Potretkota.com - Sambut tahun baru cina atau imlek yang jatuh pada 5 Februari mendatang, penjualan Kim Cua atau kertas yang juga diartikan sebagai uang dewa, untuk perlengkapan persembahyangan umat Tri Dharma laris terjual.
Menurut Mustofa pemilik toko di Klenteng Hong Tek Hian jalan Dukuh Surabaya, penjualan Kim Cua yang dibuat dalam aneka bentuk ini meningkat hingga 15 persen, dibandingkan hari biasa. Tak heran, dalam sehari kertas Kim Cua mampu terjual hingga ribuan lembar.
Baca Juga: Lentera Bernyanyi dan Bunga Artificial Tren Dekorasi Idul Fitri
“Harga kertas Kim Cua tergantung kekuatan ekonomi para jemaat klenteng. Untuk Kim Cua berbentuk teratai biasa dijual dengan harga Rp 5000, sedangkan bentuk teratai emas dan nanas biasa dijual Rp 150 - Rp 200 ribu. Dalam bentuk perahu naga biasa dijual dengan harga Rp 1 sampai Rp 1,2 juta,” kata Mustofa.
Sementara Hardianto, salah satu umat Tri Dharma saat bersembahyang diklenteng mengaku, membakar kertas Kim Cua sudah menjadi tradisi saat ibadah tahun baru imlek. Dan diyakini dapat meningkatkan rejeki dan kemakumran serta dijauhkan dari musibah.
Baca Juga: Pelindo Regional 3 Bantu 85 Lebih Ekor Sapi Kurban
“Untuk melindungi kita ya dewa-dewalah. Ya kita percaya bahwa ini bermakna karena turun temurun yang mempunyai lambang kemakmuran, kita berharap tahun baru Imlek bisa lebih makmur. Saya berharap keluarga sehat semua dan negara bisa makmur dan damai,” Hardianto.
Tidak hanya kertas Kim Cua, lilin merah yang diyakini menjadi penerang hoky bagi Umat Tri Dharma ini pun juga mengalami peningkatan penjualan dibandingkan dengan hari-hari biasa.
Lilin merah berukuran sedang yang biasa dibeli para pesembayang dijual dengan harga Rp 750 ribu, sementara untuk lilin merah yang paling mahal setinggi 2 meter harga jualnya bisa mencapai Rp 18 juta - Rp 20 juta.
Baca Juga: Jangan Paksakan Kurban di Tengah Wabah PMK
Untuk lilin merah seharga Rp 20 juta biasanya telah dipesan terlebih dahulu oleh para pembelinya. Lilin tersebut diyakini warga Tionghoa sebagai penerang kehidupan, baik hoky maupun rezeki. (Jar)
Editor : Redaksi