Potretkota.com - Suasana haru menyelimuti proses pemulangan jamaah haji Embarkasi Surabaya. Satu per satu rombongan tiba kembali di tanah air setelah menuntaskan rangkaian ibadah di Tanah Suci. Senyum bahagia keluarga yang menanti di Asrama Haji bercampur dengan kabar duka yang datang dari sebagian jamaah yang tidak sempat menyelesaikan perjalanan pulangnya.
Hingga hari kelima debarkasi, tercatat 49 jamaah haji Embarkasi Surabaya meninggal dunia. Sebanyak 47 orang wafat saat menjalankan ibadah haji di Arab Saudi, sementara dua jamaah lainnya meninggal dalam perjalanan kembali ke Indonesia. Satu jamaah mengembuskan napas terakhir di dalam pesawat, sedangkan seorang lainnya meninggal saat berada di dalam bus menuju Asrama Haji Surabaya.
Baca Juga: PPIH Debarkasi Surabaya Berikan Layanan Khusus bagi Jemaah Lansia dan Pengguna Kursi Roda
Di balik angka tersebut, tersimpan cerita tentang perjuangan fisik para jamaah, terutama mereka yang masuk kelompok risiko tinggi. Usia lanjut dan penyakit penyerta menjadi faktor yang paling banyak ditemukan pada jamaah yang wafat.
Kepala Bidang Kesehatan PPIH Debarkasi Surabaya, Rosidi Roslan, mengatakan sebagian besar jamaah yang meninggal merupakan kelompok risiko tinggi atau risti. Mereka umumnya berusia lanjut dan memiliki riwayat penyakit kronis yang membutuhkan perhatian khusus.
Meski telah dinyatakan memenuhi syarat kesehatan atau istithaah sebelum keberangkatan, kondisi tubuh jamaah dapat berubah selama menjalani ibadah haji. Aktivitas yang padat, perjalanan panjang, serta tuntutan fisik selama berada di Tanah Suci menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi jamaah lanjut usia.
“Sebagian besar yang meninggal adalah jamaah risiko tinggi, terutama yang berusia lanjut dan memiliki penyakit penyerta,” ujar Rosidi.
Ibadah haji bukan sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga perjalanan fisik yang menguji ketahanan tubuh. Di tengah suhu panas Arab Saudi yang dapat mencapai puluhan derajat Celsius, para jamaah harus menjalani berbagai rangkaian ibadah yang memerlukan tenaga dan stamina prima.
Kelelahan menjadi salah satu faktor yang paling sering memicu gangguan kesehatan. Penyakit yang sebelumnya masih terkendali dapat kambuh atau memburuk ketika tubuh mengalami penurunan kondisi akibat aktivitas yang terus-menerus.
Baca Juga: Cerita Tenaga Kesehatan Haji RS al-Irsyad Surabaya, dari Keterlambatan Visa Hingga ikut Ibadah
Menurut Rosidi, perubahan iklim yang cukup drastis antara Indonesia dan Arab Saudi turut memberikan tekanan tambahan bagi kondisi kesehatan jamaah. Terlebih bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung, hipertensi, diabetes, maupun gangguan pernapasan.
Data PPIH Debarkasi Surabaya menunjukkan lebih dari 70 persen jamaah haji tahun ini masuk kategori risiko tinggi. Kondisi tersebut membuat pengawasan kesehatan menjadi salah satu aspek penting selama penyelenggaraan ibadah haji.
Puncak peningkatan kasus kematian terjadi setelah fase Armuzna, yakni rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Fase ini dikenal sebagai tahapan yang paling menguras energi karena jamaah harus menjalani berbagai aktivitas dalam waktu yang relatif singkat dengan kondisi cuaca yang panas.
“Setelah fase Armuzna, kondisi fisik jamaah banyak yang menurun karena aktivitas yang sangat padat dan menguras tenaga,” ungkap Rosidi.
Baca Juga: Jamaah Haji Kloter 1 Asal Probolinggo Tiba di Surabaya
Di tengah keberhasilan ribuan jamaah kembali ke tanah air dengan selamat, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ibadah haji membutuhkan persiapan yang tidak hanya matang secara spiritual, tetapi juga fisik. Kebugaran tubuh menjadi modal penting agar jamaah mampu menjalani seluruh rangkaian ibadah dengan aman.
Karena itu, PPIH Debarkasi Surabaya mengimbau calon jamaah pada musim haji mendatang untuk mulai menjaga kesehatan jauh sebelum keberangkatan. Latihan fisik rutin, pengendalian penyakit kronis, serta pemeriksaan kesehatan berkala menjadi langkah penting untuk mempersiapkan diri menghadapi perjalanan ibadah yang panjang.
Sementara proses pemulangan jamaah masih terus berlangsung, petugas kesehatan tetap siaga memantau kondisi para jamaah yang baru tiba dari Arab Saudi. Di balik setiap kepulangan, tersimpan harapan agar seluruh tamu Allah dapat kembali ke tanah air dalam keadaan sehat, berkumpul kembali bersama keluarga, dan membawa pulang kemabruran yang telah diperjuangkan di Tanah Suci. (KF)
Editor : Redaksi