Potretkota.com - Dalam perjalanan membawa bantuan logistik menuju Aceh Tamiang, rombongan relawan komunitas Sabila (Solidaritas Anak Binjai Langkat) mendapat pelajaran kemanusiaan yang tak terduga. Bukan soal kelaparan atau pakaian, melainkan kerinduan anak-anak terhadap Al-Qur’an.
Peristiwa itu terjadi pada Minggu, 21 Desember 2025, di kawasan Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut). Saat itu, para relawan tengah membagikan roti dan snack kepada anak-anak di pinggir jalan, sebagaimana yang biasa mereka lakukan dalam perjalanan misi kemanusiaan.
Baca Juga: Presiden Prabowo Beber Alasan tak Tetapkan Banjir Sumatera Sebagai Bencana Nasional
Namun suasana mendadak hening ketika seorang anak bertanya lirih, “Bu, ada Al-Qur’an?”
“Jujur kami semua terdiam, speechless. Kami sedang membagi roti, tapi yang dia minta justru Al-Qur’an,” ujar Yona, relawan Sabila, saat dihubungi Potretkota.com, Selasa, (24/12/2025).
Dalam kendaraan relawan, memang terdapat satu dus besar berisi Al-Qur’an dan Iqra yang diletakkan di bagian depan. Awalnya, pembagian kitab suci itu tidak direncanakan di perjalanan. Kotak tersebut terbuka, dan rupanya terlihat oleh anak-anak di pinggir jalan.
“Dia tidak minta roti yang sedang kami pegang. Sama sekali tidak. Dia hanya menatap ke dalam mobil dan bertanya soal Al-Qur’an,” tutur Yona.
Momen itu membuat para relawan terenyuh. Kamera ponsel pun dinyalakan. Tak berselang lama, anak-anak lain mendekat. Seorang anak yang mengenakan jersey hijau tampak antusias, memanggil teman-temannya.
Baca Juga: ITS Bantu Mahasiswa Korban Bencana Sumatera dan Aceh
“Dia seperti kaget dan bahagia. Langsung bilang, ‘Ambil, Deva ambil, cepat ambil!’ ke teman-temannya,” kata Yona.
Tangis pun pecah. Para relawan tak mampu menahan air mata menyaksikan antusiasme anak-anak yang, dalam kondisi serba kekurangan, justru menjadikan Al-Qur’an sebagai kebutuhan utama.
“Rasanya nyees sekali. Mereka itu pasti lapar, pasti butuh makan. Tapi ketika melihat ada yang membagi Al-Qur’an, rasanya seperti mereka menemukan oksigen,” ucap Yona dengan suara bergetar.
Bagi Yona pribadi, peristiwa itu menjadi tamparan batin yang mendalam. “Saya merasa ditegur dengan sangat halus. Di rumah, Al-Qur’an ada, tapi belum tentu dibaca setiap hari. Sementara mereka, di tengah bencana dan keterbatasan, begitu merindukannya,” katanya.
Baca Juga: Mahasiswi ITS Hilang Kontak dengan Ayahnya Akibat Banjir Aceh
Menurut Yona, selama beberapa kali misi kemanusiaan ke Aceh dan sekitarnya, kejadian seperti ini baru pertama kali dialami oleh tim Sabila. “Ini pertama kalinya anak-anak di jalan meminta Al-Qur’an. Biasanya mereka minta makanan atau minuman. Tapi kali ini berbeda,” ungkapnya.
Perjalanan yang baru saja dimulai itu pun berubah menjadi pelajaran spiritual yang tak ternilai. “Awal perjalanan kami sudah diberi pelajaran berharga oleh Allah. Pelajaran yang tidak bisa diukur dengan apa pun,” tutup Yona.
Kisah sederhana di tepi jalan Besitang itu menjadi pengingat, di tengah bencana dan kelaparan, iman dan harapan masih hidup dan bagi anak-anak itu, Al-Qur’an adalah sumbernya. (ASB)
Editor : Redaksi