Oleh: Purwanto, S.Pd (Politisi Millenial)

Jatuhnya Wibawa Emak-emak Dalam Kepemimpinan

avatar potretkota.com

Potretkota.com - Baru-baru ini kita disuguhkan kembali video viral kemarahan Walikota Surabaya Tri Rismaharini menelepon seseorang dengan nada lantang. Kali ini tidak kepada bawahannya, melainkan disinyalir kepada Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur.

Pemicunya adalah rebutan bantuan mobil PCR dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk test covid-19 yang diklaim oleh Risma diperuntukkan kepada warga Surabaya. Disisi lain BNPB Jatim juga menilai mobil PCR dioperasionalkan untuk Jawa Timur.

Baca Juga: Davos 2026: Dunia Tanpa Aturan dan Normalisasi Kekuasaan

Menarik kesimpulan dari perkara saling klaim tersebut, hendaknya tidak diekpose kepublik, yang seolah-olah hal semacam itu menunjukkan kesan sok bisa dan seakan terkontaminasi dengan politisasi.

Yang seharusnya kedua pimpinan wonder women lebih dikenal dengan emaknya Surabaya dan Jawa Timur tersebut mencontohkan satuan gugus tugas dengan cara sikap yang bijaksana dalam menangani masa sulit seperti ini.

Dari sisi kepemerintahan Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan Gubernur Khofifah Indarparawansa sama halnya menjatuhkan martabat serta kewibawaan kepemimpinan pemerintah dalam menangani pandemi corona.

Dua pucuk pimpinan di Pemerintahan tersebut tidak mencontohkan kepada masyarakat dalam penanganan musibah yang melanda Indonesia dengan profesional. Seharusnya kedua emak-emak itu menjadi contoh yang bijak tidak malah saling klaim sok bisa.

Baca Juga: Sri Mulyani dan Tarian Diplomasi di Atas Panggung Filantrokapitalisme

Namun, sebaliknya seakan-akan keprofesionalan tidak bersemayam dalam diri kedua pimpinan tersebut. Dalam masa situasi pandemi seperti ini, baiknya tidak mengumbar energi yang memantik reaksi masyarakat menjadi lebih berfikir negatif kepada Pemerintah.

Seyogyanya yang lebih baiknya adalah bagaimana caranya bekerja sama dengan baik. Sehingga permasalahan dapat ditangani dengan lebih baik. Ini dengan sendirinya akan muncul hal positif.

Seperti pepatah mengatakan ‘Kekalahan bisa menjadi batu pijakan atau batu sandungan, tergantung apakah sikapmu positif atau negatif’. (Napoleon Hill Penulis motivasi dari Amerika Serikat 1883-1970).

Baca Juga: APBN 2026, Kedaulatan Energi dan Jalan Tengah Bernama PPPP

Kembali lagi sikap yang dilakukan oleh pucuk pimpinan tersebut terkesan terindikasi tekanan mempolitisasi. Sehingga memancing para Stakeholder kedua belah pihak untuk saling serang.

Lantas yang menjadi pertanyaan buat apa saling serang? Tidakkah masyarakat sekarang ini membutuhkan kepemimpinan yang bijak, adil dan dapat memakmurkan rakyat.

Kewibawaan negara saat ini tengah dirundung kegelisahan. Bukan malah pucuk pimpinannya menunjukkan sok bisa. Kesan kedua pucuk pimpinan tersebut dapat menjatuhkan kewibawaan serta martabat kepemerintahan atau kepemimpinan kepada bangsa dan negara serta rakyat Indonesia pada umumnya. (*)

Berita Terbaru