa dengan kebutuhan riil masyarakat, serta koordinasi antara tim KKN dengan pihak kelurahan dimana Tim KKN sangat bergantung pada Kelurahan.
Baca juga: 3 Siswa Jadi Korban Plafon Ambruk di Kelas SMP Negeri 60 Surabaya
Permasalahan utama yang muncul dalam pelaksanaan KKN ini adalah lemahnya pengawasan dan keterlibatan aktif dari pihak Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), dimana DPL tidak pernah hadir, padahal dalam konteks KKN tematik yang berbasis pada pemetaan potensi wilayah, seharusnya DPL berperan sebagai pengarah utama dan fasilitator yang menjembatani antara mahasiswa dan pihak kelurahan.
“Namun yang terjadi di lapangan, DPL lebih banyak bersikap pasif dan bahkan jarang hadir dalam pertemuan evaluasi mingguan yang seharusnya menjadi forum penyelarasan kegiatan,” kata Ali Yusa selaku Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Rungkut Tengah Surabaya, Senin (14/7/2025).
Sikap acuh tak acuh dari dosen pembimbing ini menimbulkan dampak lanjutan yang cukup serius terhadap pelaksanaan program. Karena kurangnya arahan dari dosen pembimbing, banyak mahasiswa yang akhirnya merancang program berdasarkan asumsi mereka sendiri, tanpa studi lapangan mendalam atau validasi dari tokoh masyarakat.
Hal ini menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian antara program kerja yang dijalankan dengan kebutuhan nyata masyarakat di Rungkut Tengah, seperti pelatihan yang tidak relevan dan kegiatan yang tumpang tindih dengan program kelurahan yang sudah berjalan.
Lebih lanjut, kurangnya kompetensi dosen dalam mendampingi mahasiswa juga terlihat dari minimnya pemahaman terhadap konteks sosial dan ekonomi di lokasi KKN. Beberapa program, seperti penyuluhan digitalisasi UMKM dan pelatihan manajemen sampah, tidak mampu menarik partisipasi masyarakat karena tidak diawali dengan pendekatan partisipatif yang tepat.
“Dosen pembimbing seharusnya menjadi pengarah dalam menyusun strategi pendekatan awal, namun perannya hampir tidak terlihat dalam proses ini,” ujar Ali Yusa.
Baca juga: Desak Audit Total, AMAK Soroti Revitalisasi Pasar Keputran
Sebagai akibat langsung dari kondisi tersebut, banyak warga Rungkut Tengah yang merasa kecewa dan tidak terlibat secara aktif dalam kegiatan KKN. Sebagian Tokoh Masyarakat , Ali Yusa menganggap program KKN hanya formalitas kampus semata, bukan sebuah program kolaboratif yang bertujuan memberdayakan masyarakat.
“Kegiatan mahasiswa seringkali dinilai hanya bersifat seremonial dan tidak memberikan manfaat jangka panjang, sehingga kepercayaan terhadap institusi perguruan tinggi pun mulai menurun,” ucapnya.
Dampak lain yang tidak kalah penting adalah menurunnya motivasi dan semangat mahasiswa dalam menyelesaikan program. Ketiadaan dukungan dan umpan balik yang konstruktif dari dosen pembimbing membuat mahasiswa kehilangan arah dan bekerja secara reaktif. Beberapa kelompok bahkan mengalami konflik internal karena perbedaan persepsi tentang target dan metode pelaksanaan, yang semestinya bisa dihindari jika dosen memberikan supervisi aktif.
Di sisi lain, citra UPN Jawa Timur di mata masyarakat setempat pun ikut terdampak. Kejadian ini menimbulkan persepsi negatif bahwa kampus tidak serius dalam membina mahasiswa yang diterjunkan ke masyarakat.
Baca juga: DPRD Soroti Pemasangan Tiang dan Kabel Wifi di Kota Pasuruan
“Padahal, KKN tematik seharusnya menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan antara dunia akademik dan masyarakat melalui sinergi program yang aplikatif dan berkelanjutan,” urainya.
Secara lebih luas, kegagalan KKN ini juga berisiko menghambat kolaborasi di masa depan antara pihak kelurahan dan UPN Jawa Timur. Kekecewaan masyarakat bisa menimbulkan resistensi terhadap program-program serupa ke depan. Bahkan, potensi untuk menjadikan Kelurahan Rungkut Tengah sebagai lokasi pengembangan desa binaan menjadi sulit terwujud karena kurangnya kesan positif dari kegiatan KKN kali ini.
“Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap sistem penugasan dan kompetensi dosen pembimbing sangat dibutuhkan. Dosen yang terlibat dalam program pengabdian seperti KKN harus memiliki kapasitas kepemimpinan, pemahaman sosial yang baik, serta komitmen tinggi terhadap keberhasilan mahasiswa dan dampak program bagi masyarakat. Tanpa pembenahan serius, KKN akan kehilangan maknanya sebagai salah satu bentuk tridarma perguruan tinggi yang mengedepankan pengabdian kepada masyarakat,” pungkasnya. (Hyu)
Editor : Redaksi