Potretkota.com - Ketika Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mendukung sebuah kegiatan di kawasan Peneleh dengan tajuk “Balapan SUP nang Kalimas,” yang diadakan oleh Pengurus Daerah Stand Up Paddle (SUP) Jawa Timur sebenarnya yang sedang digagas bukan sekadar acara olahraga air biasa. Ada sebuah pesan simbolik yang berlapis, yang bisa dibaca dari berbagai perspektif: ekologi, sosial, budaya, hingga ekonomi berkelanjutan. Dalam pandangan saya, kegiatan semacam ini adalah contoh nyata bagaimana pendekatan kreatif mampu menyentuh kesadaran masyarakat terhadap isu serius yang sering luput dari perhatian, yakni kondisi sungai Kalimas hari ini.
Sungai Kalimas adalah urat nadi sejarah Surabaya, sebuah jalur air yang pada masanya menghubungkan masyarakat dengan perdagangan, transportasi, dan kehidupan sehari-hari. Namun, jika kita melihat kondisi terkini, maka gambaran itu jauh dari ideal. Tingginya sedimen membuat aliran sungai melambat, menumpuk bersama sampah rumah tangga dan limbah deterjen yang mengalir dari ribuan rumah di sekitarnya. Bau menyengat yang muncul bukan hanya gangguan estetika, melainkan juga pertanda serius mengenai degradasi kualitas air. Dalam kajian internasional, seperti yang ditulis oleh Li et al. (2021) di Science of the Total Environment, limbah deterjen yang masuk ke perairan perkotaan terbukti menurunkan kualitas ekosistem air dan memengaruhi keberlangsungan biodiversitas. Kondisi Kalimas adalah refleksi nyata dari fenomena tersebut.
Baca Juga: Hakim Minta Pengurus KONI Kota Kediri Kembalikan Uang Korupsi
Dalam konteks inilah, PII mengambil posisi yang menarik. Mereka tidak datang dengan pendekatan kaku berbasis infrastruktur semata, tetapi mengemasnya dalam bentuk kegiatan populer: balapan Stand Up Paddle (SUP). SUP adalah olahraga air yang menuntut keseimbangan tubuh dan kekuatan otot sekaligus memberikan pengalaman langsung bersentuhan dengan air sungai. Saat seseorang mengayuh papan di atas Kalimas, ia tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa sungai itu berbau, kotor, bahkan penuh dengan gelembung deterjen. Interaksi fisik semacam ini lebih kuat dalam membangkitkan kesadaran ketimbang sekadar membaca laporan atau mendengar ceramah. Dengan kata lain, sungai tidak lagi menjadi objek pasif yang ditonton dari jauh, melainkan arena yang dirasakan secara nyata.
Hadiah utama seekor domba dalam balapan SUP mungkin tampak ganjil pada pandangan pertama. Mengapa bukan uang tunai, piala emas, atau barang elektronik? Namun, justru keanehan itu yang mengandung makna mendalam. Seekor domba adalah simbol dari produktivitas dan keberlanjutan. Domba bukan hanya hadiah sekali pakai, tetapi aset hidup yang dapat tumbuh, berkembang biak, dan menghasilkan manfaat ekonomi maupun pangan. Jika dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), maka relevansi ini langsung mengarah pada SDG 2 (Zero Hunger) yang menekankan pentingnya ketahanan pangan berkelanjutan, serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) yang menyoroti penggunaan sumber daya dengan bijak. Domba dapat dirawat, diberi pakan dari limbah organik, bahkan kotorannya bisa diolah menjadi pupuk untuk mendukung urban farming. Dengan demikian, hadiah ini sejalan dengan filosofi keberlanjutan yang ingin ditanamkan.
Lebih dari itu, kegiatan ini juga menyentuh aspek SDG 6, yaitu Clean Water and Sanitation. Ketika orang turun langsung ke sungai, mereka menyaksikan betapa jauhnya kondisi air dari kategori “bersih.” Mereka mencium bau deterjen yang menyengat, melihat sampah plastik terapung, bahkan merasakan endapan lumpur yang pekat. Situasi semacam ini mendorong refleksi: bagaimana mungkin sungai yang dulunya menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi tempat pembuangan raksasa? Menurut penelitian Gatidou et al. (2019) dalam jurnal Water Research, keterlibatan publik dalam menyadari dan mengurangi konsumsi deterjen fosfat serta plastik sekali pakai adalah kunci utama perbaikan kualitas air perkotaan. Artinya, teknologi pengolahan limbah saja tidak cukup tanpa perubahan perilaku sosial.
Kritik terhadap kondisi Kalimas tentu harus disampaikan dengan bahasa yang konstruktif. Kita bisa mengatakan bahwa sungai ini tidak lagi menjadi ruang publik yang sehat, melainkan beban ekologis kota. Namun, alih-alih hanya mengeluh atau menuding, PII memilih jalur aksi melalui kegiatan sosial-kultural. Balapan SUP menjadi “panggung” untuk menunjukkan bahwa sungai masih bisa digunakan, tetapi sekaligus menyuarakan bahwa pemanfaatan itu baru mungkin jika ada perbaikan serius pada kualitas lingkungannya. Dengan demikian, kritik terhadap sedimentasi tinggi, bau, dan limbah deterjen yang merajalela bukanlah sekadar keluhan, melainkan ajakan untuk bergerak bersama.
Sisi menarik lainnya dari kegiatan ini adalah konteks kebudayaan. Tajuk “Balapan SUP nang Kalimas” mengandung bahasa lokal yang dekat dengan masyarakat Surabaya. Kata “nang” misalnya, membumikan acara ini dalam dialek khas Jawa Timuran, sehingga tidak terasa asing atau elitis. Inilah pendekatan partisipatif: membicarakan isu besar dengan bahasa sehari-hari. Hal ini penting karena sebagaimana dijelaskan dalam literatur komunikasi lingkungan, partisipasi publik akan lebih kuat jika pesan disampaikan dengan idiom kultural yang akrab. Dengan begitu, masyarakat tidak merasa digurui, tetapi merasa diajak terlibat dalam sesuatu yang milik bersama.
Baca Juga: Lintas Generasi Ramaikan Acara Friday Night Run Pasuruan Kota
Lalu, mari kita lihat implikasi jangka panjang dari acara semacam ini. Jika masyarakat setiap tahun diajak untuk ikut serta dalam balapan SUP, maka akan tercipta siklus kesadaran yang berulang. Orang tidak hanya datang untuk berkompetisi, tetapi juga untuk merenungkan kondisi sungai. Hadiah seekor domba dapat menjadi simbol bahwa hasil nyata dari partisipasi bukan hanya hiburan sesaat, melainkan dorongan ke arah kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan lokal. Lambat laun, kesadaran ekologis yang dibangun melalui kegiatan rekreatif dapat menjelma menjadi gerakan sosial yang menuntut kebijakan lebih serius dalam rehabilitasi sungai.
Di sini, PII memperlihatkan peran insinyur yang tidak sebatas pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pembangunan kesadaran. Seorang insinyur, sebagaimana ditegaskan dalam banyak literatur rekayasa lingkungan, adalah agen perubahan sosial. Ia tidak hanya menyelesaikan masalah teknis, tetapi juga mendorong transformasi perilaku masyarakat. Dengan mendukung “Balapan SUP nang Kalimas,” PII menunjukkan bahwa keberlanjutan membutuhkan sinergi antara ilmu teknik, budaya lokal, dan partisipasi warga.
Secara keseluruhan, acara ini dapat dipandang sebagai laboratorium sosial terbuka. Ada eksperimen budaya, ada intervensi lingkungan, dan ada simbol ekonomi berkelanjutan. Kritik halus terhadap Kalimas yang tercemar tersampaikan lewat pengalaman langsung para peserta, bukan lewat data statistik kering. Pesannya sederhana tetapi dalam: sungai adalah cermin peradaban. Jika sungai kita penuh sedimen, bau busuk, dan limbah deterjen, maka sesungguhnya itu potret kualitas kehidupan kota secara keseluruhan.
Baca Juga: Sumpah Pemuda BMX Race di Pasuruan, Lokal Jadi Regional
Maka, “Balapan SUP nang Kalimas” bukanlah peristiwa kecil yang bisa dilewatkan begitu saja. Ia adalah penanda bahwa kesadaran ekologis bisa dibangkitkan melalui cara-cara kreatif, unik, bahkan jenaka. Seekor domba sebagai hadiah utama tidak sekadar gimmick, melainkan pernyataan simbolis bahwa keberlanjutan harus berakar pada hal-hal sederhana, dekat dengan keseharian masyarakat, dan mampu membangun harapan jangka panjang. Jika pesan ini benar-benar ditangkap, maka kegiatan serupa dapat menjadi titik awal transformasi Kalimas dari sungai tercemar menjadi ruang publik yang sehat, produktif, dan membanggakan kembali.
(Penulis: Ali Yusa PII Jatim)

Editor : Redaksi