Potretkota.com - Ketika ratusan jamaah memadati Embarkasi Haji Surabaya, langkah pelan Maimunah mencuri perhatian. Di usia 91 tahun, perempuan asal Pulau Papagarang, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu akhirnya berangkat ke Tanah Suci bersama putranya, Harmin, seorang nelayan yang selama bertahun-tahun menyisihkan hasil melaut demi mewujudkan impian berhaji bersama sang ibu.
Di samping Maimunah, Harmin tampak setia mendampingi. Sesekali ia menggenggam tangan sang ibu, memastikan perempuan renta itu tetap nyaman menjalani setiap tahapan keberangkatan. Bagi Harmin, perjalanan menuju Baitullah bukan hanya tentang menunaikan rukun Islam kelima, tetapi juga bentuk bakti seorang anak kepada ibunya.
Baca Juga: Kelelahan dan Penyakit Penyerta Jadi Pemicu Tingginya Angka Kematian Jemaah Haji
Sebagai nelayan di pulau kecil, Harmin hidup dengan penghasilan yang tak menentu. Laut menjadi sumber penghidupan sekaligus saksi perjuangannya mengumpulkan biaya haji sedikit demi sedikit.
“Tergantung rezeki saja. Kalau ada, separuhnya kita sisihkan buat ongkos haji selama lima tahun,” ujarnya, Selasa (12/05/2025).
Harmin mulai mendaftar haji pada 2019, sementara sang ibu menyusul setahun kemudian. Sejak itu, sebagian hasil melaut selalu disimpan untuk mewujudkan impian mereka berdua berangkat ke Tanah Suci.
Baca Juga: PPIH Debarkasi Surabaya Berikan Layanan Khusus bagi Jemaah Lansia dan Pengguna Kursi Roda
Perjalanan menuju embarkasi pun bukan perkara mudah. Dari Pulau Papagarang, Harmin dan Maimunah harus menempuh perjalanan laut menggunakan perahu selama kurang lebih dua jam sebelum tiba di daratan dan melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. “Naik perahu laut, kurang lebih dua jam perjalanan,” katanya.
Meski telah berusia 91 tahun, Maimunah masih aktif menjaga kios sembako kecil di depan rumahnya. Kondisi itu membuat Harmin yakin ibundanya masih kuat menjalani seluruh rangkaian ibadah haji. “Insyaallah masih kuat,” ucapnya singkat.
Baca Juga: Cerita Tenaga Kesehatan Haji RS al-Irsyad Surabaya, dari Keterlambatan Visa Hingga ikut Ibadah
Di balik wajah tenangnya, Harmin menyimpan harapan sederhana. Ia ingin diberi kesehatan, keselamatan, dan kelancaran selama menjalankan ibadah bersama sang ibu di Tanah Suci. “Semoga diberikan keselamatan, panjang umur, banyak rezeki,” tuturnya.
Kisah Harmin dan Maimunah menjadi gambaran perjuangan masyarakat dari wilayah terpencil demi mewujudkan mimpi berhaji. Dari hasil melaut yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, seorang anak akhirnya mampu mengantar ibundanya menuju Baitullah di usia senja. (KF)
Editor : Redaksi