Potretkota.com - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, mengadakan acara beda buku ‘Menjerat Gus Dur’. Buku karya kreatif Virdika Rizky Utama, yang saat ini menyita perhatian banyak kalangan karena membicarakan sutradara atau orang-orang yang berada di balik pelengseran Presiden keempat Republik Indonesia.
Pembicara yang sekaligus penulis Buku Menjerat Gus Dur itu menceritakan Proses kreatifnya itu dengan gamblang. Siapa saja yang berada di balik pelengseran KH. Abdurrahman Wahid saat jadi Presiden. Di antara tokoh yang terlibat sudah tidak asing lagi disebutkan, karena Penulis cerita di acara yang sama tidak kali pertama di PWNU Jatim saja.
Baca Juga: Hakim PN Surabaya Keluhkan Pendemo Bawa Sound Besar
Menurut Virdika Rizky Utama, dalam mengawali sambutannya di acar beda buku karyanya. Dirinya, berterimakasih pada Fuad Bawazier, karena buku karyanya dianggap sampah. Guraunya, kalau bukunya dianggap sampah berarti Fuad Bawazier (FW), kata Rizky, FW berarti juga sampah. Sebab bukunya, menceritakan peran FW dan teman-temannya.
"Saya berterimakasih pada Fuad Bawazier karena sudah mengatakan buku karya saya ini buku sampah. Kalau begitu Fuad Bawazier juga sampah, karena namanya ada tertulis di dalam buku ini," kata Rizky di Aula PWNU Lantai 3 saat memberi sambutan, Selasa (4/2/2020).
Mantan Jurnalis itu juga mengatakan, selama proses kreatifnya menemui kesulitan, sebab ketika menemukan dokumen yang ada di Kantor DPP Golkar dan punya niatan untuk melanjutkan temuannya itu pada penulisan Buku, mulai pamit pada orang tua dan orang tua menangis tidak mengizini, mungkin karena takut keselamatannya. Namun, dapat izin orang tuanya. Hingga akhirnya selesai. Bisa disajikan ke pembaca. "Orang tua tidak mengizini, malah menangis," ungkapnya.
Setelah sudah meminta restu orang tua, Rizky melanjutkan niatnya itu. Untuk menyelesaikan buku yang butuh waktu dua tahun penyelesaiannya tersebut. Pengalaman pahitnya lagi, menurut Penulis, saat konfirmasi ke beberapa tokoh yang terlibat dalam penulisan tersebut, pihaknya mengaku diikuti orang yang tidak dikenal. Sehingga, pihaknya meminta perlindungan Komisariat (tidak disebutkan namanya) dan tidur di situ. Dan, bahkan dirinya mengaku pergi ke Psikiater untuk konsultasi terkait dengan dirinya. Menurut pihak psikiater, dirinya sedang mengalami kekhawatiran.
Dalam sambutannya, pria berambut gondrong itu mengungkapkan, tokoh dalam buku itu yang sulit ditemui adalah Amin Rais. Empat bulan baru bisa ketemu. Dan, itupun tidak suka sebenarnya kalau ditanya soal Gus Dur. "Bahkan, saat dirinya ditanya data itu dari mana, akan tetapi saya tidak bisa memberikan sumber informasinya, dirinya sempat diancam tidak bisa pulang dari rumah AR," ceritanya.
Baca Juga: Davos 2026: Dunia Tanpa Aturan dan Normalisasi Kekuasaan
Sedangkan, KH. Yahya Cholil Staquf, yang pada waktu itu merupakan Juru Bicara Presiden, Gus Dur, mengungkapkan, sebenarnya sebelum ada yang menuliskan tentang penjatuhan Gus Dur. Ia mengaku, itu bukan rahasia umum. Semua sudah tahu. Karena menurutnya, ada orang dekatnya Gus Dur, tapi dia tidak mau di Istana. Dia pernah mengasih tahu kepada Gus Dur, sesuatu yang apa ditulis (Rizky) sekarang, sama persis. "Dda orang dekatnya Gus Dur, yang mengasih tahu padany soal apa yang hari ini dituliskan ini, persis. Bagaimana Fuad Bawazier. Namun, kata Gus Dur, saat orang-orang terdekatnya mengingatkan apa yang dibicarakan orang dekatnya tersebut, Gus Dur hanya mengatakan begini pada kami, dia tidak paham bedanya intlrjen dengan politik," jelas Staquf dengan tertawa.
Kalau dalam tulisannya Rizky, di situ dituliskan bahwa ada diturunkan oleh HMI Conection. Jaringan itu memang sudah terkoneksi di lingkaran elit Politik. Kalau NU belum. Menurutnya, wong NU itu belum ada yang bisa Sekolah di jamannya penjajahan Belanda. Mereka sudah Sekolah. Sedangkan, orang-orang NU sendiri baru tahun 70-an.
Selain Penulis Buku Menjerat Gus Dur dan KH. Yahya Cholil Staquf, Pembicara lainnya adalah Hermawan Sulistiyo selaku pengamat Politik. Menurutnya, Indonesia ini sebenarnya mempunyai Presiden-presiden yang bagus. Hanya saja salah waktu. Karena waktunya yang tidak tepat, sehingga kemuculannya tidak bagus.
"Sebenarnya, presiden-presiden Indonesia ini bagus. Soeharto itu bagus, andaikan berhenti di tahun 1982, sedangkan Gus Dur harusnya di tahun itu (1982), Habibi itu hebat, jadi presiden 30 tahun lagi, sedangkan SBY, menurutnya 50 tahun lagi. Karena waktunya yang tidak bagus," candanya.
Baca Juga: Seleksi Petugas Haji Diperketat, Utamakan Layanan Kesehatan
Sedangkan, sebagai pembahas buku karya Virdika Rizky Utama itu adalah Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur KH Anwar Iskandar. Ia mengatakan, kehadiran buku Menjerat Gus Dur patut disambut dengan bahagia bagi warga NU. Karena buku itu, menurutnya menjadi bagian penting sebagai kesaksian sejarah.
"Bagi kami, warga NU, buku Menjerat Gus Dur ini membantu mengurangi beban NU. Ini tahap penting bagi NU, mengurangi beban sejarah NU dalam perpolitikan.Saya minta semua membaca," pinta mantan anggota MPR 1999-2004 itu.
Sebagaimana yang diungkap dalam buku ;Menjerat Gus Dur’ keterlibatan Fuad Bawazier, Priyo Budi Santoso, Amin Rais, dan lainnya merupakan Fakta sejarah yang harus diungkap dan diingatkan kembali pada para aktivis di masanya. Untuk memberikan pemahan pada generasi kini dan berikutnya demi kemajuan bangsa yang lebih baik. (Qin)
Editor : Redaksi