Kesetaraan Perempuan di Parlemen 30 Persen

avatar potretkota.com

Potretkota.com - Perempuan tak hanya identik berprofesi sebagai ibu rumah tangga, namun diera milenial suara perempuan berpengaruh di dunia parlemen. Hal itu, disampaikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya, Husnul Khotimah.

Menurut legislator yang duduk di Komisi D tersebut, perempuan itu sedianya sebagai Al Ummul Madratsah (pendidikan pertama atau ibu dari pendidikan), karena itu peran perempuan sangat penting baik di keluarga maupun di lingkungan sosial.

Baca Juga: Negara di Meja Judi: Ketika Uang, Utang, dan Kekuasaan Bertemu

"Dalam istilah dikatakan, perempuan itu Al Umul Madratsah, sekolah pertama yaitu, Ibu. Perempuan tidak hanya sebagai ibu rumah tangga, tapi merupakan pondasi bagi pendidikan anak (Character Building) dan keluarga. Karena itu, dikatakan Ibu Pendidikan (Umul Madratsah)," kata Husnul pada Potretkota.com di Gedung DPRD Kota Surabaya, Jumat (8/3/2019).

Dalam rumah tangga, tugas perempuan tak kalah penting, yakni sebagai manager keuangan yang baik. Untuk itu, perempuan tak lagi harus dibeda-bedakan. Kedudukannya setara, tapi tetap punya batas antara perempuan dan laki-laki.

Politisi PDIP tersebut mengatakan, di Surabaya sendiri, khususnya di DPRD Kota Surabaya, keterwakilan perempuan sudah mencapai 30 persen. Dari total 50 anggota dewan yang duduk di parlemen, ada 16 perempuan sebagai legislator yang mewakili perempuan di Surabaya.

Baca Juga: Jelang Imlek, Usaha Kue Keranjang di Surabaya Kebanjiran Pesanan

"Di parlemen sendiri, dari 50 anggota legislatif yang ada, itu ada 16 perempuan. Sudah memenuhi 30 persen untuk perwakilan perempuan di DPRD Kota Surabaya. Kami juga menghasilkan Perda untuk perlindungan perempuan dan anak," ungkap Husnul Khotimah.

Contoh lanjutnya, Wali Kota Surabaya (Tri Rismaharini) hingga Gubenur Jawa Timur (Khofifah Indar Parawansa) itu perempuan. Dan, menurutnya, banyak sekali yang sudah dilakukan meski ada kekurangannya. Akan tetapi, bukti dari keberhasilan itu ada, Surabaya dapat anugerah Prahita Ekapraya (APE).

Baca Juga: Davos 2026: Dunia Tanpa Aturan dan Normalisasi Kekuasaan

"Ada aduan untuk masalah anak dan perempuna melalui call center, langsung ke Siola, ada juga pelayanan langsung di sana. Banyak program yang dibuat oleh Wali Kota Surabaya. Kita sampai dapat penghargaan Anugerah Prahita Ekapraya," ujar Husnul Khotimah.

APE merupakan sebuah penghargaan bergengsi sebagai apresiasi bagi kementerian/lembaga, Pemprov dan kabupaten/kota yang telah antusias mendokumentasikan dan menyampaikan informasi secara online mengenai upaya hasil yang telah dilakukan dalam pelaksanaan pembangunan pemberdayaan perempuan dan anak (PP-PA). (Qin)

Berita Terbaru