Potretkota.com - Nusantara bukanlah sembarang tanah yang kosong tanpa siapa saja. Nusantara bisa dibilang surga dunia lantaran kekayaan alamnya yang melimpah. Bukan hanya soal kekayaan alam, nusantara juga kaya akan seni dan budaya, sehingga patutlah nusantara memiliki banyak kerajaan dari masa ke masa. Saking kayanya, nusantara menjadi buruan para penjajah dunia.
Pasca kemerdekaan Republik Indonesia yang diperingati setiap 17 Agustus sejak tahun 1945, sebagian besar anak bangsa melakukan eksplorasi dan ekskavasi terhadap peninggalan-peninggalan yang tersisa. Bukan tidak tahu, hanya saja karena ketidakmampuan generasi di masa lampau dalam mempertahankan kekayaan bumi pertiwi, sehingga hanya puing-puing yang tersisa.
Baca Juga: Ini PR Disbudpar Jatim Jika Ingin Angkat Kerajaan Jawa Timur ke Permukaan
Belakangan, seiring dengan berkembangnya zaman serta mudahnya penggalian informasi, membuat Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur, Taufik Hidayat atau yang akrab dengan sapaan Taufik Monyong, merasa miris ketika mengetahui banyaknya pusaka nusantara, khususnya milik Kerajaan Majapahit terpampang di Museum Metropolitan, New York, Amerika.
Beberapa ujung tongkat para raja Majapahit yang dikoleksi oleh Museum Metropolitan, New York, Amerika.
Baca Juga: Disbudpar Bangun Lagi Harmonisasi Dengan DKJT
Melihat hal tersebut, ingatan Taufik Monyong kembali ke masa kejayaan Belanda yang berhasil menguasai sebagian besar nusantara yang saat itu masih bernama Hindia Belanda. Lalu kemudian ditumbangkan oleh Kerajaan Inggris, sehingga pada tahun 1811, Thomas Stamford Raffles diangkat menjadi Letnan Gubernur Hindia Belanda oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Lord Minto.
Berbeda dengan kebanyakan orang yang menilai Raffles sebagai sosok pemimpin yang bijaksana, sudut pandang Taufik Monyong berbalik 180 derajat yang menyebut Raffles adalah pencuri karya intelektual anak bangsa. Hal tersebut dikarenakan sejak nusantara dijajah oleh bangsa Eropa, ribuan benda-benda dan pusaka hilang dari bumi pertiwi yang entah dibawa ke mana.
Baca Juga: Bunga Tinggi Bikin Emak-emak Terjerat Utang Mekaar
Belajar dari peristiwa penjajahan dan penjarahan besar-besaran yang dilakukan oleh kolonial Belanda di masa lalu, Taufik mengingatkan agar hal ini tidak terulang kembali. “Raffles adalah pencuri karya intelektual bangsa saya, Raffles adalah penjajah dan pencuri karya-karya kecerdasan bangsa leluhur saya. Jangan sampai hilang dan kembalikan,” kata Taufik.
“Kalau tidak malu orang Belanda segera kembalikan tidak perlu minta uang lagi kepada bangsa Indonesia. Kemarin kan untuk mengembalikan itu minta kepada Menteri Kebudayaan untuk kirim uang untuk angkat barang kita. Dia sudah nyolong, lalu minta ongkos dari kita. Sungguh orang Belanda adalah bangsa yang mencuri karya-karya intelektual bangsa nusantara,” tegas Taufik didampingi Bidang Hukum Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) Edward Dewaruci. (ASB)
Editor : Redaksi