Potretkota.com - Wajah Dawamah tampak sumringah di tengah keramaian Embarkasi Surabaya. Perempuan 73 tahun asal Sidoarjo itu sesekali menggenggam erat tangan sang suami, Nur Hasan. Di usianya yang tak lagi muda, keduanya akhirnya menapakkan langkah menuju Tanah Suci, sebuah perjalanan yang mereka perjuangkan selama belasan tahun.
Tak ada warisan besar ataupun usaha megah yang mengantar pasangan lansia ini ke Baitullah. Hanya sebuah gerobak sederhana penjual lontong balap dan semangkuk bubur sumsum yang setiap hari menjadi sumber penghidupan mereka.
Baca Juga: Sri Setyo Pertiwi alias Ning Tiwik Dituntut Jaksa 6 Tahun Penjara
“Alhamdulillah, saya sangat senang sekali,” tutur Dawamah pelan, matanya berbinar menahan haru.
Sehari-hari, Dawamah berjualan lontong balap di kampungnya. Dari keuntungan yang tak seberapa, ia belajar menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Kadang hanya beberapa lembar rupiah yang tersisa setelah kebutuhan rumah tangga terpenuhi. Namun baginya, tabungan haji bukan soal besar kecilnya nominal, melainkan tentang ketekunan menjaga mimpi.
Setiap receh hasil jualan dikumpulkan dengan penuh disiplin. Tak disimpan di rekening bank, uang itu justru ia letakkan di rumah, dibungkus kantong plastik sederhana.
“Kalau ada sisa, saya tabung lagi. Uangnya saya simpan di rumah, di kantong plastik,” kenangnya sambil tersenyum.
Baca Juga: Kelelahan dan Penyakit Penyerta Jadi Pemicu Tingginya Angka Kematian Jemaah Haji
Bagi sebagian orang, cara itu mungkin terdengar tidak biasa. Tetapi bagi Dawamah, kantong plastik itu menyimpan harapan besar: suatu hari ia dan suami bisa memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci.
Tahun demi tahun berlalu. Panas, hujan, dan lelah berdagang dijalani tanpa keluhan. Di sela berjualan, Dawamah juga mengikuti arisan untuk menambah simpanan biaya haji. Hingga akhirnya, pada 2012, tabungannya mencapai sekitar Rp55 juta.
Hari itu menjadi salah satu momen paling membahagiakan dalam hidupnya. “Setelah terkumpul, langsung saya pakai daftar haji,” ujarnya.
Baca Juga: PPIH Debarkasi Surabaya Berikan Layanan Khusus bagi Jemaah Lansia dan Pengguna Kursi Roda
Namun perjalanan mereka belum selesai. Setelah mendaftar, pasangan ini masih harus menunggu selama 14 tahun sebelum nama mereka benar-benar dipanggil berangkat. Penantian panjang itu akhirnya tuntas tahun ini, ketika keduanya tergabung dalam Kloter 53 asal Sidoarjo.
Di balik keriput wajah Dawamah dan Nur Hasan, tersimpan kisah tentang kesabaran yang tak pernah putus. Tentang mimpi yang dirawat dengan kesederhanaan. Dan tentang keyakinan bahwa jalan menuju Baitullah bisa dimulai dari mana saja, bahkan dari semangkuk lontong balap yang dijual setiap pagi. Kini, langkah kecil pasangan lansia itu sudah terbeli. (KF)
Editor : Redaksi