Potretkota.com - Pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2024, calon tunggal tampaknya tak bisa tenang saat melawan kotak kosong. Hal itu disampaikan Juru Bicara (Jubir) Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra, S.Sos., M.M saat menghadiri The International Conference Of Unair Postgraduate School 202, di Universitas Airlangga, Rabu (11/9/2024).
Menurut Herzaky Mahendra, setelah muncul kesepakatan baru antara DPR RI dengan KPU, pasangan tunggal di Pilkada 2024 akan terasa berat ketika melawan kotak kosong. Dalam rapat dengar pendapat, DPR dan KPU telah menyepakati, bahwa jika calon tunggal kalah dalam pemilihan melawan kotak kosong maka pemilihan akan diulang di tahun berikutnya.
Baca Juga: Negara di Meja Judi: Ketika Uang, Utang, dan Kekuasaan Bertemu
“Sehingga calon tunggal saat melawan kotak kosong harus memperoleh suara lebih dari 50 persen jika ingin menang. Jika kurang dari 50 persen dan dinyatakan kurang kalah maka pemilihan akan diulang tahun berikutnya,” kata Herzaky Mahendra.
Herzaky Mahendra juga mengungkapkan, Pilkada 2024, akan menjadi pekerjaan berat bagi partai pendukung. “Karena saat ini banyak warga menyuarakan aspirasinya untuk memilih kotak kosong,” tambahnya.
Baca Juga: Demi Kebaikan Warga, Praktisi Hukum Usulkan Rahmat Muhajirin dan Bupati Sidoarjo Berdamai
Pernyataan Herzaky Mahendra juga pernah diungkap para aktivis asal Surabaya, diantaranya Wawan Leak, Taufik Monyong, Edward Dewaruci, Ali Yusa. Mereka semua kecewa tidak adanya kaderisasi dari partai politik, sehingga hanya mendukung satu pasangan calon (Paslon) pada Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali (Pilwali) Kota Surabaya, yakni Eri Cahyadi - Armuji.
Terlebih, kepemimpinan Eri Cahyadi - Armuji sejak 2021-2024 tidak ada yang menonjol. Keduanya selain tidak menjalankan janji kampanye soal surat ijo, mereka juga dinilai mendukung reklamasi pesisir timur Kota Surabaya, seluas 1.084.57 hektar.
Baca Juga: Davos 2026: Dunia Tanpa Aturan dan Normalisasi Kekuasaan
Sebagai simbol perlawanan tokoh pergerakan, Wawan Leak, Edward Dewaruci, Taufik Monyong maupun Ali Yusa, mendukung kotak kosong dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) 2024 di Surabaya. (KF)
Editor : Redaksi