Potretkota.com – Perkembangan teknologi telah mengubah wajah peperangan modern. Ancaman tidak lagi hanya datang dari kapal perang, pesawat tempur, atau rudal, tetapi juga dari pesawat nirawak berukuran kecil yang mampu menyerang secara serentak dalam formasi swarm drone. Menjawab tantangan tersebut, Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) terus memperkuat riset di bidang teknologi pertahanan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) melalui pengembangan drone kamikaze First Person View (FPV).
Inovasi yang dikembangkan oleh dosen dan mahasiswa STTAL ini diproyeksikan menjadi bagian dari strategi peperangan modern TNI Angkatan Laut dalam menghadapi ancaman perang gerilya di laut. Pemanfaatan teknologi AI pada sistem tanpa awak diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pertahanan maritim sekaligus memperkuat kesiapan operasional armada TNI AL.
Baca Juga: ARSAS Soroti Rasa Keadilan dalam Seleksi PPDB Surabaya 2026
Drone kamikaze FPV tersebut dirancang sebagai bagian dari sistem pertahanan berlapis kapal perang. Pada lapis pertama, ancaman dihadapi melalui sistem electronic jamming untuk mengganggu komunikasi dan navigasi drone lawan. Apabila terdeteksi serangan swarm drone, kapal akan menerbangkan drone kamikaze FPV dalam jumlah lebih besar untuk mencegat sekaligus menghancurkan drone penyerang sebelum mencapai sasaran.
Jika ancaman masih berlanjut, sistem pertahanan akan beralih pada penggunaan persenjataan organik kapal perang. Sebagai lapisan terakhir, personel yang telah ditempatkan di sepanjang geladak sesuai sektor tembak akan menghadapi ancaman yang berhasil menembus sistem pertahanan sebelumnya.
Selain diproyeksikan untuk mendukung operasi tempur, drone kamikaze FPV juga dimanfaatkan sebagai media latihan. Melalui simulasi pola swarm attack, sejumlah drone diterbangkan untuk mensimulasikan serangan terhadap Kapal Republik Indonesia (KRI) maupun pangkalan TNI Angkatan Laut. Metode ini memberikan pengalaman latihan yang lebih realistis bagi prajurit dalam menghadapi karakter peperangan modern tanpa harus menggunakan amunisi.
Teknologi tersebut juga memiliki potensi besar dalam mendukung operasi amfibi. Dengan kemampuan menyerang sasaran bergerak secara presisi, drone FPV mampu menjangkau target yang sulit dihancurkan menggunakan meriam maupun sistem persenjataan kapal konvensional.

Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Muhammad Ali, menegaskan bahwa pengembangan teknologi pertahanan merupakan salah satu fokus utama STTAL sebagai perguruan tinggi di bawah TNI Angkatan Laut. "STTAL memang diutamakan untuk mengembangkan teknologi kemaritiman yang mendukung kebutuhan pertahanan dan peperangan," ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Baca Juga: Krisis Pendidikan dalam Perspektif Freire dan Ki Hadjar Dewantara
Menurutnya, perkembangan teknologi militer dunia menunjukkan bahwa penggunaan sistem tanpa awak akan semakin mendominasi berbagai operasi militer. Oleh karena itu, riset di bidang kecerdasan buatan dan unmanned system harus terus diperkuat.
"Saat ini pengembangan sudah menggunakan basis Artificial Intelligence dan unmanned system karena peperangan modern semakin banyak menggunakan sistem tanpa awak yang efektif dan efisien," katanya.
Selain teknologi AI dan sistem tanpa awak, STTAL juga terus mengembangkan riset di bidang siber serta hidro-oseanografi. Kedua bidang tersebut dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung operasi pertahanan maritim, terutama mengingat luasnya wilayah perairan Indonesia dan kompleksitas tantangan keamanan di laut.
"Kami juga mengembangkan kemampuan di bidang siber dan hidro-oseanografi karena pemahaman kondisi perairan Indonesia sangat penting bagi pertahanan maritim," tambahnya.
Baca Juga: Hakim Tipikor Putus Dua Kepala PKBM asal Pasuruan Korupsi
Muhammad Ali berharap inovasi yang dihasilkan dosen dan mahasiswa STTAL tidak berhenti sebagai penelitian akademik semata, tetapi dapat diimplementasikan dalam pengembangan taktik, strategi, dan sistem pertahanan TNI Angkatan Laut di masa depan.
"Ke depan kami berharap mereka mampu menciptakan inovasi baru untuk mengembangkan taktik dan strategi peperangan modern," tuturnya.
Pengembangan drone kamikaze FPV menjadi salah satu wujud transformasi STTAL sebagai pusat pengembangan teknologi pertahanan maritim. Melalui kolaborasi antara pendidikan, penelitian, dan kebutuhan operasional, STTAL terus mendorong lahirnya inovasi karya anak bangsa yang adaptif terhadap dinamika peperangan modern serta mampu memperkuat kemandirian teknologi dan kesiapan pertahanan TNI Angkatan Laut menghadapi tantangan masa depan. (KF)
Editor : Redaksi